Makan di Tempat Umum, Biasakan Lakukan Ini

Membereskan meja setelah makan di tempat umum masih jarang dilakukan - Solopos.com/Mahardini Nur Afifah
30 Januari 2019 19:55 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tiga perempuan duduk di deretan kursi bagian tengah Food Park Lantai II The Park Mall Solo Baru, Sukoharjo, Jumat (25/1/2019) siang. Mereka menikmati aneka makanan dan minuman menggugah selera yang terhidang di meja panjang muat enam orang. Ada iga bakar, babat gongso, mi kocok, camilan kroket goreng, wafel, es teh, dan air mineral siap disantap. 

Kelar mengisi perut, ketiga karyawati swasta yang tengah menghabiskan waktu istirahat untuk berburu makan siang ini mengobrol sembari tertawa sejenak. Sebelum meninggalkan tempat duduknya, salah seorang perempuan bernama Maria membereskan meja makannya.

Piring-piring seukuran ditumpuk menjadi satu. Sendok dibalik dan ditumpuk menjadi satu. Sampah sisa makanan diletakkan pada bagian paling atas tumpukan piring bersama tisu bekas makan mereka. Gelas kotor dan botol bekas air mineral pun tak lupa dijadikan satu dengan tumpukan piring di ujung meja.

Tak berhenti di situ, ia pun mengambil tisu makan untuk mengelap bekas meja kotor mereka, lantas mengusap tangannya dengan gel pembersih tangan antikuman. “Setiap makan di luar memang punya kebiasaan seperti ini. Rasanya enggak sreg kalau meninggalkan meja bekas makan dalam keadaan kotor,” tutur Maria, 27.

Perempuan yang tinggal di Gentan, Baki, Sukoharjo ini menuturkan kebiasaan beres-beres sesudah makan itu sudah berjalan selama tiga tahun terakhir sejak ia mengakhiri masa lajang. Budaya tersebut ditularkan dari keluarga sang suami yang punya agenda makan di luar bersama keluarga besar saban akhir pekan.

“Mama mertuaku yang ngajarin. Beliau kebetulan pengusaha dan tipe orang yang sangat menghargai orang lain. Jadi punya pengalaman kalau melayani customer itu enggak gampang. Jadi setiap makan di luar, di mana pun, paling enggak bekas mejanya dibereskan sendiri. Jadi nanti pelayan kerjanya gampang,” katanya.

Supervisor Food Park The Park Mall Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Ari Puspitawati, menuturkan budaya beres-beres meja mandiri setelah makan di tempatnya memang sudah dilakukan sejumlah pengunjung. Sedikitnya 30% konsumen yang datang ke tempat jajan yang rata-rata didatangi 600 pengunjung pada hari biasa dan 2.000 orang pada akhir pekan tersebut, punya kesadaran membereskan mejanya sendiri setelah digunakan.

“Di sini memang tidak ada aturan untuk beberes mandiri selepas makan. Di nota belanja tertera ada kami menyertakan pajak restoran, bukan service charge. Tapi kami tetap menyediakan petugas kebersihan yang setiap sif ada tiga sampai empat orang untuk melayani pengunjung. Selain itu, ada juga tempat sampah di tiga tempat strategis,” jelasnya.

 Prokontra

Budaya beres-beres tempat makan setelah digunakan menjadi topik hangat di dunia maya setelah jenama makanan cepat saji KFC mengunggah kampanye di media sosial Twitter resminya, Senin (13/1/2019). Kampanyenya berupa foto tangan yang sedang memegang nampan, sementara sebelah tangan lainnya membuang wadah makan dan minum sekali pakai ke tempat sampah. Foto tersebut disertai keterangan, “Biasakan untuk membersihkan meja kamu sehabis makan, yuk! Budaya beres-beres sehabis makan, perlu dimulai dari sekarang. Biar generasi ke depan semakin peka sama kebersihan! Ayo, lestarikan buaya bersih-bersih!”.

 Kampanye tersebut mendapat reaksi prokontra dari netizen. Pengguna Twitter @khrsmwn berpendapat, “Sebelum ada campaign ini memang saya sudah terbiasa beres-beres setelah makan di manapun. Bahkan di angkringan, bungkus nasinya saya lipat kembali sebelum dibuang. Ini bukan masalah makan di mana tapi sikap dan kebiasaan”.

Sementara pengguna Twitter @hudattumini tidak sependapat dengan melontarkan pertanyaan, “Terus para pelayan KFC kerjanya apa? Tahukah anda bahwa pelanggan itu membayar service tax (jasa servis), artinya KFC tidak menggaji karyawannya, tapi yang menggaji karyawan KFC adalah pelanggan yang dikenakan service tax!”.

Reaksi negatif itu dibalas dengan tulisan panjang Dennis Kwaria lewat Voxpop.id berjudul Diminta Beberes setelah Makan di Restoran Cepat Saji, kok Malah Ngegas?. Ia lantas menjelaskan konsep dasar restoran cepat saji yakni pelanggan datang ke konter, memilih menu, lalu makanan dibawa ke meja dan disantap.

 “Di restoran cepat saji, umumnya terdapat utensils return area. Konsep asli restoran cepat saji kita meletakkan kembali semua peralatan makan dan sampah sisa makanan ke area tersebut. Pegawai membersihkan meja bekas kita sampai kinclong untuk dipakai pelanggan berikutnya. Pegawai juga menjaga kebersihan area sekitar tempat makan supaya nyaman.”

Disebutkannya, restoran cepat saji umumnya tidak menyertakan pajak pelayanan dan cuma membebankan pajak restoran. Lain dengan tempat makan atau restoran yang menyertakan pajak pelayanan. Pengunjung diberi privilese atau hak istimewa sejak datang ke tempat makan.

Dimulai dari disambut sejak di pintu, diberi kesempatan memilih makanan di meja, makanan dan minuman diantar ke meja, ditawari atau diladeni condiments (saus, mayones, dan lain-lain), selesai bersantap peralatan bekas makan segera dibereskan. Espos menyambangi gerai KFC Manahan, Kota Solo, Jumat (25/1/2019). Sore itu, hujan mengguyur Kota Bengawan. Sejumlah pengunjung menempati tiga meja di lantai dasar. Mereka tekun menikmati sajian menu restoran cepat saji tersebut. Selesai makan, mereka meninggalkan piring dan sampah bekas makanannya di meja. Padahal di sudut ruangan sudah disediakan utensils return area.

 “Mungkin kampanye beberes-nya masih di level nasional, jadi belum sampai di sini. Kalau kampanye no straw, di sini sudah jalan. Sudah ada imbauan resminya. Kami cantumkan di banner kecil. Sedangkan yang gerakan beberes sampai saat ini belum,” tutur Aditya Bagus, Shift Leader yang bertugas di gerai setempat.

Disinggung soal kebiasaan beberes mandiri yang sudah jadi budaya di gerai internasional, Aditya mengatakan di tempatnya sudah ada konsumen yang memiliki kesadaran beres-beres meja bekas makan secara mandiri, namun jumlahnya belum signifikan. “Ya, ada. Tapi memang jarang sekali. Biasanya kelar makan, ditinggal. Sementara belum ada imbauan resmi, kami menjalankan SOP meja konsumen wajib beres maksimal tiga menit setelah digunakan,” beber dia.

Sebagai orang yang bekerja di bidang pelayanan, Aditya mengaku membiasakan keluarganya untuk beres-beres meja bekas makan secara mandiri saat makan di luar. “Ya, minimal piringnya dibereskan dan ditumpuk di tengah. Biar nanti yang membereskan kerja lebih mudah,” katanya.

Feodal

Minimnya kesadaran konsumen membereskan meja bekas makanannya di sejumlah warung atau restoran yang tidak memungut ongkos pelayanan juga terjadi McDonald's Solo Baru, Sukoharjo. Seorang anggota staf yang ditemui mengatakan konsumen yang beberes mandiri kelar makan persentasenya di bawah 10%. “Paling ya tamu bule atau ekspatriat. Kalau orang lokal jarang banget,” ungkap dia.

Tidak gampang memutus mata rantai budaya malas membereskan meja bekas makan di luar rumah warisan feodal. Hal itu karena tradisi nyaman diladeni sudah mengakar kuat di kultur masyarakat sejak era kerajaan dan makin subur pada masa kolonial. Sejarawan Heri Priyatmoko menyebutkan leladen semula hanya tumbuh di lingkup bangsawan dan priyayi. “Pada era kerajaan, kelompok sosial mapan punya gaya hidup sendiri. Mereka dimanjakan batur kala di rumah. Para batur ini melayani majikan termasuk urusan makan,” jelasnya.

Heri menjelaskan zaman dahulu banyak orang perdesaan rela menjadi batur dan melayani keperluan juragannya di rumah demi bisa ngenger (magang). “Nantinya mereka belajar pengetahuan dan bisa dimasukkan menjadi abdi dalem. Jadi mereka melayani bukan sekadar demi uang,” imbuhnya.

Budaya laden yang tumbuh di restoran dan warung makan kian subur saat bangsawan dan priyayi mulai bergaul dengan kalangan Eropa. Dengan bermodal dompet tebal, mereka dilayani sedemikian rupa oleh pegawai. “Bahkan dulu menjadi tolok ukur: semakin banyak pelayan yang ngeladeni di mejanya, semakin tinggi status sosialnya,” katanya.