Siapa Sih yang Enggak Pengin Nikah? Tapi...

Saat jodoh tak kunjung datang, sebaiknya kita tetap berprasangka baik kepada Allah. (Reuters)
17 Februari 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Secara fitrah, setiap manusia tentu ingin menikah karena berbagai alasan. Menikah, dalam Islam, adalah ibadah wajib jika orang tersebut mampu secara finansial dan juga berisiko terjerumus dalam perzinaan. Maka, menikah untuk menjaga diri dari zina adalah wajib hukumnya.

Imam Al Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa risiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya:

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui."(QS. An-Nur: 32).

Namun, hukum menikah juga bisa menjadi sunah, mubah, makruh, hingga haram, tergantung situasi orang tersebut. Meski demikian, tak selamanya harapan berbanding lurus dengan kenyataan. Berbagai kejadian membuktikan, sebagian orang yang telah berkeinginan dan siap menikah tak lantas dengan mudah melangsungkan pernikahan. Salah satu sebabnya, karena jodoh yang tak kunjung datang.

Salah seorang muslimah asal Pacitan, Jawa Timur, sebut saja Ukhti, yang kini sudah berusia 31 tahun. Secara pendidikan, Ukhti sudah lulus S2 di salah satu kampus di Solo. Ia kini bahkan sudah diangkat sebagai CPNS. Secara mental, sebenarnya ia sudah siap. Apalagi, teman-teman seusianya sudah banyak yang berumah tangga hingga memiliki momongan.

Ia bersyukur, keluarganya, khususnya sang ibu, tak pernah menekannya untuk segera menikah. Ibunya justru sering mengingatkan agar dirinya meminta jodoh terbaik kepada Allah. “Kita cuma bisa berdoa. Berdoa terus untuk mengetuk pintu langit. Semua akan beres,” ujarnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Ia mengaku juga melakukan berbagai ikhtiar. Ia tak menutup diri untuk membuka komunikasi pada lelaki yang ingin mengenalnya lebih lanjut. Ia menilai, jika itu memang baik, tak ada salahnya untuk dicoba sebagai langkah penjajakan.

Tapi, sekali lagi, hasil semua ikhtiar ditentukan secara mutlak oleh Allah, Sang Maha Bijaksana. Ia menganggap menikah adalah ibadah dengan durasi yang lama. Maka, ia tak mau berfikir dengan cara sempit.

“Saya tak mau berfikir, seolah-olah waktu itu mepet. Saya tak punya pilihan [selain tawakal]. Saya akan menikah bukan di waktu orang-orang, tapi pada waktu saya, waktu yang ditentukan Allah. Tak ada yang datang terlambat, semua sudah ada dalam zonanya, zona waktu masing-masing,” papar perempuan yang biasa mengenakan hijab tersebut.

Ia tak merasa khawatir dianggap perawan tua meski dalam usia kepala tiga belum juga berumah tangga. Ia justru merasa, penantian seperti itu semakin meningkatkan keyakinannya pada Allah.

“Saya sudah pada posisi lillah. Artinya tetap ikhtiar kalaupun belum dijawab doanya sama Allah. Saya percaya saja. Kalau Allah meminta saya untuk menunggu, saya yakin Allah bakal kasih lebih dari yang saya inginkan. Allah punya cara yang hebat untuk mengatur skenario hidup saya. Intinya, tetap berfikir positif dan berusaha semakin hebat dan berprestasi dalam penantian,” terangnya.

Di tempat kerjanya kini, banyak teman yang kebetulan masih lajang. Kadang, ada beberapa yang usil bertanya, “Kapan nikah?”. Ia biasanya menjawab dengan baik dan minta didoakan segera mendapatkan jodoh.

Ditanya soal perasaannya saat mendapat undangan nikah dari temannya, ia mengaku berbahagia untuk mereka. Ia lalu bersalawat dan berdoa supaya bisa memberi undangan nikah balik. “Siapa sih yang enggak ingin [menikah]. Tapi enggak boleh baper kan? Bapernya ke Allah saja,” kata dia.

Sementara itu, Roni, 28, (bukan nama sebenarnya), mengatakan konsep yang ia pahami adalah takdir termasuk jodoh sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Namun, seorang muslim tetap harus berikhtiar dan berdoa. Ikhtiar dan doa harus dijalankan meski ada halangan, seperti penolakan dari pihak perempuan.

“Bagaimanapun, manusia tak boleh berputus asa. Cuma proses ikhtiar mencari jodoh itu yang mungkin berliku-liku,” ungkapnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Ia mengaku cobaan terberat dalam mendapatkan jodoh sebenarnya ada pada dirinya sendiri. Salah satu alasannya, seumur hidup, ia sama sekali belum pernah pacaran. Hal itu di satu sisi menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran tertentu dalam menentukan jodoh.

“Saya tahu kalau tak ada manusia [jodoh] yang sempurna. Dalam memahami perempuan, banyak prasangka-prasangka yang bikin tambah khawatir,” kata lelaki asal Banjarnegara, Jawa Tengah itu.

Ia sebenarnya pernah menargetkan untuk menikah di usia 27 tahun. Tapi, Allah punya rencana lain untuknya. “Setiap laki-laki pasti ingin jodoh yang cantik sekaligus salehah. Ustaz dan kiai saya pernah menawarkan calon istri, tapi saya yang belum maju,” kata dia sambil tertawa.