Manusia Diperintah Bukan untuk Berlomba-Lomba Menebar Kebencian

Kerukunan yang dipupuk sejak kecil jangan sampai berubah gara-gara perbedaan pandangan politik. (JIBI/Bisnis Indonesia - AP)
18 Februari 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Allah SWT menciptakan manusia dalam suatu keadaan yang heterogen atau berbeda-beda, bukan ciptaan yang homogen. Baik dalam beragama, pemikiran, dan berbagai urusan duniawi. Allah bisa saja hanya menciptakan sebuah umat atau segala sesuatunya menjadi homogen, namun semua itu menjadi ujian manusia dalam menjalani hidup.

Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah : 48, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”

Dalam ayat tersebut jelas, bahwa segala perbedaan yang ada di muka bumi merupakan kehendak Allah. Manusia sedang dalam ujian Allah untuk melalui segala perbedaan, dengan berbagai perbedaan Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam perbuatan baik bukan berlomba untuk saling memfitnah, menghasut, dan menebar kebencian.

Ustaz Reynal Falah saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya di Kecamatan Banjarsari, Solo, belum lama ini, mengatakan setiap muslim dan beriman di belahan bumi mana pun sesungguhnya mereka adalah saudara, meskipun terdapat berbagai perbedaan hingga ke dalam urusan dunia yakni perbedaan organisasi, pandangan politik atau pilihan politik.

“Dalam Alquran dijelaskan bahwa setiap mukmin adalah bersaudara. Semangat yang diusung adalah semangat ukhuwah jadi saling merangkul bukan saling memukul,” ujar Ketua Lazismu Kota Solo itu.

Ia menambahkan konsep persaudaraan telah tertulis dalam Alquran. Tentunya sebagai muslim, hal itu harus diutamakan. Bukan mengutamakan kepentingan kelompok maupun golongan. Ia menjelaskan apabila sesama umat muslim berkonflik hanya karena kepentingan politik atau bahkan mengatakan bahwa golongan di atas segalanya, hal itu merupakan kesalahan karena melupakan ukhuwah islamiyah.

Allah berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah padamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara.(QS. Ali Imran : 103)

Menurutnya, Islam telah mengatur segala hal, juga urusan berpolitik. Dalam konteks memilih pemimpin, Alquran telah memberikan rambu-rambu. Sebagai umat Islam tentunya menggunakan rambu-rambu itu adalah hal yang sah dan wajar, agama lainnya pun juga memiliki rambu-rambu tersendiri. Dengan hal itu akan menjadikan kompetisi secara sehat dan baik. Dalam demokrasi yang menggunakan suara terbanyak atau mayoritas suara yang menentukan. Namun bukan berarti mayoritas melakukan tindakan meniadakan peran golongan lain atau minoritas. Menurutnya, demokrasi dapat dipahami sebagai alat dan bukan merupakan sebuah tujuan. Ketika alat tersebut dapat digunakan dengan baik maka niscaya akan menghasilkan sesuatu hal yang baik pula termasuk melakukan perbaikan.

Dalam memilih memimpin tentunya mengutamakan sosok yang memiliki sifat-sifat Rasulullah yakni sidiq, amanah, tablig, dan fathonah.

Rasulullah bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Takwa adalah di sini. Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali. (kemudian beliau bersabda lagi) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang muslim terhadap muslim lain: haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim)

Islam hadir untuk mempersatukan umat-umatnya bukan untuk memecah belah. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan kepada sesama muslim adalah cara dalam menghadapi segala ujian yang ada di dunia. Pesta demokrasi juga merupakan skenario Allah, manusia harus dapat bersikap dengan bijak dan selalu mengingat Alquran yang menyebutkan bahwa segala perbedaan adalah ujian dari Allah.