Bahagia Itu Sederhana, Bermanfaatlah bagi Orang Lain

Bahagia menghabiskan waktu bersama keluarga. (dok)
16 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Kalimat berbahagia dengan memberi manfaat itulah yang ditekankan oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, saat menyampaikan kuliah umumnya mengenai prinsip teologis Islam Rahmatan Lil Alamin di Pondok Shabran Timur, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo pada Kamis (7/3/2019).

Memberi manfaat bagi sesama dan sebanyak mungkin bagi makhluk Allah, kata dia, akan membuat hidup menjadi lebih bermakna. Rasulullah bersabda,“Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (H.R Thabrani)

Karakter seorang muslim yang taat yakni bermanfaat bagi orang lain dalam segala hal. Bukan, menyusahkan atau memanfaatkan orang lain demi kepentingan sendiri.

Ustaz Hamim Ilyas, saat ditemui Solopos.com di Pondok Shabran Timur UMS, mengatakan berbahagia dengan memberi manfaat merupakan konsep dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan bertujuan mengantarkan peserta didik agar dapat hidup dengan baik. Lantas, dapat memuliakan hidup dan mengembangkan hidup bermakna. Pendidikan merupakan faktor yang sentral diiringi dengan kebudayaan yakni hidup yang dijalani manusia dengan belajar.

“Dalam pendidikan kita harus dapat mengantarkan orang-orang untuk memuliakan hidupnya untuk mengembangkan hidup bermakna dengan bahagia. Kebahagian itu tidak dengan perilaku hedonisme, tidak sekadar pengembangan diri namun bermanfaat bagi orang-orang sebanyak mungkin,” ujarnya.

Menurutnya, berbahagia dengan bermanfaat bagi orang lain memiliki konsekuensi yang sangat luas. Apabila ditarik dalam dunia pendidikan dan dalam kehidupan sehari-hari, hakikat pendidikan yakni memanusiakan manusia tanpa perilaku hedonisme. Perilaku hedonisme atau hanya mencari kesenangan yang tidak bertanggung jawab merupakan perbuatan yang tidak disenangi oleh Allah.

Namun, apabila seseorang hidupnya bermanfaat, akan menjadi sosok yang bertanggung jawab dan terlibat dalam kehidupan bermakna yang harus ditanamkan kepada anak-anak muslim sejak dini melalui dunia pendidikan.

“Tantangan pendidikan sangat luar biasa beratnya. Kalau saat ini mendidik anak-anak tidak sesuai dengan zaman industri ini yang lebih berat dari zaman lalu, maka generasi baru tidak akan siap dalam menjalani hidup di zaman sekarang,” imbuhnya.

Allah berfirman,“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S Al-Mujadilah: 11)

Lewat ayat itu seseorang yang beriman dan berilmu memiliki derajat yang ditinggikan oleh Allah. Jelas, bahwa menuntut ilmu merupakan perintah dari Allah yang harus ditaati.

Menurutnya, untuk bermanfaat bagi sesama melalui pendidikan karakter yang langsung mengarah ke sifat dan perilaku akan gagal. Pendidikan karakter yang ideal bagi bangsa Indonesia saat ini adalah sistem nilai yang sering dilupakan. Sistem nilai yakni tujuan hidup, cita-cita hidup, prinsip hidup, kesetiaan hidup, dan komitmen hidup harus menjadi prioritas utama terwujudnya seseorang yang berbahagia dan bermanfaat. Pendidikan agama merupakan hal yang penting namun pendidikan umum juga penting sebagai usaha mengikuti perkembangan industri dan teknologi informasi yang terus berkembang.

Banyak orang yang menyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat merupakan cermin seseorang yang tidak dapat memuliakan hidupnya dan mengendalikan dirinya.