Kedai Kopi Karanganyar Bersatu Bangkitkan Popularitas Kopi Lawu

Warga mengunjungi area Coffe Culture Fest di Karanganyar, Sabtu (2/3/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
08 Maret 2019 02:00 WIB Wahyu Prakoso Lifestyle Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Rintik hujan pada Sabtu (2/3/2019) pukul 19.00 WIB tidak menyurutkan keinginan warga Karanganyar untuk datang ke Coffee Culture Fest di Plaza Alun-alun Karanganyar. Di festival tersebut, masyarakat diajak mencicipi kopi Lawu dari sepuluh kedai kopi di Karanganyar secara gratis.

Acara diawali dengan kunjungan Bupati Karanganyar berserta tamu undangan ke sepuluh stan kopi di sisi utara tenda, Plaza Alun-alun Karanganyar. Para penjaga stan menjelaskan dengan rinci berbagai jenis kopi, harga kopi, dan cara menyajikan kopi kepada Bupati dengan tamu undangan.

Pada sisi selatan tenda, terdapat satu stan milik PT Perkebunan Nusantara IX yang menampilkan asal kopi di dunia, jenis kopi, manfaat kandungan kopi, dan cara mengolah kopi. Semua informasi berupa gambar dan tulisan ditempel pada dinding dari kayu lapis warna putih. Di stan Banaran Store tersebut, pengunjung juga bisa membali kaus untuk oleh-oleh.

Setiap stan terdiri dari tiga hingga enam orang. Ada berbagai variasi menyeduh kopi yang diperlihatkan barista. Mulai dari membuat kopi tubruk hingga metode saring kopi. Tercium harum aroma kopi saat barista dari Lawu Break menuangkan air panas 90 derajat celsius pada bubuk kopi di atas saringan kertas putih. Bupati dan rombongan tertarik mencicip kopi di stan tersebut.

Festival kopi tersebut merupakan kerja sama antara Pemkab Karanganyar dengan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Budaya (IKA FIB) Universitas Diponegoro Semarang. Selain memopulerkan kopi dari lereng Gunung Lawu, acara tersebut bertujuan mendorong perkembangan kopi Karanganyar dengan menggandeng kemitraan PTPN IX sebagai pendamping petani dalam produksi dan membantu dalam pemasaran biji kopi. Setelah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman, Pemkab Karanganyar membagikan benih kopi secara simbolis kepada petani.

“Produksi kopi kami masih kurang. Kami akan budidayakan 200 hektare lahan untuk ditanami kopi Lawu bersama komunitas anak muda dan kelompok tani. Kami juga akan membuat festival kopi Lawu lagi, tidak hanya sekali dalam setahun, lihat momentumnya. Saya ingin kopi Lawu bisa populer seperti masa lalu,” kata Bupati Karanganyar, Juliyatmono, kepada wartawan.

Ketua Komunitas Coffee Society Karanganyar, Bimo Aji Sudarsono, menjelaskan kopi Lawu memiliki sejarah besar pada abad 18. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memilih lereng Lawu untuk bermukim dan mengembangkan kopi arabika dan robusta. Dia mengaku, petani kopi di lereng Lawu mati karena beralih ke tanaman yang lain.

“Baru satu tahun terakhir komunitas mulai menanam kembali bibit kopi seluas satu hektare. Di tempat saya, Desa Gondosuli, Tawangmangu, pohon kopi merupakan sisa pohon terdahulu. Pohon yang tua mati, kemudian tumbuh lagi pohon yang baru, tidak produktif,” katanya kepada Solopos.com.

Bimo berharap banyak pada bantuan Pemkab Karanganyar untuk menggenjot produksi kopi Lawu melalui pemberian bibit kepada petani. Dia mengaku selalu kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri maupun pasar di Thailand, karena produksi kopi yang terbatas. Kendala yang ia hadapi pada penangkaran bibit kopi yang belum maksimal.

“Ini upaya kami, bekerja sama dengan Pamkab Karanganyar untuk memajukan kembali kopi Lawu. Kami juga menyasar kedai kopi untuk mengembangkan bisnis dengan penyaluran kredit, seperti dari Bank Jateng. Selain itu, akademisi dari Undip Semarang akan melakukan penelitian untuk mengangkat sejarah dan budaya kopi Lawu. Doakan saja, kami semua tetap semangat, dan ada hasil sehingga masyarakat Karanganyar ekonominya bertambah,” kata Ketua IKA FIB Undip, Agustina Wilujeng, kepada wartawan.

Sementara pada pertengahan acara, ribuan orang memadati Plaza Alun-alun Karanganyar. Mereka mengantre untuk mendapatkan satu cangkir berisi seduhan kopi Lawu panas. Di sisi lain, empat wanita dengan pakaian baju warna kuning dan merah muda berjalan menuju depan panggung. Sampainya di depan panggung, mereka melenggok-lenggok mengikuti irama musik sambil mengayunkan ceting. Puluhan pengunjung mengabadikan tarian kopi tersebut dengan gawai.

Setelah pengunjung mendapatkan secangkir kopi arabika atau robusta, panitia mengarahkan pengunjung untuk mendekat ke arah panggung. Mereka menyeruput kopi panas tersebut bersama-sama, lalu menjulangkan cangkir sambil berkata “Mantap”. Warga Karanganyar menikmati secangkir kopi sambil dimanjakan dengan pertunjukan musik di panggung.

Pemilik kedai kopi Kedai Sha’Ring, Fajrian Hanif, 23, mengaku antusias dengan festival kopi tersebut. Dia optimistis kedai kopi akan terbantu untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi, karena budaya masyarakat Karanganyar masih suka minum kopi manis.

“Pola pikir masyarakat, kopi itu harus manis. Mereka belum tahu kategori kopi specialty. Penikmat kopi specialty sangat sedikit. Kami mengikuti selera pasar dengan menyediakan kopi susu. Tapi, kami juga menyediakan specialty karena lebih sehat. Dengan adanya festival ini banyak masyarakat yang merasakan kopi original,” katanya kepada Solopos.com di kedai miliknya, tepatnya di sisi selatan tenda festival kopi.

Senada dengan Hanif, pemilik kedai kopi Kapal Kopi Coffee, Brian Duta, merasa bersemangat dengan adanya dukungan dari pemerintah terhadap industri kopi. “Budaya penikmat kopi Karanganyar mulanya lebih suka robusta, kemudian beralih ke arabika, lalu sekarang mulai minum tanpa gula. Dengan adanya acara ini, bagus karena Karanganyar punya kopi sendiri. Harus dipopulerkan. Saya berharap, pemerintah juga ambil peran untuk menstabilkan harga biji kopi di pasaran,” kata pemuda 24 tahun tersebut.

Salah satu pengunjung festival kopi, Ratna Kumalasari, 19, datang bersama empat temannya. Dia biasa mengonsumsi kopi saset keluaran pabrik. Perempuan asal Jepara tersebut mengaku baru menyadari perbedaan rasa dari kopi saset dan kopi murni pada festival tersebut.

“Rasanya campur, ada yang pahit, asem, lebih enak, ada karakter kopinya. Kalau sasetan hanya manis. Kopi ini bisa hilangin stres, tapi kalau kebanyakan enggak boleh. Semoga ke depan ada agenda festival lagi dan banyak variasi minuman kopi yang baru,” ujar mahasiswi STIKes Mitra Husada Karanganyar tersebut.