Umat Islam Ada yang Kurang Pede Sebutkan Alquran Sebagai Referensi

Ilustrasi teks Alquran. (Reuters/Mohamed Abd El Ghany)
28 Februari 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Umat Islam hendaknya bersyukur atas karunia Alquran dan karunia diturunkannya Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir. Keduanya adalah karunia yang sangat besar dan penting bagi manusia.

Alquran sebagai petunjuk hidup dan Rasulullah sebagai teladan dalam menjalani dan mengamalkan petunjuk hidup itu. Dengan demikian, umat Islam telah memiliki bekal agar hidup sesuai dengan kehendak yang Maha Menciptakan kehidupan, yaitu Allah SWT.

Alquran merupakan petunjuk hidup bagi seluruh manusia, yang akan membawa pada kemuliaan hidup dunia dan akhirat. Allah sendirilah yang menyatakannya secara langsung di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?“ (Al-Anbiya: 10)

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Kabupaten Karanganyar, Ustaz Joko Pramono, menjelaskan Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi, seorang penafsir Alquran terkemuka, memberikan keterangan mengenai kata dzikrukum dalam ayat tersebut sebagai kemuliaan kalian’ Jadi, Alquran ialah pedoman dasar orang-orang yang menghajatkan hidup mulia di dunia dan akhirat. Dan sebaliknya, orang yang tidak mau memegang dan berkomitmen terhadap Alquran pasti akan menjadi golongan orang yang hina lagi rendah.

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Alquran) dan dengannya pula Dia rendahkan yang lain.” (H.R. Muslim)

Namun, Ustaz Joko menilai banyak di antara kalangan umat Islam yang kurang bergembira menyambut berita Alquran dan hadis tersebut. Bahkan, tak jarang dijumpai ada orang Islam yang merasa risih dan tidak percaya diri ketika harus menyebutkan Alquran sebagai referensi di tengah-tengah perbincangan, forum diskusi atau seminar.

Padahal, Nabi Muhammad telah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian ialah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Lebih lanjut, Ustaz Joko menerangkan, sebagai umat Islam yang ingin meneladani Nabi, maka sesungguhnya ia telah membumikan Alquran. Rasulullah memiliki kepribadian yang istimewa karena segala ucapan dan perbuatan beliau selalu bersesuaian dengan Alquran. Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, ibunda Aisyah mengatakan,“Akhlak beliau ialah Alquran.” (H.R. Ahmad)

Ustaz Joko mengatakan, Rasulullah memang sering diibaratkan Alquran yang hidup dan berjalan di muka bumi. Namun, ungkapan itu bukan berarti ada Alquran yang jalan-jalan.

“Ungkapan Rasulullah layaknya Alquran yang berjalan maknanya karena apa saja yang diperintahkan Alquran pasti beliau lakukan, dan apa saja yang dilarang Alquran beliau tinggalkan. Selain memang Allah telah menciptakan beliau dengan sebaik-baik tabiat dan akhlak, seperti rasa malu, dermawan, berani, pemaaf, sangat sabar dan lainnya sebagai perangai yang baik,” ujarnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Keindahan akhlak tersebut terwujud dalam segala aspek kehidupan seperti rumah tangga, masyarakat, negara, bahkan dengan musuh-musuh Islam. Tidak heran masyarakat Quraisy yang dikenal paganis, menyembah berhala, sudah pernah memberi gelar kepada Muhammad dengan Al-Amin, karena pada diri beliau melekat empat sifat terpuji, yakni shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Maka, lanjutnya, sebagai umat Rasulullah, sudah sepantasnya umat Islam menapaki jalan yang telah dilalui dan ditunjukkan oleh beliau yaitu jalan Islam, jalan Alquran. Hal itu dilakukan dengan mengkaji dan memahami Alquran lalu mengamalkan dalam kehidupan dengan mengikuti contoh pengamalan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

“Kita kaji sunah nabi lalu kita hidupkan dalam diri, keluarga, masyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara,” terangnya.

Ia mewanti-wanti agar umat jangan sampai tidak mengenal sunah. Apalagi sampai membenci sunah nabi atau membenci orang-orang yang telah berbulat hati menghidupkan sunah nabi dalam kehidupannya. Nabi bersabda, “Siapa yang membenci sunahku maka bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari-Muslim)