Wahai Suami, Apa Program untuk Istri dan Anak-Anakmu?

Menghabiskan waktu bersama ayah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak. (dok)
21 Februari 2019 02:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Lelaki memiliki kedudukan yang mulia dalam khazanah Islam. Kaum Adam memiliki tugas sebagai pemimpin keluarga, imam bagi pasangannya, ayah bagi anak-anaknya. Mereka juga senantiasa berjuang, berikhtiar, untuk menggapai rizki Allah bagi keluarganya.

Bahkan, setelah ikrar sighat taklik atau ijab-kabul dalam pernikahan, maka mulai saat itu juga semua tanggung jawab untuk membimbing dan menghidupi istrinya berada di pundaknya, termasuk menanggung dosa yang mungkin saja dilakukan oleh sang istri. Saat sudah memiliki anak, dia harus mampu mengarahkan anak-anaknya menapaki jalan Islam hingga mereka semua selamat dari siksa api neraka di Yaumul Akhir.

Allah berfirman dalam Alquran Surat An Nisa: 34, “Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Pendiri Komunitas Peduli Anak dan Perempuan (KPPA) Benih Solo, Ustazah Vida Robiah Al Adawiyah, mengatakan konteks Al qawwam dalam An Nisa 34 tidak sekadar diartikan sebagai bos, tetapi leader atau pemimpin. Dalam falsafah Jawa, hal itu sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara, tut wuri handayani.

Seorang suami/ayah harus mencukupi kebutuhan materi keluarganya. Mereka harus berupaya menyediakan sandang, pangan [makanan], dan papan [tempat tinggal]. Sebagian ulama berpendapat seorang suami hendaknya memberikan makanan yang siap disantap kepada istrinya, bukan hanya bahan makanan.

Ustazah Vida menuturkan laki-laki memang mendapat kelebihan dari sisi akal, pemikiran, dan fisik. Suami hendaknya memiliki program yang jelas terhadap istri dan anak-anaknya. Suami atau ayah juga harus punya visi keluarga.

“Suami hendaknya memiliki program pendidikan, tarbiyah, dan perencanaan finansial yang matang untuk keluarganya,” ungkapnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Seorang suami/ayah juga hendaknya mampu menyapa jiwa anak-anak mereka. Dengan sikap dan komunikasi yang baik, anak kecil akan tersentuh jiwanya. Menurutnya anak-anak memerlukan sosok yang bisa menyapa jiwa mereka sehingga mereka mendapat sosok yang bisa menjadi panutan. Sapaan jiwa itu tergantung dari kemampuan komunikasi sang suami/ayah.

“Rasul pernah menemui seorang anak kecil. Anak itu bercerita dia memiliki burung. Pada kesempatan yang lain, Rasul kembali bertemu anak itu. Rasul menanyakan kabar burung, ternyata burung itu sudah mati. Ada proses komunikasi yang baik yang dicontohkan Rasul kepada anak kecil. Hal itu bisa jadi contoh bagi para ayah masa kini,” papar ibu lima anak tersebut.

Selain itu, lelaki hendaknya memiliki azzam yang kuat untuk memperbaiki keturunannya sehingga kelak tidak meninggalkan generasi yang lemah. Ustazah Vida mengatakan hal itu disampaikan Allah dalam An Nisa: 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Muara dari semuanya itu adalah menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka. Hal itu tercantum dalam At Tahrim: 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

“Seorang suami dan ayah hendaknya menekankan dirinya dan keluarganya untuk menjaga akidah, salat, dan segalanya agar dirinya dan keluarganya terhindar dari api neraka kelak di Hari Akhir,” kata dia.