Islam Agama Proliterasi, Masihkah Kita Cuma Percaya pada Katanya?

Tri Marzuki, 35, (berkaus hitam lengan panjang), mantan anak punk asal Bulu, Sidoharjo, Sragen, belajar membaca Iqra di Masjid Nur Hidayah Sragen Tengah, Sragen, Rabu (16/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
04 Maret 2019 05:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Islam adalah agama yang sangat memerhatikan masalah literasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi dimaknai kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu:-- komputer; atau kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Perhatian pada literasi itu ditandai dengan wahyu pertama yang diterima Muhammad Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, yaitu Alquran Surat Al 'Alaq: 1-5. Dalam sirah (sejarah) Nabawiyah. Kala itu, Nabi Muhammad sudah tiga tahun lamanya mendatangi Gua Hira untuk berkhalwat (menyendiri) dan tafakur (merenung) peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Gua Hira adalah sebuah gua berukuran panjang 1,8 m (4 hasta) dan lebarnya 0,8 m (1,75 hasta).

Tiba-tiba Malaikat Jibril turun membawa wahyu. Muhammad yang sedang menyendiri pun terkejut dengan kedatangan Jibril. "Bacalah!" kata Jibril mendekati Muhammad yang terpaku. "Aku tidak bisa baca," ujar lelaki bergelar Al Amin tersebut.

Jibril terus mendesak Muhammad untuk membaca wahyu dari Allah SWT. Saking takutnya, badan Rasulullah sampai menggigil. Jibril pun memeluk Muhammad sambil memberikan selimut. Saat Muhammad sudah pulih, Jibril kembali mendesaknya,"Bacalah!".

Rasul yang bergelar Nabi Yang Ummi itu kembali mengatakan, "Aku tak bisa baca." Keringat pun mengucur deras dari segala penjuru tubuhnya. Jibril kembali memeluknya dan memberikan selimut. Kejadian itu kembali berulang. Jibril kemudian membacakan Al 'Alaq: 1-5, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya."

Para mufasir (ahli tafsir) menjelaskan iqra dalam ayat tersebut berarti baca, pelajari, mengerti. Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sukoharjo, Ustaz Khomsun Nurarif, mengatakan prinsip awal mula Islam saat Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul adalah budaya literasi yang tertuang dalam Al ‘Alaq. Makna turunnya lima ayat tersebut adalah Islam menekankan kepada umatnya untuk menjadi umat beragama yang cerdas dengan literasi (membaca dan menulis).

Sejarah mencatat Islam moncer dan mendunia karena menerapkan literasi dalam kehidupan umatnya. Budaya tersebut melahirkan banyak tokoh dan cendekiawan muslim yang terkenal tak hanya di kalangan umat Islam, tetapi juga seluruh kalangan umat manusia seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Al Khawarizmi, dan Ibnu Batutah.

"Namun, perlu dipahami, mereka menjadi tokoh yang mendunia tidak dengan cara instan. Mereka memperkaya bahan bacaan, menelaahnya, melakukan penelitian, hingga menjadi pakar dalam berbagai bidang keilmuan," paparnya saat diwawancarai Solopos.com, belum lama ini.

Ustaz Khomsun mengatakan, dalam sejarah Islam, kebangkitan Islam selalu dimulai dari ilmu dan literasi. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barang siapa yang menghendaki ilmu maka datangilah pintunya.” (H.R. Al Hakim).

Dalam Tarikh Islam juga diketahui sebuah cerita soal keutamaan literasi. Saat itu Perang Badar berkecamuk. Pasukan umat Islam menangkap 70 orang pasukan musuh yang kemudian ditawan. Ada berbagai opsi hukuman kepada mereka seperti dieksekusi mati, ditukar dengan tebusan atau menukar dengan umat Islam yang tertawan. Setelah syura' (musyawarah) bersama Rasulullah, diputuskan 70 tawanan tersebut akan dibebaskan dengan syarat masing-masing dari mereka mengajari 10 anak membaca dan menulis.

"Dalam waktu singkat, setelah kejadian itu, 700 orang Islam sudah dapat menulis dan membaca," terang penyuluh agama di Kementerian Agama (Kemenag) Sukoharjo tersebut.

Fakta lain seputar perhatian Islam atas literasi adalah keberadaan Baitul Hikmah pada masa Daulah Abbasiyah. Baitul Hikmah adalah semacam perpustakaan dengan koleksi kitab sangat banyak, termasuk kitab terjemahan kitab dari Yunani dan Romawi.

"Pendahulu kita memiliki semangat untuk belajar dan mencari ilmu yang sangat besar," terang dia.

Namun, pada zaman sekarang, budaya literasi di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia harus diakui mengalami penurunan. Generasi masa kini cenderung lebih rajin membaca status pada pesan terusan di Whatsapp atau Facebook. Padahal, informasi yang mereka baca bisa jadi bukan informasi yang utuh dan bahkan bisa berupa hoaks atau kebohongan.

Ustaz Khomsun mengatakan, kalangan santri memiliki semboyan untuk belajar ilmu dari para kiai yang mendapatkan ilmu tersebut secara bersanad dari para kiai-kiai sebelumnya. Mereka membaca kitab-kitab karangan para ulama sehingga ilmu yang dipelajari adalah ilmu yang komprehensif.

"Ada kekhawatiran, orang yang terbiasa mendapatkan informasi secara instan akan menganggap apa yang mereka baca dari Whatsapp atau FB tersebut sebagai sebuah kebenaran. Padahal, media sosial kerap dimanfaatkan sebagai media provokasi," paparnya.

Ia mengajak seluruh pihak dari kalangan umat Islam untuk membangkitkan budaya literasi yang dulu pernah mewarnai sejarah cemerlang Islam. Salah satu caranya, misalnya memperbaiki perpustakaan-perpustakaan di daerah.

"Saat ini kebenaran sering dipahami hanya dari 'katanya'. Padahal itu sulit ditelusuri sumbernya. Beda cerita kalau kebenaran yang disampaikan diambil dari buku atau kitab tertentu sehingga bisa dipertanggungjawabkan," tutupnya.