Tiga Kriteria Mati Syahid Ini Jadi Impian Banyak Umat Islam

Ilustrasi permakaman. (Solopos - Dok)
26 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Peristiwa penembakan keji yang menimpa muslim di Selandia Baru beberapa hari lalu menjadi duka seluruh umat muslim di dunia.

Meninggalnya muslim dalam keadaan setelah Salat Jumat merupakan kematian syahid akhirat. “Korban yang meninggal akibat perbuatan teroris memperoleh pahala mati syahid akhirat dan surga sebagai balasannya,” ujar Ustaz Muhammad Ilham, penyuluh di Kementerian Agama Kantor Solo, saat ditemui Solopos.com dalam kegiatannya di Kecamatan Laweyan, Solo, Kamis (21/3/2019).

Menurutnya, mati syahid merupakan seseorang yang meninggal dalam keadaan membela agama Islam. Namun, apabila meninggal dalam keadaan tidak membela agama bukan merupakan mati syahid yang sesungguhnya.

“Seperti zaman Rasulullah dalam berbagai perang seperti Perang Badar dan Uhud para sahabat dan umat Islam yang gugur merupakan mati syahid. Syahid itu dari kata syahadat atau menyaksikan, secara estimologi syahid itu orang yang dapat menyaksikan. Menyaksikan dalam hal ini pahalanya, ketika meninggal dapat melihat surga, malaikat yang menjemputnya, atau bahkan melihat perjuangannya. Ini kematian idaman bagi seluruh umat Islam,” ujar Ustaz Ilham.

Menurutnya, zaman dahulu ada seorang sahabat Nabi bernama Kalid bin Walid yang berperang melawan musuh Islam namun sangat menyesal karena ia tidak gugur di medan pertempuran. Sedangkan luka-luka yang dideritanya sangat parah. Di zaman Nabi, seluruh muslim mengorbankan jiwa dan hartanya demi agama yang bertujuan untuk mati syahid.

Ia menambahkan terdapat tiga kriteria mati syahid. Pertama, mati syahid dunia akhirat yang dialami oleh para sahabat Nabi dalam berjuang di jalan Allah lantas gugur. Saat ini konteks yang relevan dengan mati syahid dunia akhirat dialami oleh para pejuang di Palestina dalam mempertahankan agama Islam.

Terdapat kisah Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur dalam Perang Uhud karena ditombak. Hal itu merupakan kisah seseorang yang mati syahid dunia akhirat pahalanya. Darah seseorang yang mati syahid wanginya ibarat minyak kasturi. Bahkan, dalam peperangan seseorang yang mati syahid jenazahnya tidak dimandikan namun langsung dikuburkan. Mati syahid dunia akhirat merupakan idaman bagi seluruh umat namun tidak mudah untuk memerolehnya.

Kedua, mati syahid dunia. Dikisahkan saat Perang Uhud seseorang yang berjuang di jalan Allah namun tidak meniatkan diri untuk mati syahid. Peperangan diniatkannya untuk memperoleh harta rampasan perang atau gonimah. Hal itu terjadi ketika pemanah muslim yang berada di atas gunung melihat orang kafir gugur lantas berkeinginan untuk memperoleh harta orang kafir itu. “Padahal sesungguhnya itu merupakan siasat orang kafir untuk membunuh para pemanah muslim. Karena masuk perangkap, pemanah muslim gugur, itu merupakan mati syahid dunia,” lanjutnya.

Ketiga, mati syahid akhirat atau seseorang yang memperoleh pahala mati syahid seperti orang yang meninggal karena wabah penyakit, musibah yang berat, atau seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya.

Menurutnya, para korban tewas di Selandia Baru merupakan mati syahid akhirat karena sedang melaksanakan ibadah lantas terbunuh. Allah berfirman,“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka terbunuh atau membunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran.” (Q.S At Taubah : 111)

Hal itu merupakan ayat yang memberikan motivasi atau semangat juang para muslim untuk berjuang di jalan Allah meski harus gugur dalam medan perang. Turunnya ayat itu ketika seorang sahabat ketika hendak makan lalu terdengar suara panggilan jihad fi sabilillah. Ia yang sedang hendak makan menyadari bahwa makanan itu lah yang akan menghalanginya masuk ke dalam surga. Ia menaruh makanannya lalu turun ke medan perang dan ia gugur.

Menurutnya, Islam mengajarkan kedamaian dan Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan. Munculnya peperangan zaman dahulu karena Islam diperangi dan umat Islam selalu mempertahankan diri. “Namun yang perlu diingat yakni hukum qisas atau orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja tanpa alasan yang jelas maka pelaku harus memeroleh hukuman yang sama seperti yang pelaku lakukan,” katanya.

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa seseorang mengaku sebagai mati syahid namun Allah mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah dusta karena niat perangnya hanya untuk memeroleh harta. Sedangkan konteks mati syahid yakni harta, jiwa, dan agama.