Anda Depresi? Coba Lakukan Hal Ini

Beberapa orang memilih menekuni penyembuhan diri sendiri lewat beragam cara - Solopos.com/Mahardini Nur Afifah
31 Januari 2019 19:55 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Dalam suasana hening, seniman Iwan Wijono mengarahkan 20 orang yang datang ke Rumah Bharata Jl. Halilintar Nomor 51, Kentingan Kulon RT 002/RW 011, Jebres, Solo, duduk bersila dengan posisi salah satu kaki menindih kaki lainnya.

Posisi lotus tersebut disarankan Iwan agar tubuh para peserta lokakarya Self Healing and Space Breathing rileks selepas relaksasi dan senam ringan untuk mengaktifkan tujuh cakra utama di dalam tubuh. Ia lantas mengajak mereka untuk mulai mempraktikkan meditasi dengan teknik pernapasan tubuh.

Sebelum mengawali meditasi, terlebih dulu kedua telapak tangannya disatukan dan dibawa ke depan cakra agna yang terletak di antara dua alis dan mata. Tujuannya meminta izin pada Tuhan agar sesi meditasi berjalan lancar. Baru kemudian peserta disuruh bernapas senyaman mungkin lewat kedua hidung dengan mata tertutup selama lima menit.

Iwan lantas mengarahkan peserta bernapas dengan perut. Ia menjabarkan tujuannya untuk merestrukturisasi tubuh dengan kesadaran penuh. Durasinya kembali selama lima menit. “Sehari-hari kita bernapas cuma lewat emosi. Tanpa kesadaran pikiran. Dengan jalan seperti ini jantung stabil, pikiran tenang, organ lain juga stabil,” katanya di sela-sela sesi meditasi.

Selepas rehat sejenak, Iwan mengajak peserta menjajal teknik cleansing breathing. Caranya dengan mengempiskan perut sembari menahan napas sejenak, lantas mengeluarkannya lewat mulut perlahan-lahan selama lima menit. “Energi negatif atau kotoran tubuh bisa keluar lewat sini. Rasakan, tubuh jadi lebih ringan,” ujar dia.

Baru setelah itu, ia mengajarkan peserta untuk merasakan energi dari oksigen yang dihirup bisa mengalir dari perut, lanjut ke dada, bergerak lagi ke tenggorokan, berpindah ke agna, naik lagi ke kepala, lantas turun ke perut, bergerak lagi ke ujung tulang belakang, dan kembali lagi ke jantung. “Energi ini bisa untuk menyembuhkan, yang tidak nyaman bisa ke sini,” serunya.

Nathalia yang duduk di seberang Iwan buru-buru bersila membelakangi mentor meditasinya. Mahasiswi S2 Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini sejak awal datang merasa tengkuknya kurang nyaman dan sedikit pusing. Iwan lantas mempraktikkan transfer energi yang sebelumnya ia sampaikan. “Rasanya bagian belakang tubuh jadi hangat. Pusing juga mendingan,” komentarnya.

Perempuan asal Jakarta ini berkenalan dengan praktik meditasi sederhana untuk penyembuhan sejak dua tahun lalu. “Aku dulu sempat sakit. Obat medis sampai enggak mempan. Akhirnya belajar self healing dengan deep breathing. Secara teknik kurang lebih kayak meditasi tadi. Sempat belajar ke Reza Gunawan juga,” ujar dia.

Iwan Wijono mendermakan kemampuannya self healing lewat meditasi pernapasan sebagai bagian dari seni kontekstual kanon Nusantara. Bagi seniman yang aktif membuat performance art di berbagai wilayah dan negara ini, seni merupakan aktivitas ritual bukan menyajikan presentasi artifisial semata. “Saya belajar meditasi dari kecil dari berbagai komunitas di Solo. Sekitar umur 20 tahun, ketika butuh kesadaran penuh, saya dalami lagi. Penting sekali membuat tubuh netral dalam keadaan tidak lapar atau terlalu kenyang, tidak terburu-buru, atau mabuk,” jelasnya.

Yoga

Selain lewat meditasi, jalur memburu kesembuhan mandiri juga dijajal Nia, 32, lewat yoga. Dua tahun lalu ia sempat drop setelah beberapa bagian tubuhnya panen tumor lantaran gaya hidup tidak sehat. Operasi demi operasi ia lakoni.

Selepas itu, kepercayaan diri perempuan yang terbiasa aktif ini digerogoti dan mulai gampang terserang kecemasan. “Aku ambil kelas yoga rutin. Sama belajar mindful emotional healing online dari Adjie Santosoputro. Setelah setahun berlatih ternyata secara mental bisa mengelola stres dan emosi, sama bisa menerima kondisi diri,” ujarnya terpisah.

Nia menuturkan kecemasannya kerap datang setelah ia membandingkan kondisinya dengan orang lain. Terlebih media sosial acapkali mempertontonkan pencapaian teman-temannya yang sedang getol mencetak kredit di karier atau pamer kebahagiaan dengan keluarga. “Aku coba filter juga untuk meminimalkan medsos dan menghindari toxic person selama masa pemulihan. Pengaruhnya cukup besar,” terangnya.

Yogi Yoga Healing Soloraya, Tina Hoogeveen, menuturkan kalangan urban saat ini rentan dengan kecemasan dan labil lantaran fondasi emosionalnya tidak kokoh. Hal itu tak lepas dari gaya hidup masa kini menuntut kita untuk tergesa sehingga minim menghargai hidup. “Dengan menyadari napas, sebenarnya kita jadi lebih menghargai hidup. Kalau mau bernapas dalam secara sadar selama lima menit tanpa jeda saja, secara tidak langsung kita berlatih kesabaran. Kecemasan itu bisa merusak cakra. Ujungnya bisa sakit liver atau stroke atau penyakit lainnya,” ujarnya membuka obrolan di kawasan Ngarsopuro, Kamis siang.

Yogi yang mengantongi sertifikat yoga healing dari Markandeya Yoga di Bali ini menuturkan sebelum menginjak gerakan fisik, penyembuhan diri diawali terlebih dulu dengan pranayama atau pernapasan. “Pernapasan di yoga healing bisa sampai 15 menit. Mulai dari deep breathe, pembersihan, sampai pranayama cakra. Dengan bernapas ini, kotoran atau sumbatan dibersihkan,” jelasnya.

Selepas itu, Tina mulai mengarahkan muridnya untuk pemanasan dengan latihan Surya Namaskar (sun salutation). Rangkaian pose yoga yang dilatih dalam satu kesatuan, dilakukan dengan teknik mengalir, dan digabungkan dengan teknik pernapasan ini memiliki tiga variasi yakni klasik, A, dan B. Pose dasar pada Surya Namaskar seperti down dog, plank, caturanga, cobra, warrior, uthasana, arda uthasana, dan lainnya dapat dimodifikasi menjadi rangkaian gerakan mengalir baru dan modifikasi cara pernapasannya.

Baru setelah itu, diarahkan pada gerakan berdiri untuk menguatkan fondasi. Dilanjutkan gerakan memperkuat otot bagian atas tubuh, lengan sampai perut, dan keseimbangan. Begitu jantung sudah dipacu lebih cepat, giliran tubuh bagian belakang dan pinggang yang diolah. Kemudian kinerja jantung distabilkan kembali lewat gerakan lebih lamban hingga napas stabil.

Sejahtera

Praktisi Kesehatan Holistik, Reza Gunawan, lewat situs pribadinya menyampaikan pentingnya merawat kesehatan diri secara lengkap dan mandiri (self healing). Menurut suami penulis Dewi Lestari ini, manusia tidak bisa mengandalkan perawatan diri secara lengkap hanya semata pada bantuan pihak luar atau tenaga profesional. “Tenaga profesional lahir dan batin di luar terbatas. Ada begitu banyak aspek dalam diri kita yang tidak tersentuh keilmuan mereka. Selain itu, kesehatan lahir batin kita tanggung jawab masing-masing. Jadi ada gunanya kita belajar kesehatan diri lengkap dan mandiri,” jelasnya.

Reza menyampaikan ada empat benang merah yang ia temukan untuk memperoleh energi dari semesta dan mendermakannya kembali pada semesta. Pertama, napas. Menurutnya, napas merupakan jembatan batin dengan tubuh. Saat marah, sedih, gembira, napas berubah melalui sistem energi kita.

Kedua, gerak. Menurutnya, tubuh dirancang aktif. Dengan bergerak, ada aktivitas kehidupan dan terjadi sirkulasi dalam sistem tubuh kita. Ketiga, sentuhan. Menurutnya, sentuhan merupakan pijakan respons penting untuk tubuh. Dalam kondisi serbatergesa atau tegang, kita membutuhkan keajaiban sentuhan. Terakhir, keheningan. Menurutnya, gerbang pengasah kesadaran ini merupakan inti komponen manusia.

“Ketika belajar mengenal kembali menggunakan empat hal tadi untuk menciptakan keselarasan dalam diri, kesadaran yang jernih, dan kesehatan lahir batin, itulah self healing. Self healing bisa dipelajari dan dimanfaatkan siapa saja asalkan mau mengenal diri sendiri dan tekun merawat diri. Teknik ini praktis, sederhana, universal, dan bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup kita,” kata dia.