Jangan Mengaku Muslim kalau Belum Memahami Ini

Polisi membantu warga korban banjir. (dok)
17 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Dikisahkan dalam Kitab Qashasul Anbiya karya Ibnu Katsir, Nabi Sulaiman dalam perjalanan menuju Thaif bersama pasukannya termasuk pasukan binatang dan jin. Nabi Sulaiman sebagai sosok yang cerdas dan bijak terjun langsung dalam mengatur pasukannya. Saat perjalanan itu, tibalah Nabi Sulaiman di sebuah lembah yang terdapat sarang semut. Kedatangan Nabi Sulaiman membuat semut-semut itu takut terinjak. Raja semut yang berasal dari Bani Syishibban berkata kepada semut yang lain.

Allah berfirman, “Hai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu supaya kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari. (Q.S An-Naml: 18)

Nabi Sulaiman yang dapat mendengar perkataan semut itu lantas tersenyum. Nabi Sulaiman pun memahami apa yang ditakutkan oleh semut-semut itu. Lantas, Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah yang terdapat pada Q.S An-Naml: 19. “Ya Allah berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapak ku untuk mengerjakan amal saleh yang Kau ridhai. Dan masukanlah aku ke dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang saleh.”

Lantas Nabi Sulaiman meminta pasukannya untuk mencari jalan lain agar tidak mencelakai semut-semut itu. Kisah itu merupakan bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin. Bukan hanya rahmat kepada muslim, namun seluruh alam ini.

Ustaz Hamim Ilyas, saat ditemui Solopos.com di Pondok Shabran Timur UMS Surakarta, dalam kajian Bedah Buku Fiqih Akbar Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan Lil Alamin, Kamis (7/3/2019), mengatakan teologis rahmatan lil alamin yakni ajaran tentang agama, dan Islam merupakan ajaran yang rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh alam.

“Ajaran merupakan bagian dari keberagamaan karena keberagamaan itu mengetahui agama, mengakui agama, menghayati agama, menyampaikan agama, dan mengamalkan agama. Kalau mengamalkan agama sesuai dengan pengetahuan agama yang dimiliki,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu.

Ia menambahkan sebagai seorang muslim maka harus mengetahui Islam, mengakui, mengayati, menyampaikan, dan mengamalkan seluruhnya dengan agama Islam yang rahmatan lil alamin. Allah berfirman,“Dan tiadalah Allah mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S Al-Anbiya: 107)

Menurutnya, ayat itu merupakan postulat ilmu-ilmu agama Islam yang menjelaskan bahwa agama Islam bukan hanya untuk orang Islam saja namun seluruh makhuk Tuhan untuk mewujudkan hidup baik.

Ia menambahkan rahmat merupakan cinta yang ekspresinya memenuhi kebutuhan, maka Islam sebagai rahmatan lil alamin untuk mewujudkan seluruh makhluk hidup menjalankan hidupnya dengan baik. Menurutnya, hidup yang baik terbagi dalam tiga kriteria yakni sejahtera sesejahteranya, damai sedamai mungkin, dan bahagia sebahagia bahagianya.

Umat Islam wajib mengetahui bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin untuk mewujudkan hidup baik dengan tiga kriteria itu. Untuk mewujudkan kriteria itu maka dilakukan pengamalan secara rahmatan lil alamin juga untuk seluruh ciptaan Allah bukan hanya diri sendiri atau kelompok. Bahkan, semut pun mendapat rahmat dari Allah.

Menurut Ustaz penulis buku Fiqih Akbar Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan Lil Alamin itu fiqih akbar mengkaji hal-hal yang tetap dan tidak berubah dalam Islam. Hal itu yakni sistem kepercayaan, peribadatan, nilai, dan gagasan visioner. Ia berharap umat Islam memiliki sebuah sistem nilai yang dianut sehingga menimbulkan gagasannya. Sistem nilai itu akan membawa tujuan hidup jelas seorang muslim untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.