Tips Memilih Sekolah untuk Anak

Kegiatan belajar mengajar di sekolah (Solopos/M. Ferri Setiawan)
09 Januari 2019 07:05 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Iklim pendidikan saat ini jamak menilai keberhasilan studi anak ditakar dari hasil ujian mereka. Padahal sudah banyak bukti ilmiah menyoroti dampak buruk dari menguji standar kualitas pendidikan dengan ujian semata.

Agar tak terjebak konsep menyesatkan melihat sekolah sebagai tempat mencari nilai terbaik semata, Jurnal terbitan International Studies In Sociology of Education seperti yang dilansir The Conversation patut jadi pertimbangan orang tua saat memilih sekolah untuk buah hatinya.

Dalam jurnal tersebut, disampaikan dampak buruk dari budaya sekolah yang fokus berorientasi pada nilai ujian bagus bisa berdampak fatal pada identitas anak. Padahal aspek terpenting dari kehidupan sekolah adalah relasi yang dibangun anak dengan guru dan teman mereka.

Bagi anak-anak, pertemanan yang aman dan berkelanjutan terkait dengan perasaan percaya diri dan harga diri. Anak-anak juga bisa lebih beradaptasi dengan sekolah dan bisa membentuk nilai positif di sekolah yang berguna bagi modal mereka menghadapi tantangan zaman.

Sekolah yang mendukung anak-anak belajar menjalin pertemanan dan hubungan sosial dengan sekitar dapat menjadi sarana mengajarkan kehidupan penting dan pelajaran sosial buat anak-anak. Pada akhirnya, tempat menimba ilmu tersebut menjadi sarana ideal mengasah potensi mereka.

Mengingat pentingnya aspek pertemanan dekat yang dibina pada masa sekolah anak bisa jadi modal sosial mereka, orang tua perlu menimbang sejumlah faktor di luar prestasi sekolah, biaya pendidikan, jarak dari rumah ke sekolah, sampai jenis ekstrakurikulernya yang melimpah. Pertimbangan bisa mulai dilakukan saat kita berkunjung ke sekolah incaran. Berikut beberapa di antaranya:

1. Amati gaya berkomunikasi
Coba bicara dengan kepala sekolah atau tim manajemen setempat. Di situ kita bisa menakar bagaimana institusi setempat bisa menjadi menjadi panutan bagi buah hati kita. Lihat juga cara mereka berinteraksi dengan staf dan anak-anak. Apakah mereka mengenal anak-anak sebagai individu dan memahami latar belajang mereka? Ini semua penting untuk memberikan gambaran apakah konsep sekolah setempat sesuai dengan pertimbangan kita.

2. Perhatikan relasi antaranak
Terdapat penelitian yang menunjukkan perbedaan umum antara grup pertemanan anak perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki cenderung membentuk kelompok sosial luas dan berbeda. Sedangkan anak perempuan lebih membentuk kelompok yang anggotanya punya kemiripan satu sama lainnya, di sinilah pengucilan kerap terjadi.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, kita bisa melihat interaksi anak-anak dengan sebaya maupun orang dewasa di kelas atau sekolah. Amati juga bagaimana mereka bekerja sama. Apakah ada praktik pengelompokan berdasarkan pertimbangan tertentu seperti gender.

3. Pola bermain
Tempat menimba ilmu krusial membentuk pengalaman anak tentang sekolah. Tak cuma saat belajar, cara anak-anak di sekolah menghabiskan waktu istirahat juga jadi indikator nyata bagaimana anak-anak berinteraksi dengan caranya sendiri. Lewat cara tersebut, ikatan emosional dan respons anak-anak terbentuk. Taman bermain sebagai salah satu fasilitas di sekolah juga memainkan peran penting dalam proses ini.

4. Kesejahteraan emosional
Pertemanan dan hubungan sosial signifikan mempengaruhi perasaan anak terhadap konsep inklusi dan eksklusi di sekolah. Penting bagi orang tua mempertimbangkan bagaimana sekolah menyediakan kesejahteraan emosional dan sosial bagi muridnya. Perhatikan bagaimana sekolah mengangani anak-anak yang kesulitan berteman atau menjalin persahabatan. Pertanyakan juga apakah anak-anak punya model bermain bersama, belajar bergiliran, sampai berbagi? Bagaimana misi dan filosofi sekolah untuk pembelajaran? Sampai sumber daya apa saja yang bisa mendukung konsep tersebut?

5. Perhatikan pajangan dinding sekolah
Pajangan dinding di sekolah secara instan memberikan indikasi bagaimana nilai-nilai di sekolah dipraktikkan. Dari situ terlihat bagaimana anak-anak dikelola seperti memberikan tembok khusus penghargaan untuk anak-anak, bukan sekadar prestasi akademis tapi juga anak-anak yang sudah berhasil mempraktikkan nilai sosial dan moral ajaran sekolah.