Bertahan di Tengah Badai PHK

Ilustrasi pegawai kena PHK - sistemhrd.com
08 Maret 2019 23:55 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Di tengah-tengah meeting awal pekan, telepon genggam Riana, 29, berdering. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga marketing di salah satu perusahaan ini, sesekali melirik gawainya. Ia cuma membatin tak biasanya sang suami menelepon pada jam sibuk.

Ia lantas memencet tombol jawaban “Call me later”. Namun suaminya membalas, “Please, angkat teleponku sebentar”. Jantung Riana pun spontan berdegup kencang. Dalam langkahnya menuju koridor dari ruang pertemuan, ia membayangkan suaminya mengalami kecelakaan dan hal buruk lainnya. 

“Rasanya deg. Kaget setengah mati. Kayak dengar kabar buruk. Ternyata suamiku dan beberapa temannya kena PHK karena terimbas efisiensi kantornya,” ujar Riana, ketika berbincang dengan Solopos.com.

Ia pun segera meminta izin pulang lebih awal dengan alasan ada urusan keluarga mendesak. Buru-buru, ia menggeber kendaraannya menuju ke rumah. “Dalam perjalanan, aku enggak bisa mikir apa-apa lagi. Yang ada cuma nangis. Begitu sampai rumah, aku peluk suamiku erat-erat dan kami menangis bersama,” terangnya.

Riana menuturkan pemutusan hubungan kerja tersebut bukannya tanpa pertanda. Beberapa bulan sebelumnya, sang suami bercerita jika ia dan timnya masuk kotak gelombang efisiensi jilid dua. Sebelumnya, sang suami sempat mengajak Riana menemui temannya yang sudah kena PHK.

 “Walaupun sudah tahu. Tetap saja syok. Enggak menyangka kalau secepat itu. Pekan sebelumnya kayaknya masih baik-baik saja. Dia juga schedule untuk tugas luar kota harusnya. Tapi nasib berkata lain,” ujarnya.

Semenjak mengetahui perusahaan sang suami goyah, Riana memang sudah persiapan sebisa mungkin untuk menabung lebih banyak untuk dana cadangan untuk krisis kehidupan keluarganya.

Namun menurutnya, mengubah pola konsumsi selama masa transisi tak segampang bayangannya. Keluarganya yang belum dikaruniai momongan terbiasa makan di luar dan ngopi di kala senggang. Riana pun sempat memasak di sela kesibukannya.

 Selain itu, persiapan mental keduanya kurang matang sehingga mengalami masa rentan cukup lama sampai sang suami tanda tangan kontrak pekerjaan baru. Salah satu yang membuatnya rapuh waktu itu lantaran kebingungan orang tua dan mertua kadung bergantung hidup pada keduanya.

“Kami pura-pura kuat. Padahal enggak. Di rumah aku sok tegar dan janji enggak nangis dengan kondisi kami. Walaupun pas di kamar mandi sengaja mandi lama biar bisa nangis diam-diam sampai puas. Aku juga sering mendapati dia melamun,” tuturnya.

Menurut Riana, selepas tiga bulan mengalami masa rentan bersama, sang suami mulai belajar menerima keadaan. Sang suami pun bisa berpikir jernih untuk mengontak beberapa teman lamanya. Tak lama berselang, ia bergabung dengan perusahaan lain kendati harus rela menjadi staf biasa. “Ya, disyukuri aja deh semuanya,” kata dia.

 Lain lagi pengalaman Diana, 30. Ibu satu anak ini suaminya terkena pemutusan hubungan kerja dari kantornya yang bangkrut, tahun lalu. Sebulan sebelum dirumahkan, suaminya sudah cerita jika mulai akhir bulan perusahaan dibubarkan.

 “Suamiku sudah mengondisikanku agar enggak kaget kalau sewaktu-waktu dia dirumahkan. Dia juga sudah dua kali lolos PHK. Tapi tetap saja pas kejadian beneran kami syok sebentar. Sempat bingung mau gimana ke depan. Tapi enggak lama itu ya sudah biasa,” terangnya.

Diana menuturkan semenjak berstatus lajang, sang suami bersama temannya iseng membuat sekoci bisnis percetakan rumahan. Usaha tersebut lantas menyelamatkan keluarganya dari krisis pemutusan hubungan kerja.

“Walaupun aku masih bekerja, tapi ya sempat kaget juga. Awalnya segini, lalu tinggal segitu. Tapi ya disyukuri. Dari usaha yang awalnya iseng itu pas disambi mengantor, sekarang jadi lumayan bisa diandalkan karena dia jadi fokus mikir bisnis,” bebernya.

Menurut Diana, pada awal krisis melanda keluarga kecilnya, sebisa mungkin ia mencoba tegar dan berhenti menuntut suaminya agar lebih fokus menata masa depan mereka. Ia mencoba memberikan afirmasi positif pada dirinya dengan bersyukur melihat sisi positif bagaimana sang suami kini lebih banyak waktu untuk keluarga dengan usaha mandirinya.

“Sejak awal kena masalah ini, kami enggak cerita ke keluarga masing-masing. Apalagi orang tua. Ini sudah komitmen biar mereka enggak mikir. Setelah beberapa bulan kami mulai stabil, baru deh cerita kepada mereka. Waktu itu kami cuma mikir life must go on dan rezeki enggak kemana jadi jalani saja rencana-Nya,” kisahnya.

 Agar keluarganya tetap dalam kondisi sehat secara mental, Diana juga mencoba tidak cuma fokus memikirkan masalah karier sang suami. Ia berupaya membuat suaminya tetap sibuk kendati bekerja mandiri. “Pelajaran dari krisis ini banyak banget. Kami jadi punya komitmen enggak gampang bergantung sama orang apalagi perusahaan. Sebisa mungkin cari bisnis sampingan. Terus juga harus rajin menabung terutama untuk pendidikan putra kami,” ujar dia.