Bersikap Sabar Tanpa Batas, Bisakah?

Sikap saling menghargai dan saling membantu bisa menjadi kunci keharmonisan rumah tangga. (dok)
08 Maret 2019 02:40 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Pekan lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan suami membunuh istrinya yang sedang hamil tua. Berbagai kecaman pun muncul melihat kejadian di luar batas itu. Padahal Allah sudah mengatur kehidupan rumah tangga manusia melalui Alquran dan hadis yang digunakan sebagai tuntunan hidup. Bahkan, cara memperingatkan istri pun, Allah telah mengaturnya.

Salah seorang warga Kecamatan Jebres, Solo, Yuda Satriawan, 37, saat ditemui Solopos.com di wilayah Kecamatan Banjarsari, Solo, belum lama ini, mengatakan dahulu sebelum ia hendak menikah sudah ada komitmen bersama sang istri untuk menyikapi segala dinamika rumah tangga dengan bersama-sama, berat maupun ringan. Termasuk, dengan mengizinkan istrinya untuk membantu suami bekerja namun tidak banyak menyita waktu istri untuk keluarga.

Menurutnya, perselisihan dalam rumah tangga merupakan hal yang biasa. Segala permasalahan pasti dapat diselesaikan dengan komunikasi sambil memilih waktu yang tepat. Ia mengaku terdapat aturan tak tertulis yang selama ini dipegang, yakni ketika menyelesaikan suatu permasalahan tidak boleh di hadapan kedua putrinya.

Seorang pengajar agama Islam di sekolah Kecamatan Banjarsari, Solo, Ustaz Jatmika, saat ditemui Solopos.com di tempatnya bekerja, mengatakan segala persoalan pasti dapat diselesaikan secara baik-baik tanpa harus melakukan penganiayaan bahkan pembunuhan. Apabila setiap masalah tidak dapat disikapi dengan bijak maka tak jarang pernikahan berakhir dengan perceraian.

“Hal itu sebab akibat dari kemarahan yang tidak dapat dihindarkan karena rasa tidak puas. Setiap orang pasti mengalami kemarahan, namun marah yang agresif tidak akan menyelesaikan masalah dan justru menambah masalah. Padahal hal itu merupakan perilaku yang disenangi oleh setan,” ujarnya.

Allah berfirman,“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,”(QS. An Nisa: 34).

Dibolehkannya suami memukul istri melalui kaidah-kaidah Islam yang harus dipenuhi. Diperingatkannya istri dengan pukulan pun terdapat berbagai ketentuan dan itu merupakan jalan terakhir.

Rasulullah bersabda,“Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan melakukan hajr (mendiamkan istri) selain di rumah,” (HR. Abu Daud)

Peringatan untuk memukul istri yang telah diatur dalam hadis merupakan pukulan yang lembut dan tidak melukai atau pun membekas di tubuh istri. Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul istrinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” (H.R Abu Dawud)

Ia menambahkan dalam berumah tangga menanamkan sikap sabar tanpa batas merupakan solusi. Selain itu dalam menyikapi permasalahan ketika salah satu di antara suami atau istri sudah meminta maaf maka perselisihan harus segera diakhiri.

Menurutnya, Alquran sebagai pedoman hidup harus dimaknai dengan sungguh-sungguh. Ketika ada rasa marah maka berwudu dan membaca Alquran akan menenangkan hati serta pikiran. Ketika perasaan sudah nyaman dan tenang maka dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga dapat dilakukan secara musyawarah.

Dalam berdiskusi juga jangan memaksakan ego masing-masing, sesekali posisikan diri sebagai lawan bicara dan menggunakan sudut pandang pikirannya dengan menanamkan rasa keterbukaan. Jangan sampai ketika melakukan musyawarah ada suatu hal yang disembunyikan yang akhirnya justru menambah persoalan baru. Selain itu, dalam perselisihan sikap kekanak-kanakan harus dihilangkan seperti tidak mau saling bicara atau menegur sapa. Ketika seseorang benar-benar menjadikan Alquran dan hadis sebagai pedoman dalam berkeluarga, nantinya kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah akan terwujud seperti yang dicita-citakan seluruh keluarga.