Punya Banyak Mainan Justru Bikin Anak Kurang Kreatif

Anak-anak bermain di wahana permainan di kompleks Taman Balekambang Solo, Jumat (21/12 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
17 Januari 2019 17:05 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Dunia anak-anak memang bermain. Tapi sejumlah rekomendasi pakar menyebut tidak melulu dengan mainan yang tersedia di pasaran. Anak-anak yang dilimpahi terlalu banyak mainan justru memiliki kecenderungan tidak bisa menikmati mainannya.

Argumen tersebut lahir dari penelitian yang dilakukan pakar tumbuh kembang anak dari Universitas Toledo di Ohio, Amerika Serikat. Mereka meneliti 36 anak balita.

Para bocah diarahkan untuk bermain di sebuah ruangan selama 1,5 jam dengan opsi empat mainan dan 16 mainan. Mereka juga diajak bermain dengan sebaya dan kembali disuruh memainkan mainannya.

Berdasarkan hasil pengamatan para ahli, diperoleh fakta anak-anak lebih kreatif ketika bermain dengan sedikit ragam mainan. Mereka menyarankan para orang tua, sekolah, atau pengasuh untuk mengemasi mainan anak-anak yang bermanfaat dan merotasinya secara berkala.

Kebiasaan tersebut efektif melatih fokus dan perhatian anak-anak. “Studi ini menjelaskan dampak banyaknya mainan dengan perilaku anak-anak,” jelas Dr. Carly Dauch, perwakilan tim riset dalam pengantar jurnalnya, seperti dilansir Telegraph.co.uk.

Lebih lanjut Dauch menjelaskan pada fase tumbuh kembang anak, perhatian gampang sekali terganggu dengan mainan dan lingkungan sekitar.

“Saat diberi mainan lebih sedikit, anak-anak dilatih ketelatenan berinteraksi. Hal itu memengaruhi ketrampilan fokus anak dan melatih kreativitas mereka,” imbuhnya.

Riset tersebut juga mengungkapkan sebagian warga yang disurvei anak-anaknya memiliki 238 jenis mainan. Dari jumlah tersebut, mainan favorit atau yang paling disukai hanya 12 alias tak lebih dari 5% dari total mainan.

Temuan sejumlah peneliti Amerika Serikat ini bukan kali pertama disampaikan. Sebelumnya, peneliti dari Jerman menemukan fakta sejenis pada 1990an lalu. Elke Schubert dan Rainer Strick membuat penelitian dengan cara menyingkirkan mainan di salah satu tempat penitipan anak selama tiga bulan.

Baru beberapa pekan berjalan, anak-anak di sana beradaptasi dengan cara bermain lebih kreatif dan berinteraksi satu sama lain. Temuan itu dipublikasikan lewat buku The Toy-free Nursery.

Dampak mainan berlebihan bagi anak juga mempengaruhi cara mereka menghargai konsep kepemilikan.

“Anak jarang belajar menghargai mainan kalau mereka punya banyak cadangan. Saat mainan berlimpah, secara alamiah mereka enggan merawat mainannya. Sedangkan mainan sedikit bisa mengajari mereka banyak akal dengan mengkreasikan apa yang dipunyai,” ulas Joshua Becke lewat bukunya ClutterFree with Kids.

Sementara itu, Yourmodernfamily.com mengulas terkadang banyak orang tua yang tidak punya ide lain untuk diberikan buat anak selain mainan. Padahal di selain pengalaman, anak-anak juga perlu dilimpangi kenangan. Berikut beberapa di antaranya:

1. Buat foto album tahunan mulai dari lahir, sebulan, dua bulan, dan seterusnya. Siapkan juga album foto pengalaman pertama misalkan makan pertama, langkah pertama bisa berjalan, pertama bisa naik sepeda, pertama ke bioskop, dsb.

2. Makanan terbaik untuk anak-anak adalah masakan rumahan yang higienis dengan komposisi sesuai kebutuhan gizi mereka. Namun aktivitas makan di luar sesekali dalam sebulan juga bisa menjadi rekreasi buat mereka. Berikan voucher makan di luar untuk event spesial mereka bisa jadi hadiah berkesan.

3. Ide lain untuk mengapresiasi anak bisa berwujud tiket museum, taman bermain, atau kolam renang kesukaan mereka.

4. Ajak si kecil bertualang bersama misalkan piknik ke taman tengah kota, kemah di gunung atau pantai, atau petualangan seru lainnya.

5. Kirim anak mengikuti kelas seni, olahraga, menari, atau sarana mengekspresikan diri lain yang bisa mengakomodasi talenta si kecil.

6. Libatkan si kecil untuk memasak bersama misalkan pada hari libur. Orang tua bisa mengajak anak bikin kue atau masakan kesukaan keluarga.

7. Beberapa keluarga merupakan tipe rumahan. Ada kalanya mereka lebih suka tinggal di rumah. Dengan mainan terbatas, kita bisa ajak si kecil bikin proyek sains unik bareng atau bikin mainan sendiri berbekal aneka artikel kreatif di internet.