Ada Berkah dalam Setiap Tetesan Hujan

Hujan yang mengguyur sejumlah daerah belakangan ini mengakibatkan genangan. (dok)
20 Februari 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Beberapa hari terakhir Soloraya diguyur hujan, khususnya pada sore dan malam hari. Banyak yang bersukaria dan berbahagia atas anugerah dari Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut. Tak hanya manusia, tetapi seluruh makhluk bersyukur karena air memang menjadi kebutuhan tak tergantikan yang diperlukan seluruh makhluk hidup.

Salah satu pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina Sragen, Ustaz Dede Wahyudin, menerangkan Islam memandang air hujan sebagai berkah yang diturunkan Allah kepada makhluk dunia. Menurutnya, hal itu tercantum secara nyata dalam Alquran Surat Qaf ayat 9, “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (dipanen).”

“Hujan yang diturunkan Allah adalah berkah, bukan musibah,” ujarnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Ustaz yang juga menjadi pengajar di SDIT Al Manan Boyolali itu mengatakan dengan adanya berkah itu, sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk bersyukur kepada Allah. Ia menyebut sebagian besar manusia bersyukur karena hidup mereka tergantung pada hujan.

“Kita bisa meihat petani hingga penjual mantel hujan mendapatkan rezeki dari turunnya hujan. Memang, mungkin ada sebagian orang yang dirugikan dengan hujan, tapi semua itu sudah sesuai hukum keseimbangan,” papar dia.

Ia mengatakan, umat Islam hendaknya memohon keberkahan dari turunnya hujan. Rasulullah telah mengajarkan sebuah doa. Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari)

Lebih lanjut, ia mengatakan seorang muslim hendaknya memiliki mindset positive thinking terhadap ketentuan Allah, termasuk soal hujan. Jika hujan kemudian berkembang menjadi bencana seperti banjir, maka sesungguhnya Allah tidak pernah melakukan kezaliman sekecil apa pun kepada hamba-Nya.

“Semua yang menimpa manusia ada hikmahnya, termasuk turunnya hujan ke muka bumi. Bahkan, seandainya hujan turun sangat deras disertai guntur yang menyambar, maka saat itulah waktu yang mustajab untuk memanjatkan segala doa kepada Allah,” tutur dia.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, dalam website resminya rumaysho.com, menyatakan ada beberapa hal keimanan yang mesti diimani seorang muslim berkaitan dengan hujan. Pertama, tidak ada yang mampu menurunkan hujan melainkan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

Sebagian ulama seperti penulis tafsir Al Jalalain mengatakan bahwa rahmat yang dimaksudkan di sini adalah rizki dan hujan. Al Qurthubi mengatakan bahwa sebagian ulama menafsirkan rahmat dalam ayat di atas dengan hujan atau rizki. Mereka mengatakan, “Hujan atau rizki yang Allah datangkan pada mereka, tidak ada satu pun yang dapat menahannya. Jika Allah menahannya untuk turun, maka tidak ada seorang pun yang dapat menurunkan hujan tersebut.”

Kedua, hujan adalah kejadian gaib dan hanya Allah yang tahu kapan hujan turun. Hal itu sesuai Alquran Surat Luqman: 34, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kunci ilmu gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. [1] Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yangg terjadi keesokan harinya. [2] Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. [3] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang ia lakukan besok. [4] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di manakah ia akan mati. [5] Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” Lima hal itulah yang disebut dengan mafatihul gaib (kunci ilmu gaib).

Ketiga, ada malaikat yang bertugas menurunkan hujan. Dalam Al Mu’jam Al Kabir, Imam Ath Thobroni meriwayatkan tentang percakapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan malaikat Jibril, di antaranya, “Aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya, “Tentang apakah Mikail itu ditugaskan? Ia (yaitu Jibril) menjawab, “Ia ditugaskan mengurus tanaman dan hujan.”

Keempat, turunnya hujan telah ditulis di Lauhul Mahfuzh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah qolam. Lalu Allah firmankan padanya, ‘Tulislah’. Qolam mengatakan, “Apa yang akan aku tulis?’ Allah berfirman, ’Tulislah berbagai takdir dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat’."

Kelima, ucapan istighfar dapat menyebabkan turunnya hujan. Allah Ta’ala berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Keenam, kewajiban zakat yang tidak ditunaikan dapat menghalangi turunnya hujan. Jika suatu kaum yang sudah memiliki kewajiban mengeluarkan zakat enggan mengeluarkan zakat, itu bisa menjadi sebab terhalangnya turunnya hujan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, maka mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.”

Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum mengingkari janji mereka melainkan akan ada pembunuhan di tengah-tengah mereka. Tidaklah tampak perbuatan keji di tengah-tengah suatu kaum melainkan Allah akan kuasakan kematian pada mereka. Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat melainkan Allah akan menahan hujan untuk mereka.”