Kopi Liar Peninggalan Belanda Masih Awet Dirawat Petani Lencoh Boyolali

Iswondo, 43, merawat tanaman kopi peninggalan Belanda di Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
14 Februari 2019 00:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Lifestyle Share :

Solopos.com, BOYOLALI – Sekitar tahun 1935, bangsa Belanda membawa biji kahwa untuk pertama kalinya ke Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali.

Dusun itu berjarak kurang dari 5 km dari puncak Merapi. Dua ribuan hektare lahan di sana disulap oleh pemerintah kolonial menjadi perkebunan kopi. Dusun Plalangan yang memiliki ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut menjadikan tanaman kopi lebih cepat berkembang dengan rasa khas. Pasalnya, kopi hanya jamak ditanam di tanah dengan ketinggian maksimal 1.200 meter.

Saat itu kopi menjadi komoditas yang dimonopoli pemerintah Belanda. Buruh perempuan dipekerjakan sebagai pemetik biji kala panen dengan bayaran murah. Biji-biji itu dibawa ke Negeri Kincir Angin untuk diolah menjadi kopi. Ironisnya, kopi hanya dikonsumsi masyarakat Eropa dan tidak bisa dinikmati warga lokal Lencoh. Para petani hanya dipebolehkan mengonsumsi daun dari tanaman kopi.

Di pasar lokal, kopi Belanda berjenis Arabica itu dijual dengan harga rendah karena jumlahnya yang sangat melimpah, namun tidak diimbangi dengan pengolahan optimal. Jengkel dengan keadaan itu, para buruh tani dengan sengaja menebang sebagian besar pohon kopi. Kini, di Lencoh hanya tersisa lima pohon kopi asli peninggalan Belanda. Kelimanya tumbuh secara liar sebelum dirawat oleh Iswondo, 43, seorang petani lokal. Lewat tangan Iswondo inilah kopi Belanda itu kini dikenal sebagai Kopi Liar Lencoh.

Pria yang akrab disapa Wondo ini mulai bertekad membudidayakan kopi sejak 2013 silam. Keinginan itu tumbuh saat desanya didatangi rombongan tur pemetik kopi dari Jogja. Saat itu, Wondo baru mengetahui jika kopi yang dirawat dengan benar akan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Tanaman kopi peninggalan Belanda itu memiliki tinggi sekitar 6 meter. Daunnya hijau muda namun tidak terlalu lebat jika dibandingkan tanaman kopi lainnya. Selain kopi Belanda, Wondo kini membudidayakan kopi lokal lain berjenis Arabica dengan varietas Kartika Katimur. Dia juga membudidayakan varietas asli Belanda itu dengan sistem setek. Total kini kebun Wondo mengelola 50-an pohon kopi varietas Belanda tersebut.

Jika dibandingkan antara keduanya, kopi liar Belanda memiliki ukuran biji lebih besar namun dengan jumlah lebih sedikit. Jumlah ranting pohon juga lebih sedikit. “Untuk kopi Belanda jumlah ranting tiap satu cabang maksimal empat. Ranting yang terlalu banyak akan berpengaruh pada rasa,” ujar Wondo saat berbincang dengan Solopos.com di kebunnya, Kamis (31/1/2019).

Meski tak memiliki perawatan khusus, Wondo mulai memperbaiki cara perawatan tanaman kopi. Dia menyiangi gulma yang tumbuh di bawah pohon dan menggantinya dengan sayuran pendek yang ditanam dengan sistem tumpang sari seperti sawi dan wortel. Dia juga merawat tanaman kopi yang baru dikembangbiakkan hingga mencapai tinggi maksimal dua meter. “Semua proses itu akan berpengaruh pada hasil kopi,” tuturnya.

Selain faktor tanaman, petani kopi di lereng Gunung Merapi juga teredukasi seiring perkembangan zaman. Mereka mulai paham bahwa biji yang dapat dipanen adalah biji yang matang berwarna merah, serta tidak lagi memanen saat biji masih hijau. Dulunya biji-biji hijau banyak dijual sehingga menjadikan kopi sebagai komoditas berharga rendah.

Para petani kini tidak lagi menjemur biji kopi di pinggir-pinggir jalan. Debu kendaraan dan aroma tanah disadari bakal berpengaruh terhadap hasil pengolahan kopi di tahap selanjutnya. Tiap mendekati panen besar di bulan Juni-Juli mereka mempersiapkan tempat khusus yang dibuat dari bambu dengan jarak ketinggian satu meter dari permukaan tanah. Kopi akan dijemur di tempat khusus yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Khusus kopi Belanda, Wondo memilahnya menjadi dua jenis, yaitu Arabica Lanang dan Arabica Janda. Keduanya dibedakan dari karakteristik biji. Satu pohon kopi Belanda biasanya menghasilkan 7 kg biji sekali panen. Sementara kopi lokal menghasilkan sekitar 10 kg biji.

Dari perbaikan proses mengolah kopi, kini para petani di Lereng Merapi mulai merasakan dampaknya. Mereka membuat kopi Belanda maupun kopi lokal sama-sama naik kelas. Kopi Belanda dipasok ke sejumlah daerah di Soloraya, Jawa, Bali, hingga Maluku. Para petani pun turut merasakan dampak secara ekonomi. Kini rata-rata penghasilan para petani bisa mencapai Rp200.000/hari selama dua bulan masa tanam. “Padahal dulu ibu-ibu petani membawa kopi 10 kg untuk dijual dan mereka hanya mendapatkan keuntungan Rp10.000,” tutur Wondo.