Hiii..Musim Pemilu Banyak Orang yang Makan Bangkai Saudaranya

Ilustrasi bone mayat bayi (Shutterstock)
14 Maret 2019 05:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Setiap kali menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), masyarakat terpecah menjadi kubu-kubu dan sibuk saling melontarkan atau menebarkan kebencian kepada kubu yang berbeda. Padahal, Islam secara tegas melarang praktik semacam itu.

Islam mengajarkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Menebar kebencian, baik berupa ghibah maupun menebar hoax atau fitnah adalah perbuatan yang tak hanya dilarang agama tetapi juga berpotensi mencabik-cabik Bangsa Indonesia.

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, Ustaz Khomsun Nur Arif, mengatakan Islam diturunkan ke muka bumi salah satunya dengan tujuan menjaga harkat dan martabat manusia, siapa pun dia. Penjagaan itu berlaku global untuk seluruh umat manusia dalam berbagai suku, agama, ras dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Dalam konteks saat ini, perbedaan pilihan dalam menentukan partai politik (parpol) maupun kandidat calon presiden seharusnya tak lantas membuat seseorang dengan seenaknya melanggar harkat dan martabat manusia lain.

"Maka, ujaran kebencian dengan dalih apa pun tak bisa dibenarkan," ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini.

Seseorang mungkin memilih kandidat A atau B dengan alasan hal itu akan membuat umat Islam lebih mudah melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Menurutnya, tiap preferensi atau pilihan bisa berbeda karena perbedaan perspektif.

"Masalahnya, dengan memilih salah satu kandidat, kadang dianggap untuk amar ma’ruf-nahi munkar, tetapi caranya tidak boleh dengan cara munkar, seperti ujaran kebencian ke pihak lain," terang penyuluh agama di Kemenag Sukoharjo tersebut.

Ia menilai saat ini umat Islam banyak terjebak pada kegiatan menggunjing kandidat A maupun B. Mereka tidak fokus pada program yang ditawarkan para kandidat.

Padahal, Allah sudah mengingatkan dalam Alquran, “Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Dalam ayat di atas, Allah menyamakan orang yang mengghibah (menggunjing) saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan ayat itu mengandung permisalan yang amat mengagumkan, di antara rahasianya adalah, pertama, karena ghibah mengoyak kehormatan orang lain, layaknya seorang yang memakan daging, daging tersebut akan terkoyak dari kulitnya. Mengoyak kehormatan atau harga diri, tentu lebih buruk keadaannya. Kedua, Allah ta’ala menjadikan “bangkai daging saudaranya” sebagai permisalan, bukan daging hewan. Hal ini untuk menerangkan bahwa ghibah itu amatlah dibenci.

Ketiga, Allah ta’ala menyebut orang yang dighibahi tersebut sebagai mayit. Karena orang yang sudah mati, dia tidak kuasa untuk membela diri. Seperti itu juga orang yang sedang dighibahi, dia tidak berdaya untuk membela kehormatan dirinya. Keempat, Allah menyebutkan ghibah dengan permisalan yang amat buruk, agar hamba-hambaNya menjauhi dan merasa jijik dengan perbuatan tercela tersebut.

Ustaz Khomsun mengatakan jika ghibah saja adalah perbuatan tercela, apalagi jika merekayasa berita atau hoax dan fitnah. Tentu saja hal itu lebih dimurkai oleh Allah.

Ujaran kebencian juga berpotensi mencerai-beraikan umat Islam dan Bangsa Indonesia. Ia mengingatkan seluruh umat Islam agar tak seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali seperti dalam An Nahl: 92.

“Indonesia ini dulu terpecah-pecah, lalu sekarang sudah disatukan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jangan sampai karena perbedaan dalam pilihan lalu membuat negara ini terpecah-belah,” ungkap lelaki yang pernah menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sukoharjo tersebut.

Ia mengatakan pemilu di Indonesia selalu dimaknai sebagai pesta demokrasi. Selayaknya makna dari pesta, maka pemilu seharusnya juga menjadi sesuatu yang menggembirakan. Pemilu adalah momen menggembirakan untuk mencari pemimpin dan kelak menerima hasil terbaik dari proses pemilihan tersebut.

“Menaati pemimpin adalah bagian dari perintah agama,” kata dia.

Lebih lanjut, selain dosa yang bakal diterima masing-masing individu yang menebar kebencian, risiko terberat yang semoga tak akan pernah terjadi dengan makin maraknya ujaran kebencian adalah ancaman terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia. Berbeda pendapat boleh, asalkan tidak sampai berujung pada bentrok.

“Yang lebih bahaya, kalau pemilu selesai, sudah ada pemimpin, tetapi perbedaan itu terus disulut. Saya pernah bicara dengan mantan napi teroris. Ia mengatakan terorisme dan radikalisme butuh pemantik kecil. Kondisi pertentangan seperti saat ini bisa menjadi bagian pemantik itu karen ada pihak yang tak ingin NKRI tetap ada,” paparnya.