Empat Model Pemimpin Menurut Rasulullah Ini Bisa Jadi Referensi di Pilkada

Warga menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon pemimpin. (dok)
13 Februari 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Tahun 2019 ini menjadi tahun politik sekaligus menjadi tahun digelarnya pesta demokrasi akbar di Tanah Air. Tidak hanya pemilihan presiden maupun pemilu legislatif, di beberapa daerah juga akan dilangsungkan pemilihan kepala desa (pilkades).

Hampir di semua jalan dan lokasi strategis digunakan para kandidat untuk menyosialisasikan profil mereka kepada khalayak, baik lewat spanduk, baliho, maupun alat peraga kampanye lainnya. Pamrih mereka sama, yakni agar dipilih menjadi pemimpin oleh warga masyarakat, entah pemimpin di tingkat desa/kelurahan, wakil rakyat di kursi legislatif, maupun pemimpin negara.

Menjadi seorang pemimpin atau wakil rakyat nyatanya gampang-gampang susah. Banyak yang sudah terpilih, namun gagal menjadi pemimpin yang sebenarnya. Banyak yang mengaku wakil rakyat, namun kenyataannya tak benar-benar mewakili rakyat.

Seorang pemimpin pada dasarnya harus benar-benar memperjuangkan sesuatu hal yang menjadi kepentingan dan kebutuhan rakyatnya. Yang tidak kalah penting, seorang pemimpin harus punya bekal ilmu manajemen. Agama Islam telah mengatur konsep dasar untuk menjadi sosok seorang pemimpin yang andal dan dapat memperjuangkan para rakyatnya.

Ketua Umum Laziz Tumindak Sae Kota Solo Ustaz Jatmiko, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Banjarsari, Solo, mengatakan kepemimpinan dan manajemen merupakan satu kesatuan yang sangat penting. Bahkan kepemimpinan dan manajemen ini ada sejak Nabi Adam AS diciptakan Allah dan ditugasi menjadi pemimpin di muka bumi.

Allah berfirman dalam Q.S Al Baqarah ayat 30, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ia menambahkan dalam menjadi seorang pemimpin, sosok Rasulullah harus dijadikan role model dan suri tauladan. Menurutnya, terdapat empat model seorang pemimpin yang baik sesuai dengan Rasulullah yakni pemimpin sebagai seorang pelayan rakyatnya dengan model pemimpin sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya, dan panutan.

Sebagai pemimpin perintis, menurutnya sosok pemimpin harus mengungkap atau tahu apa yang menjadi kewajiban pemimpin dengan mengetahui segala kebutuhan stakeholder atau rakyatnya.

“Yang dibutuhkan masyarakat antara lain ada empat yakni agama, kesehatan, misi, dan sistem yang baik. Hal itu dapat ketahui ketika pemimpin mengetahui kebutuhan masyarakat. Kalimat bangunlah jiwanya bangunlah badannya dalam lagu Indonesia Raya yakni jiwa itu dapat diisi dengan kebutuhan spiritual. Apa pun agamanya pasti sangat membutuhkan. Sedangkan badannya dapat diartikan segala kebutuhan rakyatnya selain spiritual,” ujarnya.

Kemudian, menjadi pemimpin dengan model penyelaras yaitu sosok pemimpin yang dapat menyelaraskan sesuatu hal yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga yang dibangun oleh pemimpin melakukan kerja nyata terjun langsung ke dalam masyarakat atau dapat diartikan kolaborasi.

Ketiga, pemimpin harus dapat menjadi seorang yang memberdayakan sesama. Dengan memberdayakan segala hal secara tidak langsung akan muncul persaingan sehat untuk melakukan hal yang terbaik. Pemimpin dalam mengemban tugasnya memiliki sosok-sosok pembantu yang dapat dipercaya, jika fungsi pemberdayaan itu berjalan dengan baik, fungsi delegasi dan segala sesuatu hal yang ada di dalam masyarakat akan cepat sampai terdengar kepada pemimpin. Sehingga pemimpin dapat melakukan tindakan cepat untuk menyelesaikan persoalan.

Yang keempat, pemimpin harus menjadi panutan bagi seluruh rakyatnya. Pemimpin adalah sosok yang dihormati bagi masyarakat, maka dibutuhkan sikap yang arif, adil, dan bijaksana. Pemimpin harus menyadari betul ketika ia menjabat maka ia secara otomatis akan dicontoh oleh rakyatnya.

Ia menegaskan, hal itu tidak hanya digunakan oleh pemimpin yang memiliki jabatan atau kekuasaan saja. Melainkan, seluruh manusia adalah pemimpin di bumi.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluargannya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin akan ditanya atas pertanggungjawabannya” (HR. Muslim).

Maka menjadi seorang pemimpin harus bijak dan bertanggung jawab karena di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Segala pertanggungjawaban sebagai pemimpin akan diperhitungkan dan di hadapan Allah tidak akan dapat mengelak.