Gejala Kecanduan Internet Sama dengan Kecanduan Narkoba?

Ilustrasi anak mengakses situs melalui jaringan internet. (Antara)
30 Januari 2019 10:10 WIB Eva Rianti Lifestyle Share :

Solopos.com, JAKARTA - Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kecanduan internet memiliki gejala serupa dengan kecanduan narkoba. Hal ini menjadi perhatian global mengingat bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam hidup sehari-hari di era ini.

Dilansir dari Reuters, Senin (28/1/2019), ada cerita menggelitik yang mengisahkan tentang seorang remaja yang mengalami kecanduan internet dan menjalani proses penyembuhan melalui program perawatan khusus di Amerika Serikat. Berikut kisahnya.

Danny Reagan, 13, telah menunjukkan tanda-tanda yang dokter sebut kecanduan narkoba. Dia menjadi seorang yang mudah gelisah, tertutup, dan menarik diri dari lingkungan. Dia telah vakum dari kegiatan baseball dan pramuka, serta berhenti mengerjakan pekerjaan rumah dan rutinitas mandi.

Tapi, Reagan tidak mengonsumsi narkoba. Dia hanya terpikat pada Youtube dan video game. Seperti yang dikonfirmasi oleh para dokter, Reagan kecanduan internet.   “Setelah saya mendapatkan konsol saya, saya jatuh cinta padanya. Saya suka bisa melupakan segala hal dan hanya bersantai,” ujar Reagan yang kini berusia 16 tahun dan merupakan seorang siswa SMP di daerah Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.  

Pada awalnya orang tuanya membawanya ke dokter dan menyuruhnya menandatangani kontrak perjanjian untuk membatasi penggunaan internet.

Namun, tidak ada yang berhasil, sampai akhirnya mereka menemukan pusat terapi perintis di Mason, Ohio, sekitar 22 mil (35 kilometer) utara Cincinnati, yakni Lindner Centre of Hope.

Reagan menjalani program ‘Reboot’ di tempat tersebut.  Program tersebut menawarkan perawatan rawat inap untuk anak berusia 11—17 tahun yang mengalami kecanduan game online, media sosial, ataupun pornografi yang seringkali menimbulkan penyakit mental seperti depresi dan kecemasan.

Pasian ‘Reboot’ menghabiskan waktu 28 hari dengan menikmati fasilitas pinggiran kota yang dilengkapi dengan 16 kamar tidur, ruang kelas, pusat kebugaran, dan ruang makan. Mereka menjalani tes diagnostik, psikoterapi, dan belajar memoderasi penggunaan internet.

Chris Tuell, Direktur Klinis Layanan Kecanduan di Lindner Centre of Hope menyebutkan bahwa program tersebut dimulai pada Desember lalu setelah melihat beberapa kasus remaja kecanduan internet, termasuk Danny.

“Internet, meskipun tidak resmi diakui sebagai zat adiktif, namun dapat membajak sistem perhatian otak dengan memicu pelepasan bahan kimia penginduksi kesenangan, dan dapat diakses sejak usia dini,” tuturnya.

Tuell mengungkapkan, pulih dari kecanduan internet berbeda dari kecanduan lainnya karena hal itu bukan tentang "menjadi sadar". Internet dinilai telah menjadi hal yang tak terhindarkan dan penting adanya di sekolah, di rumah, ataupun di tempat kerja. Sementara itu, baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun American Psychiatric Association tidak mengenali kecanduan internet sebagai gangguan.

Namun tahun lalu, WHO mengakui adanya gaming disorder yang lebih spesifik setelah penelitian bertahun-tahun di Cina, Korea Selatan, dan Taiwan, di mana dokter menyebut kecanduan internet sebagai krisis kesehatan masyarakat.