Penulis Novel Ayat Ayat Cinta Bicara Empat Tipe Keluarga, Anda Termasuk yang Mana?

Bahagia menghabiskan waktu bersama keluarga. (dok)
30 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Seluruh kegiatan ibadah yang dibebankan kepada umat manusia di dunia ini tidak lagi dikerjakan ketika sudah masuk surga. Kewajiban ibadah salat lima waktu, puasa Ramadan, dan berbagai ibadah yang wajib dilakukan di dunia tidak akan wajib lagi di surga. Namun, ada suatu ibadah yang tetap dilanggengkan oleh Allah yakni bersyukur kepada Allah.

Wujud syukur penghuni surga terdapat dalam Q.S Al-Araf: 43,“Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami agama ini (Islam). Dan tiadalah kami memperoleh petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.”

Hal itu disampaikan oleh Ustaz Habiburrahman El Shirazy saat mengisi kajian di MIM Program Khusus Kartasura, Sukoharjo, pada Minggu (24/3/2019) lalu. Berkeluarga merupakan sarana untuk mendapat rida dan surga Allah. Contoh teladan keluarga untuk menjadikan Baiti Jannati yang diberi barokah oleh Allah yakni keluarga para Nabi dan Rasul, kemudian keluarga sahabat-sahabat Rasulullah, keluarga para ulama yang dekat pada Allah.

“Kalau mentadaburi, membaca Alquran yang berisi kisah-kisah keluarga para Nabi dan Rasul akan ditemukan empat tipe keluarga. Dua termasuk tipe tidak harmonis, dua masuk kategori harmonis,” ujar ustaz yang akrab dipanggil Kang Abik ini.

Tipe keluarga pertama yakni ketika suami ingin dekat kepada Allah namun istri tidak ingin dekat kepada Allah. Berarti keluarga itu telah berbeda tujuan, sehingga tidak harmonis. Dikisahkan keluarga Nabi Luth, istri Nabi Luth menentang suaminya hingga akhirnya sang istri menerima azab Allah.

Tipe keluarga kedua adalah kebalikannya, sang istri bertujuan apa pun di dunia hanya untuk Allah. Namun, sang suami justru bermaksiat dan hanya mengejar dunia. Contoh keluarga itu adalah keluarga Firaun. Istri Firaun, Asiyah, berulang kali diancam akan dibunuh ketika ketahuan beribadah kepada Allah sehingga kehidupan rumah tangga mereka bukan cerminan keluarga harmonis.

Tipe keluarga ketiga yakni contoh harmonis dalam konotasi negatif, suami dan istri sama-sama bermaksiat dan tidak taat kepada Allah. Ketika suami ingin bermaksiat, istri mendukung begitu pula sebaliknya. Contoh keluarga itu terdapat dalam Alquran yakni surat Al Lahab. Surat ini berkisah tentang paman Rasulullah, Abu Lahab yang sangat sayang kepada Muhammad. Namun, perasaan itu berubah ketika Muhammad diangkat menjadi Rasulullah. Abu Lahab dan istrinya menjadi penentang yang pertama dakwah-dakwah Rasulullah.

Ketika itu Rasulullah mendapat perintah untuk berdakwah secara terbuka melalui Bukit Shofa. Rasulullah yang berdiri di atas bukit mengajak penduduk Mekah untuk masuk Islam. Berbagai hujatan dan fitnah Abu Lahab tujukan kepada Rasulullah. Namun, Rasulullah tidak membalas perlakuan yang ia terima. Hingga akhirnya, Abu Lahab dilaknat Allah beserta istrinya yang selalu mendukung Abu Lahab bermaksiat.

Tipe keluarga keempat yakni ketika suami dan istri menyerahkan seluruh hidup di dunia hanya kepada Allah. Bukan hanya suami dan istri, melainkan mengajak seluruh keluarga besarnya untuk berserah kepada Allah dan menegakkan Agama Allah. Tipe ini merupakan contoh keluarga harmonis yang harus dijalani oleh seluruh keluarga di dunia.

Ketika suami dan istri benar-benar mengamalkan Alquran dan mencontoh kehidupan para Rasul, kelak keturunannya akan menjadi sosok yang sama-sama taat kepada Allah. Begitu juga sebaliknya, apabila berbuat maksiat kelak akan sama pula keturunannya. Maka, tipe keluarga keempat merupakan idaman untuk menuju keluarga surga.