Liburan Sambil Tadabur Alam, Seru Juga Kok

Berlibur bersama teman atau keluarga bisa dilakukan di mana saja. (dok)
02 Maret 2019 02:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Melakukan perjalanan atau berlibur seperti saat ini sangat umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun, mengisi waktu libur sering kali digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Dalam firman Allah disebutkan, “Berjalanlah kamu (di muka bumi) lalu lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS An-Naml : 96)

Menurut Dr. Abdul Muhaimin Abdus Salam Ath-Thahhan dalam Ushulud Dakwah, pada dasarnya tabiat manusia yang Allah ciptakan tidak menyukai beban yang memberatkan, bosan dengan pekerjaan yang melelahkan, capai jika semua kesempatan tersita untuk bekerja, terlebih pekerjaan yang membebani jiwa seperti amal ibadah. Terkadang rasa bosan dan capai akan menyergap ke relung jiwa sehingga manusia dapat drop hingga berujung kegagalan sehingga manusia membutuhkan suasana lain yang bisa membuat rehat otak, fisik, dan jiwanya.

Ustaz Eko Julianto, Pengasuh Pondok Pesantren Santri Manjung, saat ditemui Solopos.com beberapa waktu lalu di Kabupaten Wonogiri, mengatakan mengisi liburan atau perjalanan sebaiknya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Bagi orang tua yang menyayangi anak-anaknya waktu liburan bisa menitipkan anaknya di pondok pesantren untuk memerdalam ilmu agama. Hal itu lebih bermanfaat daripada hanya di rumah atau bepergian yang kurang bermanfaat,” ujar Eko Julianto.

Menurut Ustaz yang juga polisi berpangkat Brigadir itu, dengan berlibur di pondok pesantren juga merupakan cara bersyukur yang hakiki dalam memanfaatkan waktu. Ia menambahkan tidak ada larangan untuk berlibur ke pantai atau ke gunung namun lebih bermanfaat ketika dapat berkumpul dengan orang alim.

“Anak-anak sering kali ragu saat memanfaatkan liburan ke pondok, takut tidak dapat bermain handphone. Di pondok boleh bermain handphone namun dengan batasan waktu dan pengawasan dari ustaz-ustaz pondok. Diharapkan agar menyerap informasi yang bermanfaat, santri harus paham teknologi dan tidak boleh gaptek,” ujarnya.

Menurutnya, dalam berlibur atau menuju tempat wisata yang indah seperti pantai dan gunung harus membuat manusia sadar bahwa sungguh Allah Maha Besar dalam menciptakan apa pun untuk manusia. Ia menegaskan, manusia berkewajiban untuk menjaga ciptaan Allah dan dilarang untuk merusak ciptaan Allah. Dalam menentukan lokasi untuk liburan juga harus mempertimbangkan banyak hal, tidak dibolehkan pergi ke tempat yang tidak baik atau berbahaya seperti nekat berlibur ke gunung walaupun sudah ada imbauan untuk tidak mendaki gunung karena risiko bencana dan lainnya.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mulk: 15, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Dengan melakukan tadabur alam, kita diarahkan supaya memperoleh hikmah dan pelajaran dari Allah. Pengalaman yang diperoleh selama liburan juga wajib dijadikan sebagai pelajaran untuk menjalani hidup. Selama perjalanan juga dianjurkan untuk selalu mengingat Allah. Dalam hadis yang diriwayatkan Khaulah binti Hakim, Rasullah bersabda, “Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu berdoa aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya maka tidak ada suatu hal yang membahayakan dirinya sampai dia meninggalkan tempat tersebut.” (HR Muslim).