Siap-Siap, Kemping Mewah di Purworejo saat Valentin

Suasana dalam tenda di glamping Trizara, Lembang, Bandung, Jawa Barat. - Istimewa/trizara.com
06 Februari 2019 04:40 WIB Rheisnayu Cyntara Lifestyle Share :

Solopos.com, JOGJA--Mau kemping tapi tak mau ribet dengan urusan perlengkapan? Mau tidur di alam tapi tetap dengan fasilitas seperti di rumah atau hotel?  Pilihannnya adalah glamping. Glamping memang ditujukan untuk orang yang ingin menikmati sensasi kemping di hutan tapi tak perlu repot menyiapkan segala sesuatunya. Biasanya, glamping berupa tenda namun mewah, berbeda dengan tenda untuk kemah ala Pramuka.

Di sana sudah tersedia peralatan tidur, makan, mandi, dan sebagainya. Mau bikin api unggun dan bakar-bakaran makanan? Pengelola sudah menyediakannya. Karena mirip hotel, tarifnya pun mahal. Harganya mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per malam.

Di Jawa Tengah, Badan Otorita Borobudur (BOB) akan membuka glamping di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Pembukaan dilakukan pada 14 Februari mendatang tepat saat perayaan Valentin. Mereka menyiapkan 11 tenda glamping saat pembukaan. 
Direktur Destinasi BOB, Agustin Paranginangin, mengatakan glamping di Pangkuan Sedayu itu  dilengkapi unit tenda glamping, jogging track, kantin, tourism information center, dan fasilitas lainnya. Kini, BOB sudah menyelesaikan delapan glamping.
Dari 309 hektare lahan, BOB menggunakan dua cluster seluas 4.000 m2 untuk objek wisata sekaligus fasilitasnya. Satu tenda dapat menampung empat hingga enam orang.  Glamping ini ditujukan untuk wisata grup atau keluarga. "Nantinya 14 Februari kami berharap sudah bisa beroperasi 100 persen," kata Angin, panggilan akrabnya, Senin (4/2/2019). 
BOB melibatkan warga setempat untuk tenaga pengelola. BOB juga melibatkan warga dalam atraksi daya tarik wisata. 
Dengan konsep culture and adventure eco-tourism, pelibatan masyarakat setempat memang menjadi perhatian sentral dalam pembangunan glamping ini. Ada tiga komponen dalam konsep ini yaitu nature (alam), physical activity (aktivitas fisik), dan cultural exchange (pertukaran budaya). Konsep yang bertumpu pada daya tarik budaya dan alam, serta interaksi yang harmonis antara wisatawan dengan alam. Selain mempertimbangkan kemudahan akses  lingkungan, jarak antara lokasi glamping dengan aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan juga dipilih yang tidak terlalu jauh.