Dahsyatnya Meninggalkan Jejak Dahi Sebelum Pagi

Bangun tidur di sepertiga malam terakhir untuk Salat Tahajud. (dok)
15 Februari 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Memang tak ada bekas menghitam pada dahi Ani, 26, meskipun sudah sekitar delapan tahun terakhir dirinya berusaha istikamah bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir. Perempuan yang selalu mengenakan hijab saat beraktivitas di luar rumah itu memang berusaha sekuat tenaga rutin mengerjakan salat tahajud.

Namanya usaha, kadang-kadang, ada juga malam yang bolong dari aktivitas mendekatkan diri kepada Allah tersebut. Hal itu terjadi biasanya karena dirinya merasa kelelahan atau tidur kemalaman. “Berbagai doa saya panjatkan, seperti doa-doa untuk kelancaran urusan dunia-akhirat. Umumnya begitu,” kata dia, belum lama ini.

Ada perasaan yang berbeda yang ia rasakan pada hari-hari dirinya meninggalkan salat tahajud. Ada rasa kurang tenang selama seharian beraktivitas. “Waktu SMA lebih rutin karena lingkungan yang mendukung,” terang perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Darush Salehin di Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, dalam artikel yang ia publish di website resminya www.rumaysho.com, menjelaskan salat malam adalah kebiasaan orang saleh dan orang bertakwa. Allah berfirman dalam Alquran Surat Az Zariyat: 17-18 menyatakan, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” Pada Surat Al Muzammil: 1-4, Allah berfirman, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk salat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Alquran dengan tartil.”

Namun, lanjutnya, sebagian orang lebih memilih tidur dari pada bangun mengambil air wudu dan bermunajat kepada Allah dengan penuh rasa harap-takut pada-Nya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram). Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (H.R. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan hadis tersebut adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa salat malam lebih baik dari salat sunah di siang hari. Beliau juga mengatakan bahwa salat malam lebih baik dari salat sunah rawatib. Orang yang melakukan salat malam dijamin masuk surga dan selamat dari adzab neraka.

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang bangun di waktu malam, lalu dia membangunkan istrinya, kemudian keduanya mengerjakan salat dua rakaat, maka keduanya akan dicatat sebagai pria dan wanita yang banyak berzikir pada Allah.” (H.R. Ibnu Majah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika dia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan salat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ustaz Abduh juga mengatakan sabda Nabi SAW itu benar adanya. “Kita sering memperhatikan saudara kita yang belum sadar untuk salat malam akan terlihat malas-malasan di pagi hari, berbeda dengan orang yang rajin salat malam. Bahkan mungkin kita perhatikan mereka akan lebih senang mengisi waktu paginya dengan tidur daripada melakukan amal saleh,” ujarnya.

Ia menjelaskan salat tahajud memiliki berbagai keutamaan. Pertama, salat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga. Kedua, orang yang salat malam tidak sama dengan yang tidak salat malam. Allah berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9).

“Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!” Jawabannya, tentu saja tidak sama,” ungkapnya.

Ketiga, salat tahajud adalah sebaik-baik salat sunah. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan salat sunah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.” ‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan, “Satu raka’at salat sunah di malam hari lebih baik dari 10 raka’at salat sunah di siang hari.”

Keempat, salat tahajud adalah kebiasaan orang saleh. Nabi bersabda, “Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (salat malam) karena salat malam adalah kebiasaan orang saleh sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Salat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”

Kelima, sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan salat tahajud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar, “Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan salat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”

Lebih lanjut, ‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai salat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan salat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muazin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudu lalu segera keluar (ke masjid).”

Salat juga biasa dilaksanakan Rasulullah dalam situasi sulit. ‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan, “Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan salat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau melaksanakan salat sambil menangis hingga waktu shubuh.”

Saking pentingnya salat tahajud, Rasulullah biasa menqadanya pada siang hari. Maka, Ustaz Abduh juga menganjurkan umat Islam yang luput dari salat tahajud karena uzur seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqadanya di siang hari sebelum Zuhur. Dalil yang digunakan adalah riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau luput dari salat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka’at.”

Ustaz Abduh mengatakan jika umat Islam mengaku mengikuti Nabi SAW dan para sahabat (salafush saleh) bukanlah hanya dengan klaim semata, tetapi harus dengan bukti. Ia berharap umat Islam mendapat taufik agar dapat mengerjakan amalan yang mulia tersebut.

“Marilah kita menghidupkan amalan yang mulia ini. Semoga kita dapat bertemu dengan sepertiga malam terakhir, lalu memanjatkan segala hajat kita kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan Setiap Permintaan Hamba-Nya. Semoga doa kita ini diijabahi,” tutupnya.