Terpaksa Bohong agar Anak Berhenti Ngambek, Bagaimana Hukumnya?

Ilustrasi anak tantrum (todaysparent.com)
25 Februari 2019 03:30 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Kadang, tanpa disadari, para orang tua mendidik anaknya untuk berbohong. Padahal, Islam secara tegas melarang perilaku tersebut.

Mungkin saja, orang tua memang tak bermaksud untuk mengajarkan anak-anak mereka berbohong. Namun, hal itu sering kali terjadi saat anak ngambek saat meminta sesuatu. Orang tua yang mungkin kehabisan cara kemudian mengatakan akan menuruti permintaan sang anak dengan mengatakan misalnya, “Iya, besok Senin, ayah belikan mainan itu.”

Ternyata, kata-kata itu hanya kebohongan saja supaya sang anak diam, tidak merengek atau tidak lagi nangis. Padahal, jika ditelaah, hal itu sebenarnya adalah pendidikan yang keliru dan berpotensi diwarisi oleh sang anak.

Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihin, Gunungkidul, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, dalam website resminya rumaysho.com mengatakan berbohong dalam kondisi semacam itu terkena ancaman hadis, “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sang ustaz menjelaskan Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis tersebut menerangkan tanda munafik. Orang yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut.

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Muslim).

Ustaz Abduh menjelaskan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, “Beritahu saja bapak tidak ada di rumah.” Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyyatil Abna’).

“Semoga Allah memudahkan untuk mendidik anak-anak kita dengan mendidik mereka akhlak-akhlak yang luhur. Moga anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang saleh, berbakti pada orang tua dan bermanfaat untuk Islam,” ujarnya.

Pendiri Ngajiasyik.id, Ustaz Agus Setiawan, mengatakan berbohong dan dusta memang menjadi hal yang dilarang keras dalam Islam meskipun banyak orang menganggapnya hal yang sepele. Ia menjelaskan berbohong adalah akhlak tercela yang wajib dihindari karena pelakunya bisa disebut memiliki ciri orang munafik.

“Berbohong mengantarkan para keburukan dan kejahatan. Kejahatan dapat mengantarkan seseorang ke dalam neraka. Di sisi lain, kejujuran adalah suatu kebaikan yang insya Allah mengantarkan seseorang masuk ke dalam surge,” ujar lelaki yang aktif mengajak generasi muda belajar agama Islam tersebut saat diwawancara Solopos.com, belum lama ini.

Ia menilai fenomena berbicara bohong kini terjadi hampir di semua kalangan. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai suatu hal yang lumrah.

Ustaz Agus mencontohkan, kebohongan dilakukan dalam bisnis atau jual-beli handphone. Penjual HP kadang mengatakan HP yang ia jual berkondisi bagus, masih awet, dan hal menarik lainnya. Padahal, HP itu sudah berkali-kali rusak.

“Agar laku, mereka berbohong. Inilah salah satu pergeseran yang terjadi di dunia ini, yaitu kebahagiaan diukur selalu dari sisi materi. Bahkan, ada pepatah berkembang dalam bisnis kalau jujur bisa ajur atau kalau tidak ngapusi, tidak payu. Padahal, berbohong sangat dilarang,” terang dia.

Lebih lanjut, satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan lainnya. Seseorang yang sudah berbohong sekali, akan melakukan kebohongan kedua untuk menutupi kebohongan pertama. Dan begitu selanjutnya sampai kebohongan itu terkuak.

Umat Islam hendaknya memahami segala sesuatu akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya kelak. Orang yang berbuat baik akan mendapat ganjaran kebaikan. Sementara orang yang berbuat buruk akan mendapat ganjaran keburukan pula.

Setiap aktivitas akan dihisab kelak di Hari Akhir oleh Allah, termasuk dalam perkataan. Setiap muslim harus sadar betul sebagai makhluk Allah kita tak akan luput dari Hari Penghakiman. Kalau kita sadar, kita akan mengikuti perintah Rasulullah. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tanda orang beriman adalah jujur. Kalau tidak jujur, itu adalah salah satu tanda orang munafik,” pungkas dia.