Busana dari Tenun Jepara Ini Melenggang di Hong Kong

Salah satu rancangan Tuty Adib yang dipamerkan di Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019 - Istimewa/Tuty Adib
30 Januari 2019 21:55 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

    Solopos.com, SOLO--Desainer Tuty Adib mendapat kesempatan perdana untuk menampilkan karyanya di panggung peragaan busana Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019, pada Rabu (16/1/2019). Sebagai perwakilan Indonesia di kancah internasional, ia tergerak memboyong etalase kreatif Nusantara ke hajatan fesyen bergengsi kelas dunia tersebut.

    Tuty mengeluarkan enam rancangan busana sopan (modest wear) dengan material utama wastra Nusantara buatan pengrajin tenun lokal di daerah Troso, Jepara. Serangkaian seri anyar busana siap pakai mewah (ready to wear deluxe) ini diberi tajuk Amazing Jepara.

    Di tangan kreatif Tuty, kain tenun bertekstur relatif tebal ini dianggap pas untuk menghangatkan suasana musim dingin. Ia sengaja memberikan kejutan rancangan dengan rona bumi (earth tone) yang relatif cerah namun tetap bersahaja. Beberapa warna pilihannya antara lain hitam, abu-abu, cokelat, merah, bahkan kuning mustard.

    Garis rancangan kreasi Tuty dibuat tidak neka-neka agar keindahan kain tenun tak tenggelam dalam kompleksitas desain. Ia menggunakan siluet “H” lurus atau “A” untuk memberikan sentuhan istimewa. Desain busananya juga dibuat tak jauh melenceng dari “DNA” rancangannya selama ini. Pemilik rumah mode Bilqis, Hejaz, Zoura, dan Gi Scraf ini mempertahankan konsep padu padan untuk seri Amazing Jepara. Ia membuat ide busana berlapis dari kombinasi terusan, celana, luaran berupa blazer atau jaket, sampai atasan.

    Salah satu rancangannya yang mencuri perhatian dibuat dengan memadukan terusan lengan pendek bermodel “A” line dengan jaket sepinggang memeluk tubuh. Dengan cermat, Tuty memainkan motif utama tenunnya secara vertikal dan horisontal. Di beberapa bagian, ia menebalkan keindahan corak ragam hias dengan aplikasi embellishment payet dan beads.

    Selain itu, ada juga dress berpotongan “A” lebar tidak menyapu lantai dengan detail rumbai di bagian ujungnya. Agar terusan lebih istimewa, ia sengaja melapisinya dengan luaran tanpa lengan yang membingkai siluet tubuh.

    Keseluruhan rancangan Tuty Adib pada kesempatan istimewa tersebut dipadukan dengan penutup kepala bermodel bersih dan sederhana berwarna hitam. Ia memberikan aksesori minimalis dari perca kain tenun senada. “Saya sengaja mengangkat wastra Indonesia ke kancah internasional karena negara lain tidak memiliki kekayaan seni visual seperti yang dipunyai bangsa ini,” terang Tuty Adib, ketika ditemui Solopos.com di sela-sela persiapannya berangkat ke Hong Kong di bengkel kerjanya di Kerten, Laweyan, Solo.

    Tuty memiliki argumen memilih Jepara dari beragam kain etnik yang dipunyai Nusantara. “Buat saya, tenun Jepara itu unik. Pengrajin lokal di sana banyak terinspirasi dari ragam hias dari daerah lain. Ada yang dari Maumere, Kalimantan, Bali, Batak, sampai batik. Kolaborasi ini menarik sebagai pintu gerbang mengenalkan wastra Indonesia,” terangnya.

    Berbeda dari rancangan sebelumnya yang lebih spesifik menonjolkan ragam hias hasil olah kreatif pengrajin dari salah satu sudut Nusantara, ia juga punya alasan kontekstual untuk menampilkan beragam motif sekaligus dalam satu rancangan. “Segala sesuatu yang berbeda saat dikolaborasikan bisa tampil cantik. Ini seharusnya sesuai dengan Indonesia saat ini,” kata dia filosofis.

    Pergelaran busana bergengsi Hong Kong Fashion Week Fall/Winter 2019 juga memberikan kesempatan kepada desainer Indonesia Modest Fashion Designer yang telah lolos kurasi tim setempat. Selain Tuty Adib, ada Jeny Tjahyawati, Lia Soraya, Lia Afif, serta Nina Nugroho. Selain peragaan busana, mereka juga diberi kesempatan pameran selama hajatan berlangsung.