Anak Anda Sulit Berkonsentrasi Saat Belajar? Begini Cara Mengatasinya

Ilustrasi anak/anak belajar mewarnai. (Solopos/M. Ferri Setiawan)
12 Januari 2019 17:30 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Musim ujian sekolah tak hanya bikin murid deg-degan tapi juga membuat kalangan orang tua harap-harap cemas. Sebab tak semua anak terbiasa belajar dengan rutin sehingga orang tua perlu ekstra mendampingi agar anak mereka siap menghadapi tes.

Psikolog dari Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Solo, Rina Jayanti, menyebut ada beberapa keluhan paling umum orang tua yang disampaikan kepada psikolog terkait kondisi akademis putra dan putri mereka.

Beberapa di antaranya anak sulit berkonsentrasi, tidak bisa fokus, sering lupa tugas sekolah, lambat menyelesaikan pekerjaan sekolah, tidak termotivasi, mudah marah, agresif, sampai melanggar peraturan sekolah.

Untuk menanganinya, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya. Salah satu langkah awalnya dengan menanyai anak. Setelah itu baru dilanjutkan observasi untuk memahami penyebab kesulitan belajar anak misalkan suasana belajar, lingkungan keluarga, teman bermain, atau faktor internal.

Guna mendeteksi faktor internal ini, psikolog biasanya menerapkan tes psikologi untuk menakar kemampuan belajar anak. Ada kalanya gangguan datang bukan karena faktor eksternal melainkan akibat disleksia, diskakulia, sampai disgrafia.

Gangguan juga bisa datang karena keterbatasan potensi kecerdasan, hambatan fisik, kelainan sensoris, disabilitas intelektual, potensi kecerdasan di atas rata-rata, atau gangguan perilaku seperti ADHD atau ADD. Untuk mengintervensi hal tersebut, orang tua tentu perlu mendapatkan dukungan medis agar mendapatkan penanganan tepat.

Bagi orang tua yang memiliki gangguan konsentrasi dan fokus lebih umum, Psikolog Jamie M. Howard dari Child Mind Institute Ameriksa Serika punya beberapa kiat. Menurutnya, konsentrasi ibarat otot yang butuh dilatih. Beberapa anak terlahir dengan konsentrasi lebih kuat ketimbang bocah lainnya.

“Semua anak bisa belajar melatih konsentrasi dan fokus agar mereka punya perhatian yang berkelanjutan. Ini tidak hanya berguna di sekolah tapi juga untuk kegiatan sehari-hari mereka. Dampaknya untuk jangka panjang bisa positif untuk kepercayaan diri mereka kelak,” jelas Howard, seperti dilansir pbs.org.

Konsentrasi merupakan bagian kesadaran di mana pengelolanya mampu memperhatikan satu hal pada suatu momen. Berpikir terfokus bisa memberi manfaat bagi kesehatan mental. Selain berhubungan dengan peningkatan kebahagiaan, efeknya juga menjalar pada pengelolaan stres sampai peningkatan prestasi.

Berikut beberapa kiat untuk melatih fokus belajar anak:

1. Biasakan anak latihan fokus mengerjakan sesuatu sejak dini. Anak usia empat sampai lima tahun biasanya mulai belajar fokus pada sesuatu selama lima sampai 20 menit tergantung kegiatan. Dari usia ini anak bisa dilatih untuk merampungkan suatu tugas.

2. Kerjakan satu tugas dalam satu waktu. Kita mungkin kerap mengagung-agungkan konsep multitasking dalam kehidupan. Tapi hasil penelitian sudah jelas: multitasking mengurangi konsentrasi. Kerjakan satu per satu tugas dengan urutan khusus. Misalkan yang paling disenangi menuju paling tidak sukai.

3. Sediakan tempat dan waktu belajar khusus. Anak dengan gangguan konsentrasi membutuhkan distraksi minimal. Misalkan, desain ruang belajar anak berada di dekat televisi atau telepon atau laptop yang sering digunakan anak, tentu saja anak akan memilih hal yang disukainya ketimbang belajar. Orang tua perlu mengontrol, cara paling gampang dengan mematikan koneksi internet atau meminimalkan distraksi.

4. Bikin sesi istirahat seru. Setelah konsentrasi cukup lama untuk belajar di rumah, anak-anak bisa bangun dan geser dari tempat belajarnya untuk rehat sejenak. Berikan waktu istirahat untuk menyiapkan fokus mereka kembali. Kita bisa menyiapkan camilan kesukaan atau bermain sejenak. Anak remaja bisa mengecek percakapan dengan temannya di telepon. Setelah itu, arahkan anak kembali belajar.

5. Bikin tugas besar jadi lebih simpel sehingga lebih gampang dikelola. Strategi ini membantu anak memahami tugasnya. Kadang anak kesulitan mengikat tali sepatu. Tapi kita bisa melatih dengan arahan membuat ikatan pertama sebelum menali sepatu, lanjut dengan membuat dua lingkaran tali, sampai diikay menjadi satu. Cara melatih konsentrasi juga bisa dilakukan seperti itu. Misalkan ada materi buku mengenal kuda. Berikan anak waktu 15 menit untuk menulis dan memahami fakta di balik kuda.

6. Latih anak mengamati yang terjadi saat ini. Anak gampang terdistraksi dengan stimulan internal seperti ingatan menyenangkan atau lamunan. Kendati imajinasi anak adalah anugerah, namun hal itu juga menjadi distraksi yang menghambat kosentrasi. Cara untuk mengatasi kondisi ini dengan melatih fokusnya. Ajak anak mengobservasi objek di sekelilingnya, mendengarkan lirik, atau menaruh perhatian pada suatu hal bersama.