Cara Kita Mengawali Pagi Jadi Penentu Kualitas Hidup

Bangun pagi dan melakukan aktivitas positif menentukan kualitas hidup kita. (dok)
16 Februari 2019 05:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Islam adalah agama yang indah dan sempurna. Islam memberikan panduan hidup yang lengkap dan tepat bagi manusia untuk menjalani hari-harinya. Cara manusia mengisi hari-hari dalam hidup mereka menentukan kualitas hidup mereka karena kegagalan dan kesuksesan hidup manusia sejatinya adalah akumulasi dari pencapaian hidup dalam hari-hari yang mereka lalui.

Maka, memperhatikan kualitas hari-hari dilalui adalah sesuatu yang sangat penting. Salah satu penentu kualitas tersebut adalah cara seseorang memulai hari pada pagi hari.

Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kabupaten Karanganyar, Ustaz Joko Pramono mengatakan waktu pagi adalah waktu yang istimewa bagi manusia, khususnya bagi setiap muslim. Ia menerangkan, ada beberapa alasan sehingga pagi menjadi waktu yang bisa disebut dahsyat.

Pertama, waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan kebaikan. Saking mulianya waktu pagi, Baginda Rasulullah SAW bahkan mendoakannya secara khusus. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi SAW bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah.

Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendoakan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan doa pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.” (Syarhul Bukhari Libni Baththol)

Kedua, waktu pagi adalah waktu bersemangat untuk beramal. Dalam Shohih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari)

Yang dimaksud ‘al ghodwah’ dalam hadits ini adalah perjalanan di awal siang. Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari.

“Inilah tiga waktu yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari sebagai waktu semangat (fit) untuk beramal,” ujar Ustaz Joko kepada Solopos.com, belum lama ini.

Ia menerangkan, orang yang bisa bangun pagi sesungguhnya telah melawan setan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat tidur dengan tiga ikatan ia akan membisikkan kepadamu bahwa malam masih panjang, jika ia terbangun lalu berdzikir pada Allah lepaslah satu ikatan, jika ia berwudlu maka lepaslah dua ikatan, dan jika ia melanjutkan dengan salat, maka lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga pada pagi harinya ia mulai dengan penuh kesemangatan dan jiwanya pun sehat, namun jika tidak, maka dia akan memasuki waktu pagi dengan jiwa yang keji dan penuh kemalasan.” (H.R. Bukhari).

Ada beberapa amalan yang bisa membuat hidup semakin berkah. Pertama, berzikir di pagi hari. Rasulullah bahkan pernah menyatakan dirinya lebih senang kepadaorang yang duduk mulai salat subuh sampai terbit matahari dari pada orang yang memerdekakan empat orang budak.

Kedua, membaca atau tilawah Alquran. Ustaz Joko menerangkan tilawah Alquran, terlebih jika diniati untuk dibaca dengan penuh penghayatan, perenungan dan kesiapan hati mengikuti dan mengamalkan kandungannya, hal ini akan sangat membantu fokus otak dan hati untuk lebih siap menyudahi subuh dengan kebaikan, ilmu dan spirit iman yang lebih hidup.

“Apalagi, waktu subuh udara masih bersih, suasana belum bising dan fisik juga masih segar. Tentu hal tersebut akan memudahkan akal, hati dan emosi lebih cepat merasakan getaran, kesan dan spirit dari ayat demi ayat yang dibaca. Bahkan, para penghafal Alquran biasanya memanfaatkan waktu emas tersebut untuk muraja’ah (mengulang-ulang hafalannya),” papar dia.

Ketiga, memulai beraktivitas. Rasulullah tidak menjumpai pagi melainkan bergegas dalam beraktivitas. Allah berfirman dalam Ali Imran: 121, “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang.”

Jadi, tidak salah jika Bangsa Arab mengenal petuah, “waktu adalah pedang.” Kemudian di Indonesia dikenal istilah, “siapa cepat dia dapat.” Dengan kata lain, siapa bergegas dalam beraktivitas insyaAllah dia akan sukses. Hal ini sinkron dengan apa yang jamak diketahui orang, “Man jadda wajada” (Siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan).

“Selesai salat subuh, selesai tilawah, jangan rebahkan badan. Tapi bangkit dan bergeraklah melakukan aktivitas mulia lainnya. Seperti menyapu rumah, mencuci piring, atau apapun yang pada intinya tubuh bisa bergerak sehingga lepas dari gelayutan mata yang memaksa diri terus mengantuk,” kata dia.

Keempat, segerakan mandi. Kelima, beramal dan bersedekah. Keenam, salat duha. Lebih lanjut, orang yang bangun pagi termasuk dalam daftar orang-orang yang didoakan oleh malaikat. Rasulullah bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit,’” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Sedangkan bnul Qayyim Dalam Kitab Zaadul Ma’ad, pernah menyatakan empat hal yang akan menghambat datangnya rizki, “Empat hal yang menghambat datangnya rizki: tidur di waktu pagi, sedikit salat, malas-malasan dan berkhianat.” “Semoga empat hal yang dimaksud Ibnu Qayyim tidak masuk di antara kita semua. Selamat menjemput berkah pagi hari,” tutupnya.