Ikhlas Adalah Kunci untuk Memurnikan Ibadah kepada Allah

Bersikap ikhlas atas kehilangan sesuatu yang berharga, bukan perkara mudah bagi manusia. (dok)
06 Maret 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan tugas utama untuk beribadah kepada-Nya. Manusia, seharusnya menyadari ketidakmampuan dirinya dan melakukan segala hal dalam hidupnya hanya karena niat yang tulus karena Allah.

Penyuluh di Kementerian Agama (Kemenag) Karanganyar, Ustaz Zuhaid, mengatakan ikhlas artinya tak mengharap apa pun selain rahmat Allah. Hal itu perlu dimaknai mendalam karena sesungguhnya manusia tak memiliki apa pun selain atas pemberian Allah.

Ia menyebut, segala daya dan kekuatan adalah pemberian Allah. Bahkan harta yang digunakan untuk bersedekah adalah harta yang diberikan Allah, bukan harta yang didapat dari kerja keras manusia.

“Amal paling baik adalah amal yang dilakukan hanya karena Allah,” ujar alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut saat diwawancara Solopos.com, belum lama ini.

Salah satu contoh diberikan sahabat Ali bin Abi Thalib. Meski Ali dikenal sebagai sahabat yang miskin harta, ia tetap bersedekah. Motivasinya hanya satu, yaitu karena sedekah adalah perintah Allah. Ia tak mengharap apa pun dari orang yang diberi sedekah tersebut.

Di lain pihak, sebagian orang seringkali merasa percaya diri akan mendapat surga karena bersandar pada amal yang telah ia lakukan. Padahal, hanya rahmat Allah-lah yang dapat menyelamatkan manusia.

“Dalam kamus kehidupan para sahabat Nabi, mereka beramal seolah tak akan bertemu hari esok sehingga amal yang dilakukan adalah yang terbaik,” kata dia.

Orang yang ikhlas akan melakukan segala sesuatu dengan hati terbuka dan tanpa beban karena hanya mengharap balasan Allah. Namun, proses yang dialami para sahabat hingga menjadi seorang mukhlis tidaklah instan. Mereka hidup dan dididik serta dikader oleh Nabi SAW dengan memotivasi dan contoh nyata menjalankan Islam dengan baik.

“Lihatlah kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Mereka adalah generasi terbaik karena mewarisi ajaran Islam langsung dari Baginda Rasulullah,” kata dia.

Lebih lanjut, ikhlas dan motivasi hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah sebagai Sang Maha Memiliki. Namun, apa yang akan didapatkan seseorang tergantung dari niat mereka masing-masing. Rasulullah pernah bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Direktur Pondok Pesantren Hj. Nuriyah Shabran, Ustaz Mutohharun Jinan, mengatakan ikhlas adalah kunci bagi hamba Allah agar seluruh amal perbuatannya diterima dan doa-doanya diterima. Ikhlas menjadi landasan seorang muslim sehingga ibadah yang dilakukan berpusat untuk tertuju hanya kepada Allah.

Dalam perspektif bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasa yang artinya adalah murni. Maka, ikhlas juga dapat disebut sebagai memurnikan ibadah kepada Allah sehingga dalam beribadah, orang tersebut tidak mengharapkan imbalan lain selain dari rida Allah. “Ikhlas juga bermakna ketundukan kepada Allah,” ujarnya saat diwawancarai Solopos.com.

Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut menerangkan ikhlas adalah sesuatu yang tidak mudah. Pasalnya, setiap manusia memiliki potensi takwa (kebaikan) dan fujur (keburukan). Ikhlas hanya dapat diwujudkan jika seorang muslim mengembangkan potensi takwa dan menutup keburukan yang ada pada dirinya. “Upaya pembersihan hati mesti dilakukan sehingga diri seorang muslim condong kepada kebaikan,” kata dia.

Salah satu doa agar hati dikuatkan Allah untuk senantiasa istikamah di jalan Allah antara lain adalah, “ Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa’alaa thaa’athik (Wahai Yang Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu). Doa tersebut adalah doa yang sering dilafazkan Rasulullah SAW karena karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.