Rutin Olahraga Bukan Jaminan Bebas Stroke

Ilustrasi olahraga (thenest)
14 Januari 2019 18:05 WIB Newswire Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO-Tak sedikit pesohor  terkena stroke meski pun mereka rajin olahraga. Menurut dokter Alvin Nursalim dari situs Klik Dokter, olahraga bukan jaminan bisa bebas stroke. Meskipun sudah menjaga pola makan dan pola aktivitas sehari-hari, rupanya tak menutup kemungkinan orang bisa menderita penyakit yang terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otak.

"Seseorang yang beranggapan sudah berolahraga pasti terbebas dari stroke, jawabannya tidak. Orang tersebut masih belum bisa dibilang terbebas mutlak dari kemunginan stroke yang menyerang," kata Alvin dikutip Health Liputan6.com pada Senin (14/1/2019).

Olahraga, lanjut Alvin, memang punya segudang manfaat bagi tubuh sehingga kita selalu dianjurkan untuk melakukannya, minimal tiga kali selama satu minggu. Akan tetapi perlu dipahami juga, riwayat penyakit tertentu, seperti tekanan darah tinggi, yang tak terkontrol membuat olahraga tak berarti apa-apa.

"Karena itu dianjurkan bagi semua orang untuk memulai pemeriksaan fisik rutin pada usia 40 [tahun]," ujarnya.

Hal serupa  juga diungkapkan spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Premier Bintaro, dr Hario Tilarso. Menurut dia, serajin apa pun seseorang berolahraga jika tak pernah memeriksakan kondisi kesehatannya, yang ternyata berisiko untuk mengalami stroke, tetap berisiko kena stroke.

"Olahraga itu banyak manfaatnya. Olahraga bisa memperkuat jantung, melebarkan pembuluh darah yang mengecilkan kemungkinan serangan jantung, kemudian menguatkan otot, menurunkan gula darah jadi buat orang diabetes bagus sekali, menurunkan tekanan darah, kemudian mengurangi kemungkinan osteoporosis, dan bakar lemak sudah pasti," kata Hario.

Manfaatnya memang sangat banyak. Akan tetapi, lanjut Hario, kalau ada faktor lain yang berperan lebih dari itu, misalkan orang itu memang keturunan dari keluarganya yang secara genetik memiliki riwayat penyakit tersebut, kemungkinan stroke menyerang terbuka lebar.

Hario pun mengingatkan agar orang-orang yang sudah berusia 40 tahun untuk tidak sekadar rajin berolahraga, tapi juga mulai cek kesehatan rutin. "Patokannya biasanya usia 40 [tahun] ke atas," katanya.

Dokter akan menyarankan olahraga apa saja yang harus dilakukan. Biasanya, pada pasien stroke, olahraganya tetap sama seperti orang normal. Hanya saja, harus diimbangi dengan obat-obatan yang memang harus dia konsumsi. "Olahraganya sama saja. Kardio biasanya. Cuma akan selalu diingatkan untuk jangan lepas dari obat-obatan," katanya.

"Enggak sulit olahraganya. [Durasinya] 20 sampai 60 menit dengan intensitas yang tidak terlalu melelahkan, dan dilakukan tiga kali seminggu," ujarnya.