Begini Cara Islam Mengatur Debat

Walaupun berbeda pendapat, sebaiknya menghindari adanya debat kusir. (dok)
24 Februari 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Perbedaan pemikiran merupakan hal yang wajar terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Seringkali dalam menyampaikan pendapat terjadi perdebatan panjang yang tidak membuahkan hasil.

Dalam perdebatan yang tidak menghasilkan suatu perubahan atau hasil yang jelas justru membuat konflik terjadi antarsesama. Padahal apabila kedua individu dapat berdebat secara sehat dan dalam adab-adab Islam tentunya debat akan berlangsung cerdas dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kepentingan bersama.

Pengajar Agama Islam di SD Muhammadiyah PK Solo, Ustaz Wahyu Widodo, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan dalam memecahkan suatu persoalan, debat merupakan pilihan terakhir. Sebagai umat Islam sebaiknya mengutamakan komunikasi untuk mencarai solusi terbaik. Dalam menyelesaikan perbedaan atau suatu masalah dapat disikapi dengan santai. Terjadinya masalah seringkali berawal tidak adanya sebuah komunikasi awal.

Allah berfirman, “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka yang baik.” (Q.S An. Nahl 125)

Dalam ayat tersebut disebutkan berdiskusilah dengan cara yang baik. Berdiskusi hingga berdebat kusir yang berujung pada mencela bukan ajaran Islam. Ia menambahkan, dalam membantah sebuah pemikiran, wajib menggunakan bantahan yang halus dan baik sebagai cermin ajaran Islam.

Menurutnya, setiap orang memiliki pandangan, pemikiran yang berbeda-beda. Berkomunikasi dengan cara yang santun merupakan cara awal dalam menyelesaikan masalah. Ketika dinasihati dengan pendapat lain yang dirasa lebih baik maka wajib diskusikan dengan cara yang baik. Debat sebagai cara memberikan argumen untuk mengadu pandangan, seyogyanya menghasilkan suatu hasil yang jelas.

Apabila jalan berdebat tidak dapat dihindarkan maka tema perdebatkan atau suatu hal yang dibahas harus jelas dan terfokus untuk menghasilkan sesuatu. Untuk mencari solusi atau kesepakatan wajib menggunakan cara yang baik. Meskipun perbedaan sangat tajam, kata dia, jangan sampai menggunakan kata-kata kasar yang dapat menyakiti perasaan lawan debatnya.

“Seringkali perdebatan menjadi panas atau debat kusir. Sifat menghargai harus tetap dijunjung tinggi apalagi sesama muslim. Apabila dari awal sudah tidak saling menghargai, debat tidak akan terfokus pada materi debat, namun cenderung mencela satu sama lain,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam berdebat tidak boleh memotong pembicaraan orang lain atau lawan debatnya. Rasulullah bersabda, “Jika engkau mengatakan ‘diamlah’ kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri.” (HR. Ahmad)

Menurutnya, debat tidak boleh digunakan hanya sebagai kesenangan belaka sehingga pembicaraan dalam debat seringkali keluar konteks dalam artian hanya bermain kata-kata. Dalam perbebatan tidak selamanya berbeda, apabila terdapat suatu titik temu maka harus mengakui bahwa pemikirannya adalah sama.

Menurutnya, apabila debat tidak menemukan suatu titik temu maka harus saling menerima dan introspeksi diri. “Dengan berintrospeksi diri dan memosisikan diri sebagai lawan yang memiliki argumen sama, maka secara tidak langsung akan muncul rasa menghargai. Ketika sudah disampaikan pemikiran, sudah saling mendengar masing-masing tanpa titik temu maka debat harus disudahi. Masih banyak cara yang lebih santun dari berdebat,” imbuhnya.

Ia menambahkan yang harus dipahami masyarakat adalah ukhuwah islamiyah atau rasa persaudaraan. Apa pun yang diperdebatkan sesungguhnya sesama muslim adalah bersaudara. Berbagai perbedaan yang ada di masyarakat dapat dijadikan sebuah hal yang positif dalam berbuat. Adanya sebuah perdebatan yang berakhir konflik dikarenakan kurangnya komunikasi, dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan sosialisasi yang tinggi. Ketika masyarakat dapat saling bertemu, sosialisasi, hingga berinteraksi tidak akan ada perdebatan yang memicu konflik.