Ini Tips untuk Ibu yang Bekerja di Rumah

Ilustrasi ibu bekerja di rumah. Ibu harus pandai memisahkan urusan domestik dan pekerjaan - Dokumentasi Solopos.com
27 Februari 2019 01:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Bagi para ibu, bekerja dari rumah selama ini dianggap sebagai win-win solution. Di satu sisi bunda tidak lagi diliputi kekhawatiran kondisi anak selama ia bekerja di luar rumah. Sisi lainnya memberikan akses aktualisasi diri yang penting bagi perempuan.

Buat yang sudah menjalaninya, jalan tengah populer bagi para ibu yang mendambakan fleksibilitas ini rupanya tak segampang kelihatannya. Seperti curahan hati CEO jenama lokal Chic and Darling, Kania Annisa Anggiani, lewat akun media sosial pribadinya.

“Bekerja dari rumah bukanlah ide yang buruk. Sampai anak kalian bergelantungan di leher, berteriak menuntut perhatian, muntah di komputer jinjing pas lagi membalas surat elektronik. Aku pernah mengalami semuanya sewaktu merintis Chic and Darling. Sampai akhirnya memutuskan bikin kantor mandiri yang layak,” tulisnya.

“Tapi walaupun sudah pindahan kantor, tantangannya beda lagi. Kalau di kantor mikirin anak, kalau di rumah mikir kerjaan. Ini soal manajemen waktu sih yang lebih mudah diucapkan daripada dikerjakan. Jadi tetap penting banget di rumah ada tempat kerja yang pewe [enak] untuk para pekerja rumahan,” katanya lagi.

Setali tiga uang dari Kania, Putri yang sehari-hari bekerja menjadi pembuat konten juga punya pengalaman sejenis. Terlebih saat ini kedua putranya yang baru berumur 1,5 tahun dan lima tahun, sedang rajin menuntut perhatian.

“Selama ini memang kerap bawa pulang pekerjaan. Karena tidak semuanya bisa dirampungkan di luar rumah. Sementara aku dan suami sama-sama bekerja. Sedangkan anak enggak bisa selamanya dititipkan ke penitipan. Solusinya ya bawa pulang kerjaan dan dikerjakan di rumah,” tuturnya ketika berbincang dengan Solopos.com.

Selama bekerja di rumah, Putri menyebutkan bentuk pengalihan paling intens adalah si bungsu yang berulang kali meminta ASI. Selain itu, putra sulungnya juga kerap rewel ingin mainan telepon pintar begitu ibunya yang bekerja dengan gawai merampungkan pekerjaan.

“Yang pasti, susah sekali konsentrasi. Kalau adiknya sudah ndusel minta susu. Kakaknya akan merajuk juga minta mainan telepon pintar yang sedang kupakai bekerja. Dia pasti akan minta diputarkan video kesukaannya di Youtube. Belum lagi gantian ada yang minta mainan, pup, makan, dan minum,” bebernya.

Minus bantuan asisten rumah tangga, Putri selama ini lebih nyaman bekerja di rumah tanpa batas sekat khusus dari kedua buah hatinya. Menurutnya, cara ini efisien agar ia bisa merampungkan pekerjaan sekaligus tidak kerepotan menjaga anak-anaknya sewaktu sang suami mengantor. 

“Kalau sudah kepepet tenggat, sebisa mungkin aku harus merampungkan pekerjaan dulu. Biasanya anak yang besar aku jelaskan kalau mama kerja dulu. Kakak main temani adik sambil disiapkan mainan,” jelasnya.

Lain lagi pengalaman Ayu. Ibu muda yang baru dikaruniai bayi berusia lima bulan ini baru merasakan repotnya mengurus bayi sambil menjalankan bisnis pakaian bayi dan suvenir pernikahan. “Ya, ini sudah mulai terasa. Tapi masih bisa handle karena ada yang bantu ngurus pekerjaan juga. Bayi dan rumah full aku yang urus,” terangnya.

Ayu mengatakan selama ini terbantu dengan putrinya yang cenderung tidak rewel. “Pagi hari setelah anak mandi dan tidur pagi sampai jam 10 itu biasanya aku pakai buat beberes rumah. Habis itu dia bangun biasanya minta ke luar rumah mencari angin di depan. Sekalian main sama tetangga yang anaknya baru pulang dari TK. Habis itu baru main sekitar satu jam terus dia main sendiri. Baru deh aku menyambi beberapa pekerjaan,” kata dia.

Ayu selama ini lebih nyaman memisahkan urusan domestik dan pekerjaan kendati semuanya sama-sama dikerjakan di rumah. Menurutnya, hal itu penting sebagai antisipasi ke depan buah hatinya tumbuh lebih aktif.

“Pekerjaanku di bidang konveksi dan kerajinan kadang banyak benda-benda berbahaya buat anak kayak jarum, gunting, dan sebagainya. Punya bapaknya juga kadang membawa tumpukan kertas kerja dari kantor. Bahaya juga kalau sampai tercecer. Jadi butuh ruangan khusus untuk kantor di rumah,” kata dia.

Era digital memberikan keuntungan fleksibilitas yang bisa dimanfaatkan setiap orang. Termasuk para ibu untuk mulai membangun karier secara online atau merintis bisnis. Seperti disarikan dari Classycareergirl.com dan Parents.com, terdapat beberapa tantangan yang wajib diantisipasi para ibu pekerja di rumah dengan buah hati yang masih butuh banyak perhatian. Berikut ini beberapa solusi yang bisa diterapkan:

Bangun Jejaring

Tidak seperti pekerja kantoran, bekerja di rumah lebih rentan kesepian. Terlebih jika kita tidak memiliki komunitas. Ada juga perasaan minimnya dukungan, terutama bagi yang baru merintis bisnis. Terkadang tidak ada teman berbagi saat kita berjalan ke arah benar atau keliru. Apalagi di era banjir informasi seperti saat ini.

Susun Jadwal

Keseimbangan antara urusan pekerjaan dan domestik selalu jadi isu utama baik pekerja kantoran maupun rumahan. Kuncinya terletak pada manajemen waktu. Tetapkan jam berapa kita harus memegang pekerjaan? Kapan kita mendampingi anak? Fleksibilitas harusnya bisa dimanfaatkan. Ketika si kecil tiba-tiba rewel minta bermain di taman, kita bisa menggeser tempat kerja ke taman. Jika punya bos atau rekan kerja yang butuh laporan, sampaikan di awal jam berapa saja kita siap merespons.

Manfaatkan Jam Tidur Anak

Momentum ini jadi saat tepat untuk merampungkan pekerjaan tanpa gangguan. Gunakan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas yang butuh fokus dan konsentrasi. Jangan tergoda untuk merampungkan tugas domestik. Siapkan mainan atau barang favorit di dekat si kecil untuk berjaga-jaga sewaktu dia terbangun agar tidak rewel. Cara ini juga perlu agar anak belajar menenangkan dirinya sendiri.

Pisahkan Urusan Domestik dan Pekerjaan

Jika kita tidak memisahkan urusan domestik dan pekerjaan di rumah, kita selamanya terpenjara dalam perasaan kehidupan tidak pernah seimbang. Untuk menyiapkan mental kita dan bisa memisahkan pikiran untuk bekerja dengan urusan rumah, siapkan tempat khusus untuk bekerja. Tujuannya agar tetap fokus. Gelar semua yang harus dikerjakan di ruang khusus tersebut agar kita tergerak untuk lekas merampungkannya. Bikin ruangan senyaman mungkin. Manfaatkan salah satu sudut ruangan lantas hias sesuai selera.

Siapkan Hiburan

Sejenak berikan waktu berkualitas sebelum mulai bekerja. Kita bisa memulainya dengan bermain bersama. Saat sudah asyik, siapkan mainan untuk membuat anak tetap sibuk. Kalau mainan belum mempan, siapkan tontonan selama ibu bekerja. Saat si kecil sibuk, mereka cenderung tidak mengganggu ibunya. Kita juga bisa bisa merancang aktivitas khusus yang bisa menghibur sekaligus mengedukasi anak-anak sementara kita merampungkan pekerjaan. Misalkan arahkan anak bikin menara dari Lego. Lalu ketika sudah selesai, arahkan mereka membereskannya. Aktivitas untuk distraksi si kecil yang sudah tumbuh besar bisa ditingkatkan levelnya dengan membantu kita bekerja misalkan membereskan kertas.

 Antisipasi Interupsi

Setiap ibu bekerja dari rumah punya pengalaman serupa: interupsi anak. Di tengah-tengah menelepon klien, tiba-tiba si kecil merengek minta nonton serial kesayangan. Tak jarang klien terpaksa mendengar anak kita rewel. Untuk menghadapi situasi semacam ini, sebisa mungkin akhiri panggilan dan jadwalkan ulang untuk menelepon balik jika memungkinkan. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan respons belas kasihan dari orang lain atau klien setiap saat. Yang lebih penting, orang tua mengajarkan kepada anaknya bahwa ibunya sedang bekerja sehingga anak jangan mengganggu dulu. Kita bisa memberi isyarat atau menutup pintu ruangan saat sedang tidak ingin diganggu. Dengan jalan seperti ini anak belajar jika mereka tidak selalu bisa mendapat perhatian.

 Peduli Diri Sendiri

Menjadi ibu tidak lantas melupakan kebahagiaan diri sendiri. Berikan ruang untuk diri sendiri terutama saat bekerja dari rumah. Sesekali kita perlu keluar dari rutinitas agar segar dan bisa produktif di kemudian hari. Tak perlu sungkan untuk minta dukungan orang lain. Sesekali kita bisa menitipkan anak ke penitipan saat kondisinya mendesak. Bisa juga minta bantuan tenaga infal, saudara, orang tua, atau suami