Tidak Tahu Kapan Kematian Datang, Umat Islam Harus Menyiapkan Diri dengan Baik

Warga menuliskan ungkapan duka dan memberikan semangat kepada korban penembakan aksi terorisme yang terjadi di Masjid Al-Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru saat car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (17/3/2019).(Solopos - Nicolous Irawan)
27 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Solidaritas masyarakat Selandia Baru seperti ikut menjaga masjid dan berbagai apresiasi reaksi menjadi nilai positif bagi agama Islam.

Terdapat kisah ketika Nabi Muhammad sedang beristirahat di bawah pohon lalu datang seorang pemuda yang ingin membunuhnya.
Pemuda itu menempelkan pedang ke leher Nabi Muhammad. Dengan tegas pemuda itu bertanya siapa yang akan menolong Rasulullah ketika sebuah pedang sudah berada di leher beliau.

Jawaban Nabi Muhammad bahwa “Allah lah yang akan menolong” membuat tangan pemuda itu gemetar hingga pedangnya terjatuh. Nabi Muhammad mengambil pedang dan bertanya kepada pemuda dengan pertanyaan yang sama ketika pemuda itu mencoba membunuh Rasulullah.

Pemuda itu kebingungan karena tidak memiliki sandaran hidup. Nabi Muhammad tidak membunuh pemuda itu bahkan melepasnya. Akhirnya pemuda itu masuk Islam dan berjuang di jalan Allah.

Bukan hal yang tidak mungkin agama Islam yang menyebarkan pesan kedamaian justru menarik masyarakat Selandia Baru untuk memeluknya. Islam sebagai rahmatan lil alamin terlihat ketika keluarga korban tidak ada yang menyatakan mengutuk atau akan membalas perbuatan yang dilakukan teroris itu. Bahkan, keluarga justru memaafkan pelaku. Sebagai saudara muslim pernyataan berduka, berdoa, dan Salat Gaib merupakan hal yang bijak.

Pemuda Muhammadiyah Kota Barat, Ustaz Mohammad Iqbal Baehaqi, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Banjarsari, Solo, Kamis (21/3/2019), mengatakan pembantaian itu jelas merupakan aksi terorisme untuk menimbulkan rasa takut seorang muslim pergi ke masjid atau menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim.

“Jangan sampai seorang muslim takut menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab. Kejadian beberapa waktu lalu jelas menunjukkan terorisme itu bukan suatu ajaran agama. Orang-orang kafir ingin memadamkan agama Allah namun Allah selalu menjaga Islam,” ujarnya.
Ia meyakini kejadian itu merupakan sebuah cara yang Allah lakukan untuk menjaga Islam. Bukan tidak mungkin akan muncul muallaf-muallaf  baru di Selandia Baru karena penasaran dengan Islam. Pemberitaan yang menyudutkan Islam akan membuat penasaran untuk memelajari agama tersebut.

Kejadian itu tidak boleh menyurutkan umat muslim untuk tetap teguh dalam Islam. Dengan bertawakal kepada Allah menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah akan meneguhkan Iman. Seseorang tidak akan tahu kapan kematian akan datang, maka sebagai muslim harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Ia menambahkan ketika seorang muslim meninggal di hari Jumat akan husnul khatimah dan dijauhkan dari siksa kubur. Rasulullah bersabda,“Setiap muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat maka Allah berikan perlindungan baginya dari fitnah kubur.” (H.R Ahmad)

Menurutnya, di Indonesia juga seringkali muncul anggapan ketika seseorang yang memelihara jenggot adalah aliran keras atau bahkan teroris. Padahal yang beranggapan seperti itu juga merupakan seorang muslim yang juga merupakan saudaranya.
Padahal dalam Islam memelihara jenggot merupakan wujud mengikuti sunah Rasulullah. Beranggapan seperti itu perilaku teroris justru merupakan fitnah yang dilakukan kepada agamanya sendiri.

Sementara itu, cara melawan teroris seperti yang dilakukan di Selandia Baru yakni jangan sampai muncul rasa takut. Justru, kejadian beberapa waktu lalu itu menjadikan semangat untuk memperdalam ilmu agama.