Melatih Anak Bertanggung Jawab, Coba Cara Ini Yuk...

Ilustrasi mengajari anak mandiri - Dok
15 Februari 2019 02:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Suatu sore saat menjemput putri sulungnya dari tempat guru les privat, Ina, 37, mendapat laporan yang membikin merah kuping. Sang putri lempar tanggung jawab setelah mengotori lantai sekitar ruang tamu guru lesnya.

Anak Ina yang duduk di kelas III sekolah dasar (SD) semula sudah diberi tahu jika beranda rumah gurunya baru dicor semen. Dia disarankan berjalan meniti kayu selebar telapak tangan pada bagian tepi rumah saat ingin melintas.

Alih-alih menurut, sang putri yang tomboi menerabas cor nyaris kering itu dengan sepatunya. Jejak sepatunya tertinggal di sana dan membuat jejak sepatu baru dari semen di sekitar ruang tamu.

Saat ditanya siapa yang melakukannya, dia menggelengkan kepala. Begitu gurunya menunjukkan alas sepatunya identik dengan milik sang anak, dia masih menggeleng. Guru les privat putri Ina lantas membuat laporan kepada sang mama. “Ya, rasanya kayak gagal mengajarkan tanggung jawab kepada anak,” tutur Ina. 

Ia mengatakan sehari-hari di rumah keluarganya mengajarkan sejumlah nilai tanggung jawab. Sejak masuk SD, putrinya dibiasakan hidup teratur. Terlebih ia bekerja. “Pulang sekolah dia otomatis sudah cuci tangan, menaruh pakaian kotor ke mesin cuci, terus ganti baju, dan istirahat kalau enggak ada les,” bebernya.

Namun upayanya mengajarkan tanggung jawab ternyata dirasa Ina belum cukup. Terlebih setelah kejadian jejak sepatu di rumah guru les privat tersebut. “Suami memang kadang cukup ketat soal benar dan salah di rumah. Anak jadi sering takut salah. Ya, mungkin dari sini kami jadi belajar supaya anak ini nanti enggak terlalu banyak dituntut,” akunya.

Jamak orang tua bingung dengan definisi pasti tanggung jawab. Ada yang mengasosiasikannya dengan kemandirian sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengandalkan dirinya sendiri. Dimensi tanggung jawab juga meluas sampai bisa menjaga janji dan kesepakatan, menunaikan komitmen, melakukan sesuatu sebaik mungkin, mengakui kesalahan, sampai berkontribusi pada orang lain.

Centreparentingeducation.org menyebut orang tua sering rancu antara tanggung jawab dan patuh. Banyak orang tua menyukai anaknya menuruti perkataan mereka dan mengiyakan setiap arahan. Padahal hal itu tidak termasuk tanggung jawab melainkan sikap patuh.

Orang tua kerap memberikan arahan tugas kepada buah hatinya. Anak-anak menerima perintah tersebut karena merasa hal itu bagian dari kewajibannya. Seiring berjalannya waktu, mereka pun bersedia melakukan tugas tersebut karena merasa “perlu”, bukan lagi karena disuruh. Sikap itulah yang dinamakan tanggung jawab.

Mengajarkan tanggung jawab kepada anak sejak dini bukanlah perkara mudah. Terlebih si kecil kerap angot-angotan mengerjakannya. Seperti yang dirasakan Amelia, 34. Ibu dua anak ini mengenalkan tanggung jawab sejak anaknya berumur tiga tahun.

“Ya, dimulai dari hal sederhana. Walaupun di rumah ada pembantu, kakak tetap mengerjakan sendiri beberapa hal. Kayak membereskan mainan yang sudah dipakai, taruh kembali botol susu ke meja, atau kembalikan sepatu ke rak. Awalnya suka ngeyel atau ngeles pas diperintah. Lama-lama juga jalan,” tuturnya.

Untuk mengajarkan tanggung jawab kepada anak balita, Amelia punya kiat tersendiri. Ia sengaja menghindari kalimat bernada perintah. Namun lebih mendorong kemauan anaknya dengan tantangan.

“Misal lagi malas enggak mau mengerjakan tanggung jawabnya beberes nih. Biasanya aku bilang ‘ih, cece pasti enggak bisa beresin dalam hitungan 10.’ Karena anaknya kompetitif, biasanya dia jadi semangat. Aku pura-pura tutup mata. Terus dia kayak keburu-buru beresin kayak lagi ikut lomba. Jadi tanggung jawabnya jalan, anaknya fun,” katanya.

Namun ada kalanya si bungsu yang kini duduk di bangku TK besar juga tak mempan dengan metode permainan. Jika sudah begitu, biasanya Amelia baru mengeluarkan jurus reward and punishment. “Ya, kadang kalau lagi ngeyel kelewatan aku kasih ancaman pakai konsekuensi. Misal kalau enggak mau nanti bla bla bla,” bebernya.

Selain itu, untuk mengedukasi anaknya, Amelia mengatakan metode paling pas dengan bercerita. Ia bahkan membeli beberapa boneka peraga untuk mendongengi anak-anaknya.

“Pakai boneka peraga itu sudah pasti mempan. Metodenya bercerita. Jadi dia kayak diceritain dulu. Pas mau gosok gigi sebelum tidur itu aku pakai boneka cerita asal soal kuman. Sambil ikut praktik gosok gigi, anak otomatis ngikutin. Dari membentuk kebiasaan kayak gitu lama-lama enggak usah disuruh jalan sendiri,” ujar dia. 

Tanggung jawab merupakan modal penting yang diajarkan para orang tua kepada buah hatinya. Terlebih untuk bekal menapaki masa depan dengan tantangan zaman kian kompleks. Tentunya kita tidak ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang cuma doyan menyalahkan orang lain.