Memilih Pemimpin Bisa Berdampak Pahala atau Beban Dosa, Jadi Pilih yang Mana?

Diorama simulasi pemilu. (Bisnis/Rachman)
15 Maret 2019 03:00 WIB Ivan Andimuhtarom Lifestyle Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Karanganyar, Joko Pramono, mengatakan Pemilu adalah momentum dan sarana bagi kita untuk memilih dan menempatkan orang-orang yang terbaik di antara kita untuk menjadi wakil rakyat dan pemimpin dalam berbagai levelnya.

Sebagai seorang muslim sekaligus rakyat Indonesia berpartisipasi dan bersikap serius dalam memilih pemimpin di berbagai level kepemimpinan merupakan bentuk riil dalam memberikan perhatian terhadap kondisi sosial-masyarakat secara umum. Perhatian (ihtimam) ini sebagai konsekuensi logis dari karakteristik Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin. Dan perhatian terhadap kondisi Indonesia berarti perhatian terhadap kondisi umat Islam sebagai penduduk mayoritas.

Ia mengatakan memilih pemimpin berarti memilih sosok yang akan menjalankan tugas dan amanah kepemimpinan serta mengelola berbagai kebijakan, yang selanjutnya akan berdampak terhadap kondisi komunitas yang dipimpinnya, bisa berdampak positif atau negatif. Dampak positif dan negatif ini bisa berbuah pahala atau dosa karena bermanfaat atau merugikan orang lain.

“Sederhananya, memilih pemimpin bisa berdampak pahala atau beban dosa, karena ada dampak dari pilihan yang dilakukan tersebut.Tentu ketentuan pahala dan dosa tersebut menurut ukuran Islam yang menentukan sebuah amal berbuah pahala atau dosa, seperti sengaja dalam memilih pemimpin yang membahayakan sementara ada pemimpin yang lebih baik, perbuatan tersebut bisa berbuah dosa begitu seterusnya,” ujarnya, belum lama ini.

Memang pada prinsipnya, pertanggungjawaban itu berdasarkan kepada perbuatan individu. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164). Pada ayat lainnya, Allah berfirman, “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telahdiperbuatnya”. (QS. Al-Muddatsir: 38).

Keseriusan dalam memilih pemimpin merupakan bentuk riil mengaplikasikan kepedulian terhadap kondisi sosial-masyarakat. Bahkan Syekh Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Sesungguhnya memimpin manusia merupakan kewajiban yang paling utama, bahkan tidak tegak urusan agama dan dunia kecuali dengan adanya kepemimpinan. Maka memilih pemimpin menjadi kewajiban agama dan ibadah kepada Allah SWT.”

Dalam era demokrasi, memang banyak cara yang dilakukan oleh kandidat maupun timses kandidat untuk menaikkan tingkat elektoral kandidatnya. Namun hendaknya hal itu dilakukan dengan cara yang penuh tanggung jawab dan menghindari pencitraan maupun black campain apalagi menyebarkan hoax. Sebaliknya, kampanye hendaknya diisi dengan kompetisi dan adu program kerja dengan semangat kebangsaan dan pelayanan kepada rakyat sehingga pemilu adalah sarana membuat kita semua menjadi cerdas dan bersikap positif.

Kompetisi dalam pemilu, apalagi bagi kita bangsa Indonesia yang sudah berulang kali mengikuti prosesnya, tentu adalah hal biasa walau juga dapat dikatakan istimewa. Disebut biasa karena sudah berkali kali dilakukan, dikatakan istimewa karena pemilu adalah peluang bagi kita sebagai bangsa untuk naik kelas atau menaiki tangga kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik lagi.

Namun, tak bisa dipungkiri, pemilu memunculkan aneka macam kepentingan pragmatis didalamnya. Kepentingan pragmatis inilah yang menyebabkan munculnya aneka “huru-hara” dalam proses politik tersebut, salah satunya terbelahnya masyarakat menjadi berkubu-kubu. Walau saat ini disederhanakan menjadi dua kubu, Kubu pro tagar #2019gantipresiden dan tagar #jokowi2periode. Perkubuan yang terjadi dan diiringi bebasnya ber-medsos hari ini, kadang diiringi dengan ungkapan kasar, sadis dan hoax yang menjadikan pemilu yang seharusnya asyik malah menjadi anarkis dan menakutkan.

“Masyarakat juga harus faham mana yang negative campaign dan mana yang black campaign. Black campaign dalam pandangan Islam jelas haram. Sementara negative campaign pun harus dilakukan dengan cara yang baik dan bermartabat, jauh dari rasa benci yang tertuang dalam tulisan dan kata-kata kasar. Cara-cara kasar, tulisan kasar, kata-kata kasar dan caci maki hanya akan menyebabkan makin terbelahnya masyarakat dan timbul rasa saling membenci satu sama lain. Hal ini tentu sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pemilu bisa berujung kepiluan jika prosesnya penuh intrik dan ujaran kebencian apalagi jika berujung kekerasan dan permusuhan,” tuturnya.