Tak Hanya Gaplek, Wonogiri Juga Menyimpan Kisah Kopi yang Tak Terduga

Sular, 60, petani kopi di Gondosini, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, memilah buah kopi di perkebunannya, Senin (11/3/2019) siang.(Solopos - Mahardini Nur Afifah)
14 Maret 2019 22:40 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, WONOGIRI – Kota Wonogiri yang berjarak 35 kilometer di selatan Kota Solo kini menjadi rumah bagi belasan kedai kopi. Mencari warung kopi dengan konsep kafe, warung, atau kaki lima tak lagi menjadi persoalan berarti.

Pengunjung tinggal memilih; ingin mencari cita rasa kahwa hasil seduhan mesin yang relatif konsisten di kafe nyaman, atau berburu secangkir kopi tubruk single origin sembari menikmati suasana lalu lalang kendaraan di pinggir jalan.

“Apresiasi sekitar dua tahun terakhir sudah cukup baik. Di sini mulai bermunculan penikmat yang kenal beragam metode dan cara menikmati seduhan kopi,” tutur Yosep Bagus Adi, ketika berbincang dengan Solopos.com, Senin (11/3/2019).

Tak cuma apresiasi, pegiat komunitas Wonogirich yang aktif memperkenalkan kopi dengan slogan “Wonogiri Nduwe Kopi, Wonogiri Nandur Kopi, Wonogiri Nggone Kopi” tersebut menyebutkan, wilayahnya menjadi rumah bagi kahwa varian Arabika dan Robusta.

“Arabika bisa ditemui di deretan Gunung Lawu dari Girimarto, Jatipuro, Slogohimo, Bulukerto, dan Puhpelem. Kalau Robusta ada di deretan Pegunungan Seribu mulai dari Karangtengah, Tirtomoyo, Jatiroto, Kismantoro, dan Batuwarno,” jelas pria yang akrab disapa Bagus itu.

Membincangkan kopi di Kota Gaplek, pantang melewatkan sejarah panjangnya. Sedikit menengok ke belakang, sejarawan Heri Priyatmoko meneliti sejarah pakopen (perkebunan kopi di lingkungan desa) Soloraya.

Dalam riset itu disebutkan, budi daya kopi kuno Soloraya dirintis Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV (1853-1881). Raja waktu itu membudidayakan kopi Arabika (dikenal sebagai kopi Jawa) dan Liberika. Tujuannya untuk menggenjot pemasukan kerajaan.

Bibit penanaman kopinya diperoleh dari daerah Gondosini, tepatnya Desa Conto, Kecamatan Bulukerto. Penguasa kerajaan sebelumnya merintis penanaman kopi di wilayah itu sejak 1814. Bibit kopi dari Gondosini selanjutnya ditanam di 24 daerah termasuk Wonogiri serta Tawangmangu dan Malangjiwan (Karanganyar).

Solopos.com melacak jejak pusat bibit kopi tinggalan Mangkunegaran di Gondosini, Senin siang. Setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam dengan kendaraan bermotor dari Kota Solo, kita bisa menemukan kawasan berhawa sejuk ini dengan melanjutkan berjalan kaki setengah jam menyusuri areal perkebunan di ketinggian 1.000 mdpl-1.200 mdpl.

Areal perkebunan di lembah yang diapit perbukitan dan bagian tengahnya dibelah sungai mungil beraliran deras tersebut kini berubah menjadi lahan penghidupan sejumlah petani. Di sana tumbuh beragam tanaman mulai dari padi, buncis, kol, wortel, cengkih, sampai kopi.

Salah satu pemilik lahan di Gondosini, Sular, 60, mulai menanam kahwa jenis Arabika varian Bourbon (mutasi alamiah Typica) di lahannya seluas 2 hektare sejak awal 1990 lalu. Kini sedikitnya 400 pohon kopi Arabika berjejal di kebunnya.

Semula ia mendapat bibit kopi itu dari temannya asal Malang. Tanaman tersebut awalnya dimanfaatkan sebagai tanaman sela dengan sistem tumpang sari bersama aneka sayuran.

Setelah mendapat pendampingan merawat tanaman, memetik buah, hingga teknik pengolahan biji dari komunitas Wonogirich; ia melihat potensi ekonomi kopi dan tergerak menjadikannya sebagai tanaman utama bersama cengkih di perkebunannya.

“Kopi sama cengkih nanti buat jagan. Idep-idep buat pensiunan kalau capai merawat kebun [sayur-mayur],” tutur Sular saat ditemui di sela-sela kesibukannya memetik buah kopi yang sudah memerah.

Kakek satu cucu ini lantas bercerita leluhurnya akrab dengan kahwa. Masih lekat dalam ingatan Sular, pekarangan sekitar rumah masa kecilnya ditumbuhi kopi. “Seingat saya dulu waktu kecil simbah nanam kopi di rumah. Habis itu punah kena serangan hama. Baru 1990-an saya bribik-bribik menanam lagi,” ujar dia.

Selain menanam kopi, menurut Sular, warga setempat dulunya juga terbiasa menikmati sajian Wedang Debleng. Minuman ini terbuat dari ekstraksi daun tanaman kopi yang direbus berulang kali. Namun kini teh dan seduhan kopi saset sudah menggusur selera zaman moyangnya itu. “Rasanya pahit dan langu,” kenang Sular sembari terkekeh.

Bagus menggenapi cerita Sular terkait sejarah kopi Wonogiri. Dari penelusurannya lewat sesepuh desa, ia mendampati informasi toponimi kawasan sekitar Gondosini berkait dengan kahwa. Misalkan Conto yang artinya wilayah percontohan kebun kopi. Lantas ada Desa Pakopen yang artinya kebun kopi. Dan sebagainya.

Jejak peninggalan kopi yang penanamannya mulai digiatkan Mangkunegara IV sejak 1867 silam juga bisa dilacak lewat pabrik pengolahan kopi. Salah satu peninggalan yang tersisa adalah bangunan serupa cerobong tungku dari batu di Desa Kasihan, Kecamatan Ngadirojo.

Merujuk catatan sejarah, era kemunduran perkebunan kopi di Wonogiri dan wilayah Soloraya bermula sejak mangkatnya Mangkunegara IV. Selain itu, juga dipengaruhi merebaknya serangan hama karat daun (Hemileia vastatrix) yang memukul telak industri kopi dunia.

“Dengan sejarah panjang kopi di Wonogiri dan melihat semangat petani kopi yang belakangan mau berpikiran terbuka, kami yakin beberapa tahun ke depan kopi asal Wonogiri menemukan momentumnya,” ujar Bagus optimistis.