Sudahkah Kita Memuliakan Tetangga?

Saling mengunjungi tetangga merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. (dok)
11 Februari 2019 03:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang penuh kasih sayang mengatur secara detail kehidupan umatnya. Sebagai makhluk sosial, kehidupan bertetangga antarmanusia juga sesuatu yang lumrah. Islam mengatur kehidupan bertetangga baik secara moral maupun hak-hak bertetangga untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis, nyaman, dan tenteram.

Ustaz Baruno Nasution, seorang guru agama di Solo, saat ditemui Solopos.com di wilayah Kecamatan Banjarsari, Solo, belum lama ini, mengatakan tetangga memilik hak-hak yang harus dipenuhi sesuai dengan ajaran Islam.

“Islam sebagai agama kasih sayang mengajarkan hablumminallah dan habluminannas atau hubungan kepada Allah dengan aqidah yang tidak dapat diganggu gugat dan hubungan kepada manusia. Islam mengajarkan untuk saling tolong menolong tanpa membeda-bedakan, itu sangat jelas dalam urusan dunia,” ujarnya.

Menurutnya, kedudukan tetangga sangat dimuliakan yang diatur dalam hadis sebagai cerminan keimanan diri. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang Iman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tetangganya.” (H.R Bukhari Muslim)

Ia mencotohkan, ketika seseorang memasak tentunya aroma masakan akan tercium oleh tetangga di sekitar rumah. Apabila masakan itu banyak maka seharusnya tetangga itu dibagi tanpa memedulikan agamanya. Ia menambahkan terdapat beberapa adab dalam bertetangga seperti mengucapkan salam terlebih dahulu ketika bertemu. Lantas, ketika sedang bertemu tetangga tidak dianjurkan untuk saling berbicara terlalu lama, hal itu untuk menghindari perbuatan ghibah.

Ketika tetangga sedang sakit, maka sebagai umat Islam wajib menjenguknya untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Kewajiban bertakziah ketika tetangga meninggal juga menjadi kewajiban dalam kehidupan bertetangga dengan mendoakan jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.

Di sisi lain, konflik antartetangga juga sering terjadi akibat kesalahan ucap, hal itu dapat disikapi dengan biasa saja dan menjadikan diri sosok yang pemaaf. Namun, apabila tetangga berbuat kesalahan maka wajib ditegur dengan cara yang halus.

Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukannya. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S An-Nisa : 36)
Ia menambahkan, roda kehidupan selalu berputar, dari kondisi ekonomi miskin menjadi kaya atau sebaliknya. Sebagai muslim juga harus mengetahui kondisi tetangganya apakah sedang dalam kesulitan atau kemudahan.

Seorang sahabat nabi berkata, “Wahai Rasulullah, si Fulanah sering salat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak)

Allah secara tegas memerintahkan umatnya memuliakan tetangganya baik tetangga muslim maupun tidak. Apabila seorang muslim tidak memuliakan tetangganya maka akan jatuh pada perbuatan zalim. Dengan memuliakan tetangga yang bukan muslim, menunjukkan agama Islam yang penuh kasih sayang dan mendoakannya agar segera lunak hatinya dan mendapatkan hidayah dari Allah.