Hari Gini Masih Sibuk Mencela? Cobalah Berkaca

Sesama muslim harus bisa saling mengingatkan kekurangan maupun kekhilafan. (dok)
08 Februari 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Setiap orang masing-masing memiliki pandangan dan pemikirannya terhadap suatu hal. Pemikiran itu tumbuh dari suatu hal yang ia yakini kebenarannya, tak terkecuali dalam menyambut pesta demokrasi yang akan digelar beberapa bulan lagi.

Masyarakat akan dihadapkan dengan lima surat suara sekaligus. Sehingga, banyak sekali kemungkinan antarindividu terjadi perbedaan pada pilihan mereka. Perbedaan itu tak jarang menjadi sebuah bahan untuk mencaci maki orang lain bahkan sesama muslim, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hal itu sangat berbahaya dan dapat menimbulkan perpecahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Di sisi lain, manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk saling bersosialisasi dengan berbagai latar belakang karakter dan akhlak.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Solo, Ustaz Suyanto, saat ditemui Solopos.com, baru-baru ini, mengatakan dalam ajaran Islam, Allah telah mengingatkan pada firmannya Surah Al Hujurat ayat 11 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum lelaki dan perempuan mengolok-olok yang lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah kefasikan sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,”

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia dalam menjalankan hidup baik dalam urusan agama, berbangsa, dan di masyarakat telah diatur secara tegas di Alquran. Maka dengan ayat yang secara tegas melarang untuk mengolok-olok atau mencaci maki, dikarenakan terdapat kemungkinan bahwa orang yang dicaci maki jauh lebik baik dalam berbagai hal.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (H.R Bukhari Muslim)

“Dua landasan itu sering kali dilupakan masyarakat, Firman Allah dan Hadis itu harus dikuatkan di masyarakat. Kesadaran masyarakat mengenai dilarangnya mencaci maki harus dibangun selalu,” ujarnya.

Allah menyebut belum tentu orang yang mencaci maki lebih baik dari yang dicaci maki. Manusia yang mencaci maki seolah lupa bahwa setiap manusia juga memiliki kekurangan dan tidak pernah luput dari dosa. Rasulullah sebagai manusia yang paling suci dan seorang kekasih Allah dalam berbagai riwayat pun beristighfar kepada Allah. Lantas, sebagai umat Rasulullah sudah seharusnya mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah sudah sejauh mana mengingat kesalahan dan memohon ampun kepada Allah.

Ada berbagai cara agar selalu introspeksi diri seperti berkumpul dengan orang-orang saleh. Berkumpul dengan orang saleh maka segala perbuatan dan tingkah laku setiap manusia akan ada yang mengingatkan untuk tetap konsisten dalam akhlak yang baik di jalan Allah. Kemudian, menyendiri untuk bermuhasabah mengingat dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuat baik sesama manusia kepada Allah yang lantas segera memohon ampun pada Allah.

Rasulullah bersabda, “Hamba tidak akan dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sendiri sebagai mana mengoreksi rekannya.” (H.R Tirmidizi)

Ia menambahkan bahwa setiap perkataan dan tingkah laku manusia akan menunjukkan kualitas agamanya masing-masing. Menurutnya, masyarakat harus lebih cerdas dalam melihat sesuatu. Apabila ada peserta pemilu yang sering menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, dan mencaci maki terhadap sesama maka dengan tegas itu bukan karakter yang baik dan tidak layak untuk dijadikan pemimpin.