Perhatikan Bila Anak Tak Merespons Suara

Salah satu yang perlu dicermati pada kondisi kesehatan panca indra, adalah indra pendengaran anak - pendengarananak.id
12 Maret 2019 23:55 WIB Arif Fajar Setiadi Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Masa tumbuh kembang anak menjadi perhatian para orang tua. Mereka menginginkan sang buah hati bisa berkembang dengan sehat tanpa gangguan apa pun termasuk masalah kesehatannya. Karena itu beragam upaya dilakukan orang tua demi kepentingan tumbuh kembang anak.

Beberapa orang tua yang menginginkan tumbuh kembang anaknya sempurna, getol berkonsultasi dengan dokter anak dan mengikuti seminar yang membahas tumbuh kembang anak. Mereka pun rela merogoh kocek untuk memberikan asupan terbaik buat sang buah hati.

Namun, apa yang diupayakan orang tua tentunya juga harus dibarengi pengetahuan mengenai kesehatan anak. Karena ketika anak sakit, orang tua bisa lebih cepat mendeteksinya dan melakukan pengobatan awal sebelum mendapatkan penanganan medis. Orang tua juga perlu mengetahui gejala dari gangguan kesehatan pada anak. Terutama gangguan kesehatan pada panca indra anak sejak bayi. Karena jika tidak diketahui sejak dini, akan memengaruhi tumbuh kembang anak hingga dewasa nanti.

Salah satu yang perlu dicermati pada kondisi kesehatan panca indra, adalah indra pendengaran anak. Seperti indra lainnya, ketika indra pendengaran mengalami gangguan, tumbuh kembang anak akan terganggu. Mulai dari berkomunikasi sebagai sarana bersosialisasi hingga berpengaruh pada diri anak saat menempuh pendidikan.

Agar orang tua bisa mendeteksi dini adanya gangguan pendengaran pada bayi dan anak, menurut dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) di RS PKU Muhammadiyah Solo, dr. Yan Wirayudha, orang tua juga pelu mengetahui perkembangan sistem pendengaran yang dimulai sejak dalam kandungan.

Pada saat bayu berusia 9 pekan di dalam kandungan, mulai terbentuk ketiga lapisan pada gendang telinga, kemudian tambah dr. Yan, pada pekan ke 20 terjadi pematangan telinga dalam yang mempunyai ukuran sama dengan orang dewasa dan dapat merespons terhadap suara.

“Pada saat yang sama bentuk daun telinga sudah menyerupai daun telinga orang dewasa dan masih terus berkembang sampai usia 9 tahun. Sedang liang telinga luar terus berkembang sampai usia 7 tahun,” terang dr. Yan Wirayudha Sp.THT., kepada Solopos.com.

Menurut dr. Yan, perlu diketahui perkembangan auditorik berhubungan erat dengan perkembangan otak yang mengalami pematangan dalam waktu 3 tahun pertama kehidupan dan masa 12 bulan pertama kehidupan terjadi perkembangan otak sangat cepat.

Menurut kajian, seperti dikutip dari doktersehat.com, mendengar dapat menyerap 20% informasi, lebih besar dibanding membaca yang hanya menyerap 10% informasi. Mengingat pentingnya masalah ini, beberapa negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, menyepakati tanggal 3 Maret sebagai peringatan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP).

“Karena itu orang tua perlu curiga ada gangguan pendengaran pada anak, ketika anak tidak merespons [menengok] saat ada suara dari sekitar. Kemudian pada usia 12 bulan belum dapat mengoceh atau meniru, usia 18 bulan tidak dapat menyebut satu kata yang mempunyai arti. Kemudian pada usia 24 bulan perbendaharaan kata kurang dari 10 kata dan di usia 30 bulan belum dapat merangkai dua kata,” terang dr. Yan.

Gangguan pendengaran pada bayi, gejalanya sulit diketahui mengingat ketulian tidak terlihat. Menurut dr. Yan Wirayudha Sp.THT., biasanya keluhan orang tua adalah bayi tidak memberi respons terhadap bunyi. Selain itu, orang tua umumnya mengeluhkan akibat gangguan pendengaran adalah keterlambatan bicara (delayed speech).

“Gangguan pendengaran secara umum dibedakan menjadi, tuli sebagian [hearing impaired], yaitu penurunan fungsi pendengaran, tetapi masih bisa berkomunikasi dengan atau tanpa alat bantu dengar. Tuli total [deaf] adalah gangguan fungsi pendengaran yang sedemikian terganggu sehingga tidak dapat berkomunikasi sekalipun mendapat perkerasan bunyi,” jelas dr. Yan.

Lantas apa penyebab gangguan pendengaran pada bayi dan anak? Menurut dr. Yan, penyebabnya dibedakan berdasarkan saat terjadinya. Yaitu masa prenatal, masa perinatal, dan masa postnatal. Untuk masa prenatal dibagi menjadi genetik dan nongenetik, seperti gangguan/kelainan masa kehamilan, kelainan struktur anatomik, dan kekurangan zat gisi.

“Yang paling penting adalah trimester 1 kehamilan, misalnya akibat infeksi bakteri atau virus [TORCHS]. Di samping itu beberapa jenis obat ototoksik [ seperti obat antimalaria, obat antitumor, dan obat tetes telinga topikal] dan obat teratogenik [seperti obat hipertensi dan obat antinyeri] berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran,” ujar dia.

Masa perinatal, tambah dr. Yan, yakni kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram), hiperbilirubenemia adalah kenaikan tingkat bilirubin dalam darah pada anak, dan asfiksia adalah keadaan di mana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur.

“Gangguan pendengaran pada masa prenatal dan perinatal biasanya adalah tuli sensorineural bilateral derajat sedang atau bisa sangat berat. Tuli sensorineural diakibatkan oleh adanya kerusakan pada bagian saraf telinga dalam yang membawa suara dari area pendengaran ke otak,” katanya.

Selain penyebab tersebut, beberapa orang tua juga sering merasa khawatir ketika telinga anaknya kemasukan air saat berenang atau setelah mandi. Menurut dr. Yan, telinga kemasukan air bisa menyebabkan gangguan pendengaran bersifat sementara dan akan normal saat air keluar dari dalam telinga. “Namun jangan dibiarkan karena akan berpengaruh pada pendengaran, jika tak kunjung keluar sebaiknya periksakan ke dokter THT,” saran dr. Yan.

Selain itu, sambungnya, ada faktor risiko antara lain riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran, kelainan liang telinga, bayi yang menjalani perawatan NICU selama 48 jam atau lebih, keadaan yang berhubungan dengan sindroma tertentu, dan infeksi intra uterin.