Awas Serangan Vertigo saat Berkendara

Ilustrasi vertigo (Me First Living)
08 Januari 2019 16:45 WIB Arif Fajar Setiadi Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Jalannya sempoyongan sambil berpegangan dinding ruangan. Ia jalan perlahan untuk mencapai tempat duduk di meja kerjanya. Kenapa teman saya ini. Mabuk? Ah enggak mungkin. Karena dia anak baik-baik dan mana berani ambil risiko untuk dipecat.

Sambil matanya terpejam, di duduk dan menyandarkan kepalanya. Beberapa menit berselang dia pun akhirnya membuka mata. Kemudian meraih gelas berisi air putih di pojok mejanya. Setelah terlihat tenang, saya pun mencoba mendekatinya karena ingin tahu, kenapa dia berjalan sempoyongan.

“Enggak tahu rasanya sekitarku berputar sehingga aku seperti kehilangan keseimbangan. Jalanku sempoyongan dan pelan karena takut jatuh. Tapi sekarang sudah agak baikan,” ujar dia coba menjelaskan kondisi yang barusan dialaminya.

Apa yang dialami temanku mungkin vertigo. Ya, saya sempat baca artikel tentang vertigo, saat mengalaminya seperti merasakan benda-benda di sekitarnya bergerak atau dirinya yang merasa berputar sehingga keseimbangan terganggu.

“Iya vertigo adalah sebuah ilusi dari gerakan seseorang atau benda-benda di sekitarnya. Sensasi gerakannya bisa rasa berputar [vertigo vestibular] bisa juga bukan berputar tapi seperti melayang dan goyang [vertigo novestibular]. Jadi seperti jalan pas gempa,” terang dokter spesialis saraf, A. Tri Budi Raharjo, MSi. Med., ketika ditemui Solopos.com, di ruang praktiknya di RS Kasih Ibu Solo, Selasa (4/12/2018).

Sebagai gambaran bagaimana rasanya ketika seseorang terkena vertigo, cobalah Anda memutar tubuh beberapa kali (seperti mainan waktu kecil) dan merasakan kondisi yang dihasilkan. Anda akan kehilangan keseimbangan, sehingga kesulitan untuk sekadar berdiri atau bahkan berjalan.

Menurut dia, vertigo ada dua jenis, yakni vertigo vestibular dan vertigo nonvestibular. Vertigo vestibular adalah vertigo yang sering banyak terjadi. Penyebabnya karena disfungsi vestibular yang menimbulkan vertigo perifer dan vertigo sentral.

Vertigo perifer, lanjutnya, merupakan jenis vertigo yang paling sering dialami oleh kebanyakan orang. Penyebab vertigo periferal diakibatkan adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan tubuh. Vertigo sentral, tambahnya, berbeda dengan vertigo perifer yang disebabkan oleh gangguan pada telinga dan organ keseimbangan. Vertigo sentral terjadi akibat adanya masalah pada otak. Bagian otak yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini adalah cerebellum atau otak kecil.

“Kemudian untuk vertigo nonvestibular, ada vertigo karena disfungsi visual atau penglihatan dan disfungsi proprioseptif [kulit, otot, dan persendian],” jelas dr. Tri Budi.

Untuk vertigo vestibular, keluhan dari penderitanya adalah sensasi berputar dengan durasi serangan episodik. Pencetus vertigo ini adalah gerakan kepala atau gerakan badan, gejala penyertanya mual, muntah, keluar keringat dingin. Sedangkan vertigo nonvestibular, keluhan penderitanya merasa goyang, melayang, dan mengambang. Durasi serangan konstan dan pencetusnya adalah stres, hiperventilasi, dan aritmia. Gejala penyertanya penderita terlihat pucat.

Menurut dr. Tri Budi, siapa saja bisa terkena serangan vertigo. Vertigo memang jarang membahayakan, tapi perlu diwaspadai risiko jatuh. Jatuh adalah risiko yang paling berbahaya dari gangguan keseimbangan tubuh. “Berbahaya ketika serangan vertigo terjadi saat berkendara, tiba-tiba jatuh bisa menyebabkan kecelakaan,” ujarnya.

Kenali Penyebab Vertigo Perifer dan Vertigo Sentral

Terdapat dua jenis vertigo yakni vertigo perifer dan vertigo sentral. Vertigo perifer merupakan jenis vertigo yang paling sering dialami kebanyakan orang. Penyebab vertigo perifer adalah adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan tubuh.

Vertigo perifer juga disebabkan beberapa hal lain. Seperti Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Menurut dr. Tri Budi, BPPV atau kanalitiasis menjadi penyebab vertigo paling umum (50%). BPPV adalah kondisi vestibular telinga dalam mengalami gangguan dan dipicu oleh perubahan posisi dan gerakan kepala secara tiba-tiba.

“Seperti perubahan posisi kepala dari tegak menjadi menunduk tiba-tiba. Bangun tidur mendadak tidak duduk dulu di tepi kasur namun langsung berdiri, serta gerakan mendongakkan kepala, serta tidak pernah olahraga,” terang dr. Tri Budi kepada Solopos.com, Selasa (4/12/2018).

Penyebab lainnya adalah karena cedera kepala. Orang yang mengalami cedera kepala sebelumnya, bisa saja mengalami gangguan telinga dalam yang kemudian menyebabkan vertigo. Penyebab vertigo perifer lainnya, adalah ketika seseorang yang mengalami peradangan dan infeksi di bagian telinga dalam.

Infeksi telinga bagian dalam biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri, misalnya pada pengidap flu atau pilek. Biasanya disertai gejala lain seperti mual, muntah, kehilangan kemampuan pendengaran, nyeri pada telinga, serta demam.

Kemudian karena vestibular neuronitis, yakni peradangan pada bagian saraf telinga yang terhubung langsung dengan otak. Peradangan ini diakibatkan oleh infeksi virus. Terakhir adalah penyakit meniere yang merupakan penyakit langka yang menyerang telinga bagian dalam. Kondisi ini bisa menjadi penyebab vertigo yang sangat parah.

 Vertigo Sentral

Jenis vertigo lainnya, adalah vertigo sentral. Beberapa kondisi menjadi penyebab vertigo sentral. Vertigo sentral terjadi akibat adanya masalah pada otak. Bagian otak yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini adalah cerebellum atau otak kecil. Seperti pada stroke vertebrobasiliar. 

Penyebab lainnya, multipel sklerosis merupakan gangguan sinyal saraf yang terjadi pada sistem saraf pusat –otak dan tulang belakang– yang diakibatkan oleh kesalahan pada sistem kekebalan tubuh seseorang. Migrain atau sakit kepala sebelah tidak tertahankan disertai dengan rasa nyeri berdenyut dan sering dialami oleh orang berusia muda juga menjadi penyebab vertigo. Hal ini juga bisa disebabkan konsumsi jenis obat tertentu, merokok, dan minum minuman beralkohol.