Lakukan Ini Sebelum Anak Kecanduan Gawai

ilustrasi mendampingi anak berinternet - fastlegacy.com
06 April 2019 05:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO--Seorang remaja berusia 14 tahun tak bertanggung jawab memesan makanan melalui jasa ojek berbasis aplikasi online. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, ia diketahui melakukan tindakan usil tersebut selama 185 kali selama tiga pekan. Pekan ini aksinya dibongkar puluhan pengemudi ojek online.

Belum lama ini, video berjudul My Story : Stuggling, Bullying, Suicide, Self Harm diunggah pemilik akun TheSomebodytoknow di Youtube. Video yang ditonton belasan juta orang tersebut menampilkan kisah hidup perempuan berusia 15 tahun yang menjadi korban perundungan saat ia duduk di bangku SMP.

Perundungan bermula saat perempuan ini iseng mengobrol dengan pria asing di sebuah situs kencan. Di sela-sela obrolan yang mengalir, si pria memintanya membuka kaus dan menunjukkan bagian dadanya. Perempuan tersebut menurutinya.

Setahun berselang, pria asing itu kembali meneror perempuan tersebut dengan ancaman menyebarluaskan foto setengah telanjangnya jika si perempuan tidak mau menuruti keinginan bejatnya. Namun perempuan itu menolaknya. Ancaman revenge porn itu akhirnya berbuah foto pribadinya tersebar luas.

Foto tersebut akhirnya tersebar luas. Perempuan tersebut menerima banyak hujatan dan perundungan. Ia pun bunuh diri sebulan setelah mengunggah video My Story : Stuggling, Bullying, Suicide, Self Harm.

Kasus tersebut baru seujung kuku di antara tumpukan persoalan yang dihadapi anak-anak di era digital. Sejumlah orang tua pun dibuat prihatin melihat kasus yang bermula dari minimnya pendampingan ayah dan ibu di rimba digital anak-anak mereka.

Salah satunya Rina. Ibu satu anak yang kini duduk di bangku kelas V sekolah dasar ini, berkukuh tidak memberikan gawai khusus kepada putrinya. Padahal teman-teman satu sekolah anaknya jamak dibekali gawai pribadi untuk kepentingan praktis berkomunikasi.

“Aku rasa, sebelum dia SMP belum saatnya punya HP sendiri. Anak di bawah usia itu belum bisa menyaring mana baik dan buruk. Itu nanti ketika dibelikan juga di bawah pengawasan ketat,” tuturnya.

Kendati terbilang konservatif untuk urusan gawai, Rina mengaku tetap memberikan akses minim kepada si kecil. Ia memperbolehkan anaknya membuka mesin pencarian lewat laptop yang disediakan di ruang keluarga. “Biasanya dia hanya googling. Itu pun kami semua bisa mengintip apa saja yang dibuka. Kebanyakan sih cerita dari majalah anak daring. Dulu juga pernah bikin akun Instagram. Tapi ditegur ayahnya karena kan Instagram tidak untuk anak di bawah umur,” jelasnya.

Menurut Rina, sementara ini putrinya tidak memprotes saat tidak diberi gawai pribadi dan hanya diberi akses minimal untuk berinternet. “Dulu kebetulan dia ikut seri Why. Dia baca biografi Steve Jobs yang bikin Apple saja anaknya enggak dikasih HP. Dari situ dia jadi mikir ternyata HP enggak baik untuk anak,” katanya.

Rina mengatakan agar putrinya tidak merasa kecil hati atau ketinggalan dari teman-temannya, ia tetap diberi akses untuk kepentingan mengobrol secara online dengan teman-temannya dengan menumpang di gawai sang mama. “Dia tetap ikutin grup WA teman kelasnya pakai HP mama. Kalau mau like, atau comment, atau ikut kuis pakai Instagram-ku. Untuk lomba dan sebagainya pakai email-ku. Dia jadi enggak gimana-gimana,” tuturnya.

Rina berpendapat anak seusia putrinya perlu dikenalkan dengan bahaya yang mengintai di media sosial. Salah satunya bagaimana menyikapi orang pamer, menanggapi bujukan orang tidak dikenal, konten tidak pantas, perundungan, sampai belajar dari anak SMP nge-prank guru sekolahnya. “Dulu pernah ikut-ikutan Ria Ricis pas zaman squishy di Youtube. Aku sempat jelaskan enggak baik squishy mahal dibuang ke WC. Terus nekat ngotot beli. Kusuruh pakai uang sendiri. Lama-lama kapok duitnya habis buat squishy saja,” ujar dia.

Pengalaman mendampingi anak beranjak dewasa dialami Wina. Ibu dua putri yang kini berusia 13 tahun dan 16 tahun ini juga baru memberikan gawai kepada anak-anaknya saat mereka masuk SMP. Sebelum resmi memegang gawai mandiri, Wina menerapkan aturan batasan waktu, kuota, dan media sosial.

“Aku wanti-wanti jangan posting gambar diri terlalu sering karena banyak predator. Mereka jadi inisiatif sendiri kalau foto enggak full muka. Aku juga tanya apa saja yang dilihat di Instagram. Kadang kami juga diskusikan komentar di media sosial. Paling krusial anak enggak boleh geo-tagging pas posting,” jelasnya.

Menurut Wina, semakin besar anak-anaknya, ruang diskusi termasuk urusan media sosial wajib diperbanyak. “Kami banyak belajar dari lingkungan. Kebetulan anakku suka K-pop. Itu jadi bahan diskusi mulai dari bunuh diri, depresi, stigma gangguan jiwa, sampai cyberbully,” ujarnya.

Wina juga rajin mengingatkan putri-putrinya soal jejak digital. Bagaimana segala sesuatu yang sudah diunggah itu tidak mungkin bisa hilang, jadi butuh kebijaksanaan sebelum mengunggah. Selain itu, dunia maya kini juga punya jaring hukum. Perlu bertindak hati-hati agar tidak tersandung kasus hukum.