Karat Daun Tenggelamkan Kejayaan Kopi Jawa

Petani kopi di Desa Conto, Bulukerto, Wonogiri. (Istimewa/Bagus - Komunitas Kopi Wonogiri)
06 Februari 2019 02:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Puncak kejayaan kopi Jawa surut menjelang 1880. Serangan jamur Hemeleia vastatrix membuat daun seperti berkarat. Petani setempat menyebut penyakit ini karat daun. Pohon-pohon kopi pun tumbang. Jawa kehilangan potensi ekspor 120 ribu ton kopi dan pasar kopi dunia ikut panik.

Belanda sempat mencari alternatif pengganti tipika Jawa dengan menanam Coffea canephora var. liberica atau liberika. Namun usahanya gagal.

Baru pada 1900, perusahaan perkebunan Soember Agoeng di Jawa Timur membeli 150 benih Coffea canephora var. robusta. Perusahaan ini membeli benih asal Kongo dari pembibitan hortikultura kolonial di Brussels, Belgia. Robusta pun terbukti lebih tahan serangan karat daun. Sejak itu robusta mendominasi produksi kopi Nusantara.

Data dari Outlook Kopi Komoditas Pertanian Subsektor Perkebunan yang dilansir Kementerian Pertanian menyebut kontribusi kopi robusta terhadap kopi nasional pada medio 2001-2016 rata-rata di level 82,49%/tahun. Pada 2016, produksi robusta mencapai 465.600 ton sementara arabika menghasilkan 173.000 ton.

“Saat ini variasi biji kopi Nusantara banyak sekali. Mau eksplorasi dari Jawa Tengah saja kayak enggak ada habisnya. Sekarang giliran pengelola kedai kopi untuk pintar-pintar berinovasi dan berbenah. Karena selera penikmat kopi, di era gampangnya mencari referensi seperti sekarang, terus berubah,” pesan Sasangka Adi, pendiri Ngopi Serius.

Dikatakannya, Kota Bengawan seluas 44 km2 kini menjadi rumah bagi sedikitnya 50 gerai kopi. Paling tidak ada satu kafe, warung, atau kedai kahwa dalam radius satu kilometer. Kepopuleran konsep kopi murni (single origin) dan kopi unggulan (specialty) memantik bisnis yang oleh pakar kopi Trish Rothgeb disebut masuk pada fase gelombang ketiga.

Salah satu perintis bisnis yang kini menjamur bak cendawan di Solo adalah Sasangka Adi. Pendiri Ngopi Serius ini telah mengelola kedai kopi selama lima tahun dengan gerai utama di Jl. Melati No.7 Purwosari, Laweyan, solo, dan cabang barunya di Rumah Kriya Banjarsari Solo. Sebanyak 50 koleksi kopi dari berbagai pelosok Indonesia dia datangkan ke kedainya. Ada jenis sidikalang, rawaseneng Temanggung, Bali buleleng, robusta Lampung, lereng Merapi, Bali Kintamani, Mandailing, hingga arabika Aceh Gayo. Dari sederet jenis kopi tersebut, unggulannya kopi dari Jawa Tengah.

“Sampai sekarang kami masih mendampingi petani di lereng Merapi yang merawat lima pohon kopi berusia ratusan tahun. Jenisnya typica [tipika]. Varietas tertua peninggalan Belanda yang masuk ke Nusantara. Jenisnya masih murni,” ujar Adi, ketika mengobrol dengan Solopos.com di Ngopi Serius Rumah Kriya Banjarsari Solo, belum lama ini.