Nah Lho...Debat Bukan untuk Mencari Kemenangan, tapi Mencari Kebenaran

Berdebat tidak untuk mencari kemenangan, tapi mencari kebenaran. (dok)
13 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Sebagai seorang muslim sudah seharusnya menjaga akhlak untuk berbuat baik termasuk dalam berdebat. Islam tidak melarang untuk melakukan debat, namun debat telah diatur dengan ketentuan Islam untuk membatasi perdebatan.

Dalam debat atau diskusi hanya diperbolehkan membahas suatu hal yang menghasilkan dan tidak ada larangan dari Allah. Berdebat seharusnya menjauhkan perkara yang dilarang seperti mendebat ayat-ayat Allah.

Allah berfirman, “Dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia lah Tuhan Maha Keras siksa-Nya.” (Q.S Ar Radu :13)

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Kota Solo, Arif Syarifuddin, saat ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatannya di Kecamatan Laweyan, Solo, belum lama ini, mengatakan dalam kitab Talim Mutalim seorang pelajar atau seseorang seharusnya melakukan mudzakarah atau forum saling mengingatkan, munadharah atau forum saling mengadu pandangan dan mutharahah atau berdiskusi.

Namun, dalam berdebat dilakukan atas dasar keinsyafan atau kesadaran dan keyakinan dengan menghindarai suatu hal yang dapat berakibat buruk. Menurutnya, munadharah dan mudzkarah adalah cara untuk musyawarah untuk mencari kebenaran. Maka, dalam berdebat harus dilakukan dengan penghayatan dan keyakinan. Debat tidak akan berhasil apabila dilakukan dengan cara kekerasan dan berlatar belakang suatu hal yang tidak baik.

“Apabila di dalam pembahasan atau perdebatan hanya sekadar perang lidah tentunya tidak dibolehkan menurut agama. Debat diperbolehkan untuk mencari kebenaran. Berbicara berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak diperkenankan selama lawan debat berbicara tidak sekadar mencari kemenangan dan masih dalam mencari kebenaran,” ujarnya.

Menurutnya, yang harus disadari bahwa di atas orang yang berilmu masih banyak yang lebih berilmu. Maka, dengan mencatat atau mengingat hal yang disampaikan lawan bicara merupakan suatu hal yang baik.

Menurutnya, mutharahah dan mudzkarah jauh lebih baik daripada sekadar mengulang sebuah pelajaran sendirian. Dengan melakukan dua hal itu, selain dapat mengulang pelajaran menambah pengetahuan yang baru dari bertukar pikiran.

Ada beberapa etika dalam berdebat yakni berdebat atas dasar takwa kepada Allah dan tidak semata mencari kemenangan. Ibnu Aqil berkata, “Setiap perdebatan yang tujuannya bukan untuk membela kebenaran adalah kebinasaan bagi pelakunya.”

Kemudian, dalam berdebat tidak boleh terdapat perasaan ingin mengalahkan dan tidak bertele-tele. Ia menegaskan perasaan menghormati harus saling dijunjung tinggi.

“Yang jelas, jangan mendebat dengan data-data palsu atau hoaks dapat menimbulkan fitnah. Kondisi menjelang Pemilu seperti saat ini masyarakat juga sering berdebat yang berakhir dengan konflik. Terkadang, ketika membaca sebuah berita yang diragukan validitasnya dibawa sebagai materi debat antarmasyarakat, hal itu harus dihindari,” ujarnya.

Menurutnya, terkadang rasa cintanya kepada salah satu peserta pemilu masyarakat sering bedebat, namun sumber dari suatu hal yang didebatkan tidak valid.