Batasi Gula, Garam dan Lemak Turunkan Risiko Kena Penyakit

Ilustrasi perhatikan gizi seimbang untuk mengurangi risiko terkena penyakit (wri.org)
13 Februari 2019 18:15 WIB Arif Fajar Setiadi Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Gaya hidup saat ini menjadi penentu kesehatan seseorang. Banyak di antara kita yang tidak memedulikan gaya hidup sehat, sehingga ketika itu berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sejumlah penyakit menghampirinya.

Sebagian orang mengabaikan pola makan yang sehat dan malas beraktivitas apalagi berolahraga. Beberapa karena alasan pekerjaan yang membuat mereka harus bangun pagi, makan cepat, pulang kerja sudah larut malam, sehingga akhir pekan memilih tiduran atau istirahat tanpa aktivitas apa pun.

Bahkan ketika suami istri bekerja, mereka pun memilih makanan instan atau cepat saji yang terkadang belum tentu memenuhi gizi seimbang. Sementara anak-anak saat ini lebih suka makanan cepat saji atau jajanan di sekolah yang belum tentu sehat dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

Selain pilihan cepat saji, beberapa anak jarang melakukan aktivitas atau berolahraga yang membakar kalori. Tidak hanya anak-anak, remaja, namun orang tua pun kini banyak yang melakukan hal serupa. Imbasnya, saat ini kerap terjadi kasus anak maupun orang dewaswa kelebihan berat badan atau mengalami obesitas. Ada kasus seorang ibu rumah tangga yang menjalani perawatan karena menderita obesitas. Tidak hanya risiko obesitas, sejumlah penyakit degeneratif juga menjadi ancaman.

Kondisi inilah yang kemudian menjadikan sejumlah orang mulai menerapkan gaya hidup sehat. Selain rutin berolahraga, tidak begadang, tidak meminum minuman keras, tidak merokok, mereka juga mulai mengonsumsi makanan-makanan sehat.

Beberapa di antara mereka mencoba mencari referensi makanan sehat melalui Internet. Namun, ketika mulai mencoba mengolahnya dan mengonsumsinya, muncul rasa bosan. Ada juga karena kesibukan sehingga tidak sempat melakukannya di rumah. Beruntung dengan adanya media sosial, kini muncul penyedia katering dengan menu makanan sehat.

Beberapa pekerja kantoran mulai memanfaatkan jasa katering makanan sehat ini. Seperti yang disampaikan Dewi, warga Blulukan, Colomadu, Karanganyar. Keinginan untuk memanfaatkan jasa katering makanan sehat sebagai menu makan malam sudah cukup lama. Namun, ketika melihat di media sosial, belum sepenuhnya sreg.

“Baru ketika ada teman satu kantor yang memesan makanan sehat dari salah satu katering, saya mulai tertarik. Kebetulan harganya cukup terjangkau, sehingga sekarang menu makan malam adalah makanan sehat,” terang Dewi kepada Solopos.com.

Pertimbangan ikut memesan menu makanan sehat, tambahnya, karena ingin hidup sehat. Apalagi dirinya saat ini juga rutin melakukan olahraga jalan sehat dan yoga. Ia tak menampik sejumlah temannya merasa aneh melihat makanan yang dikonsumsinya. Makanan yang dikonsumsinya selain sudah memenuhi keseimbangan kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin, namun tidak diolah layaknya makanan yang disajikan di rumah makan. Seperti sayuran yang diolah menjadi sayur tertentu, seperti sop, asem, atau lainnya, namun disajikan apa adanya, tentu sudah dalam kondisi matang.

Menurut Kasub Sie Gizi Rumah Sakit (RS) Dr. Oen Surakarta, Wahyuningtyas, yang terpenting dan harus diperhatikan adalah makanan sehat itu harus terpenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. “Makanan bukan sekadar kenyang, tetapi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh,” terang Wahyuningyas kepada Solopos.com di RS. Dr. Oen Surakarta, Rabu.

Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak

Selain memerhatikan gizi seimbang di mana dalam satu piring terdiri atas 50% buah dan sayur, dan 50% sisanya terdiri atas karbohidrat dan protein, masyarakat juga harus memerhatikan kandungan gula, garam, dan lemak.

Menurut Kasub Sie Gizi Rumah Sakit (RS) Dr. Oen Surakarta, Wahyuningtyas, batasan konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai saran Kementerian Kesehatan, untuk per orang per hari adalah gula tidak lebih dari 50 gram (4 sendok makan), garam tidak melebihi 2.000 mg natrium/sodium atai 5 gram (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gram (5 sendok makan minyak). “Untuk mengingatnya gunakan rumus G4 G1 L5,” ujarnya.

Menurut Wahyuningtyas, gula memang dibutuhkan manusia namun jika berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan memicu diabetes tipe 2. Sedang garam, dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk mengatur kandungan air dalam tubuh. Jika berlebihan dapat menyebabkan hipertensi dan stroke yang merupakan penyakit degeneratif. "Sedangkan lemak diperlukan sebagai cadangan energi, namun jika berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker,” terangya.

Selain pedoman 50% buah dan sayur dan 50% karbohidrat dan protein, sesuai slogan Isi Piringku, juga harus disertai kebersihan, aktivitas fisik (berolahraga), dan meminum 8 gelas air putih per hari serta memantau berat badan. “Jadi harus seimbang antara input dan output. Jadi kalau input-nya banyak maka output-nya juga harus banyak dengan melakukan aktifitas,” terang Wahyuningtyas.