Ingin Mendapatkan Keturunan Saleh? Yuk Berbuat Saleh Dulu

Ilustrasi anak/anak belajar mengaji. (Reuters/Romeo Ranoco)
31 Maret 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Sudah menjadi kewajiban muslim untuk mencontoh perilaku Nabi dan Rasul untuk memeroleh rida Allah. Dalam Alquran terdapat contoh uswatun khasanah yakni keluarga Nabi Ibrahim dan Baginda Rasulullah.

Nabi Ibrahim dalam kisahnya beristri Siti Hajar yang ditempatkan di sebuah lokasi yang serba susah dan tidak apa-apa. Namun, Siti Hajar tetap setia kepada Nabi Ibrahim meskipun hidup susah secara materi. Hal yang sulit ditemukan pada wanita saat ini. Nabi Ibrahim dari Palestina diperintahkan oleh Allah ke Mekah dengan mengajak istri dan anaknya.

Ketika sampai di Mekah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istri dan anaknya. Karena perintah Allah, ujian itu ia terima. Padahal Nabi Ibrahim anak itu baru saja dikaruniakan kepadanya setelah ditunggu lama. Siti Hajar juga menerima perintah Allah dengan ikhlas, meskipun air susunya sampai habis karena cuaca Mekah sangat panas. Permasalahan ketika putra Nabi Ibrahim selalu menangis yang akhirnya menjadi kisah Sa’i, Shofa, dan Marwah.

Ketika Nabi Ibrahim pulang menyusul Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail yang sudah berusia remaja. Begitu rindunya Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail setelah sekian lama tidak bertemu, namun Allah justru memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya. Nabi Ismail yang tahu itu perintah Allah, ikhlas menerimanya. Nabi Ibrahim lantas berdoa kepada Allah yang diabadikan dalam Alquran.

Allah berfirman,“Ya Allah jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Allah perkenankanlah doaku, ampunilah dosa bapak dan ibuku dan seluruh orang mukmin saat pada hari terjadinya hisab.” (Q.S Ibrahim: 40-41)

Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta, Ustaz Habiburrahman El Shirazy, saat mengisi sebuah kajian di MIM Program Khusus Kartasura, Sukoharjo, pada Minggu (24/3/2019) lalu, mengatakan kita semua dapat memetik hikmah dari kisah Nabi Ibrahim, bahwa segala perintah Allah tidak ada yang membuat sengsara.

“Tidak mungkin perintah zakat, infak, justru membuat miskin seseorang. Ayah yang baik selalu berusaha membarokahi anak-anak sampai cucunya. Yang dipikirkan jangan diri sendiri, namun keluarga sampai turunannya. Doa Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad,” ujar Kang Abik, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan Nabi Muhammad merupakan jawaban Allah akan doa-doa Nabi Ibrahim yang diminta kepada Allah. Keturunan Nabi Ibrahim seluruhnya sosok yang taat kepada Allah. Menurutnya, cara mendidik keluarga dengan amal saleh akan menurun kepada keturunannya. Amal saleh dapat mengantarkan meraih cita-cita di dunia maupun surga.

Menurutnya, jodoh merupakan bagian dari rizki yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga, jodoh akan diberikan dan telah disiapkan oleh Allah. Rizki sudah disiapkan Allah namun dengan ikhtiar, sama halnya dengan jodoh. Secara umum orang yang saleh layaknya mendapat orang yang salehah. Dalam agama islam ada istilah kufu, baik secara harta dan kecantikan. Namun yang dipahami para ulama yakni kufu dalam agama. Sehingga, ketika sedang dalam proses mencari jodoh pilihlah sosok yang kuat agamanya. Hal itu dengan cara memperbaiki amal saleh diri sendiri terlebih dahulu untuk mendapatkan pasangan yang saleh agar dapat hidup seperti keluarga Nabi Ibrahim.

Amalan untuk mendapatkan keturunan saleh yakni seseorang harus berbuat saleh juga. Ditambah doa yang luar biasa dari Nabi Ibrahim yang tidak hanya mendoakan diri sendiri saja melainkan hingga keturunannya. Menurut Kang Abik, doa dapat menggunakan ucapan sendiri saat bersujud dengan menyebut nama yang hendak didoakan.

Selain didoakan, putra-putri harus dididik dengan menggunakan keteladanan atau contoh. Nabi Ismail didik oleh Nabi Ibrahim menggunakan contoh. Ketika membangun Kabah, Nabi Ibrahim mengajak serta dalam membangun Kabah. Nantinya, kisah yang dialami itu akan diceritakan sebagai teladan kepada turunannya.

Menurutnya, ketika ulama memiliki seorang anak pasti anaknya akan diajak duduk atau bergaul dengan ulama-ulama lainnya. Hal itu agar seorang anak dapat praktik langsung untuk melihat tingkah laku ulama itu. Dengan keteladanan, orang tua harus berikhtiar agar dapat menjadi contoh, namun apabila sebagai orang tua merasa tidak dapat memberikan keteladanan secara baik, maka sebagai ikhtiar dapat meletakkan anak di tempat yang penuh dengan suri tauladan.