Bersikaplah Hormat, karena Hak Guru Lebih Besar daripada Hak Orang Tua

Guru adalah sosok yang harus digugu dan ditiru. (dok)
23 Februari 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Fenomena generasi muda yang luntur unggah-ungguhnya terhadap orang yang lebih tua belakangan ini mengemuka. Ada murid yang dengan sengaja menantang guru di kelas di salah satu sekolah di Jawa Timur, ada pula sejumlah murid yang mengeroyok staf sekolah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, kasus penganiayaan terhadap guru di sejumlah daerah juga pernah mencuat dan mengundang keprihatinan banyak pihak. Jelas, aneka macam perlakuan buruk yang diterima guru itu mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Guru yang seharusnya menjadi contoh dan sebagai orang tua kedua di sekolah justru tidak diajeni.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, menjelaskan, “Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalau bukan karena jerih payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tidak bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.”

Ketua Lazismu Kota Solo Ustaz Reynal Falah saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan peristiwa seorang murid yang berani kepada gurunya merupakan fenomena gunung es. Ia meyakini masih banyak kasus yang tidak tersorot media. Menurut ustaz yang juga pernah menjadi guru di SMP Swasta di Kota Solo itu keluarga menjadi elemen yang bertanggung jawab atas penanaman sikap sopan santun seorang anak.

Bagaimana anak menghormati orang yang lebih tua terjadi di dalam keluarga, maupun orang yang tak dikenalnya. Ketika keluarga tidak dapat menjalankan transfer karakter luhur dengan baik akhirnya anak-anak muda akan kehilangan orientasi berbuat luhur.

“Mereka berbuat seperti itu karena tidak ada yang dijadikan contoh. Anak muda cenderung meniru habis-habisan sosok yang diidolakan. Ketika orang tua mampu membuat anaknya mengidolakannya itu hal yang luar biasa bagi pendidikan karakter anak,” ujarnya.

Ia menambahkan usia remaja merupakan masa pencarian dan krisis identitas. Maka dalam menyikapi anak-anak, orang tua dan guru dapat mengarahkan untuk mengidolakan sosok yang baik. Anak dapat diarahkan untuk mengidolakan sosok Nabi Muhammad SAW hingga mengidolakan orang tuanya sendiri.

Ia menambahkan efek dari globalisasi tak dimungkiri juga sangat berpengaruh pada perilaku anak. Seringkali informasi yang didapat anak dari gadget tidak ada pengarahan dari orang tua. Ia menegaskan, hal paling penting dalam membentuk karakter anak yakni fungsi keagamaan yang diberikan dari orang tua. Apabila orang tua dapat mendidik anaknya dengan baik sesuai tuntunan agama, maka perilaku tidak sopan itu tidak akan terjadi. Menurutnya, orang tua tidak boleh hanya pasrah dengan pendidikan yang diajarkan di sekolah. Namun, justru lingkungan keluarga memiliki peran yang utama karena memiliki intensitas waktu yang tinggi.

“Menjadi hal yang membahagiakan ketika seorang anak mengidolakan orang tuanya. Namun, menjadi sebuah petaka ketika anak tidak mengidolakan orang tuanya. Hal ini terdapat dalam psikologi agama. Orang tua dapat menjadi sosok malaikat dengan menanamkan hal-hal baik dari hal yang terkecil. Secara otomatis anak akan mengidolakan sosok orang tuanya. Dalam akhlak Islam, guru harus mencotohkan akhlak baiknya,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa akhlak untuk berinteraksi dengan guru sebagai tauladan. Siswa harus memperlakukan guru dengan hormat. Guru merupakan orang yang membuat seseorang pintar dan membuka jalan agar sang murid bisa menggapai cita-citanya. Meskipun muridnya sudah dewasa atau usianya tidak terlalu jauh dengan guru, rasa hormat harus tetap dijunjung. Siswa berkewajiban untuk mengikuti segala perintah guru dengan baik tanpa boleh membangkang selama perintah guru itu menuju kebaikan. Ketika sedang proses belajar, tidak diperbolehkan untuk menyela apa yang ia sampaikan. Itulah sebagian adab murid terhadap guru.

Di sisi lain, guru juga harus dapat memperlakukan siswa dengan baik. Jangan sampai siswa merasa guru pilih kasih terhadap siswa. Adanya rasa perbedaan perlakuan akan melahirkan rasa sikap tidak menghormati dari murid-muridnya. Kemudian, seorang guru yang baik harus mau dan mampu mendengar keluh kesah dari muridnya. Ketika murid berani bercerita apa yang dirasakannya, hal itu merupakan bukti sebuah rasa kepercayaan dari murid kepada guru. Maka, guru harus mau mendengar dengan memberikan saran yang solutif.

“Saya pernah mempraktikkan hal itu ketika menjadi seorang guru. Sebenarnya siswa tahu apa yang harus dilakukan. Di usianya yang labil murid-murid membutuhkan penguatan rasa sehingga siswa tidak takut berkomunikasi dengan guru yang dampaknya ke depan adalah rasa hormat yang ditanamkan kepada siswa,” ujarnya.

Seorang guru harus memiliki rasa cinta meskipun beberapa murid terkadang bandel atau nakal. “Sikap yang dilakukan seorang guru di video yang viral itu sangat luar biasa. Meskipun dimaki-maki namun beliau tidak membalas.”

Menurutnya, guru tidak bersikap kalah namun justru menang dengan hanya diam. Akan berbeda cerita ketika guru justru membalas. Ia meyakini rasa yang ditanamkan kepada guru itu bagaimanapun perilaku muridnya, murid itu tetap seorang anaknya yang harus ia didik.

Perubahan siswa yang nakal untuk berubah menjadi lebih baik tidak bisa instan. Butuh proses. Namun yang harus diyakini proses untuk mengubah perilaku tetap akan berhasil. Banyak hal terjadi, ketika murid-murid saat sekolah bandel namun ketika lulus dan bertemu gurunya, sang murid sudah menyadari apa yang dilakukannya saat bersekolah itu merupakan hal yang kurang baik. Mereka sudah dapat memetik pelajaran maupun hikmah kehidupan yang dialaminya semasa menuntut ilmu.