Perintah Salat Diperingan dari 50 Menjadi 5 Waktu, Masih Berani Menyepelekan?

Menyegerakan salat di waktu awal sangat dianjurkan dalam Islam. (dok)
07 April 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Umat Islam memiliki kewajiban menjalankan ibadah salat lima waktu melalui Isra Miraj. Peristiwa Isra Miraj adalah perjalanan mulia Nabi Muhammad dari Mekah ke Masjidil Aqsha lalu menuju ke Sidratul Muntaha.

Umat Islam semula diperintahkan Allah untuk menjalankan salat lima puluh waktu, namun dalam peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad meminta keringanan hingga Allah memberikan keringanan menjadi lima waktu. Allah yang Maha Pemurah sudah mengizinkan hambanya untuk menjalankan salat lima waktu, namun kenyataannya seringkali masih ditinggalkan oleh umat manusia. Bisa kita bayangkan, betapa repotnya manusia jika benar-benar harus menunaikan salat hingga lima puluh waktu.

Ustazah Sw Winarsih saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Banjarsari, Solo, Kamis (4/4/2019) pagi, mengatakan orang-orang yang meninggalkan salat jelas akan mendapat siksaan yang pedih di akhirat. Allah telah memberikan kemudahan yang banyak agar hambanya tetap menjalankan ibadah salat. Meskipun, sedang bepergian jauh atau dalam keadaan sakit keras.

“Dalam Isra Miraj, Nabi Muhammad menerima wahyu salat dari langsung dari Allah. Salat lima waktu saja masih banyak beberapa orang yang berani meninggalkan. Padahal itu cerminan perilaku diri sendiri. Apabila sering menunda-nunda salat mungkin Allah juga akan menunda-nunda kebutuhan manusia,” ujarnya.

Dapat dikatakan, seseorang yang suka menunda salat dalam kehidupan sehari-hari pasti sering membuang waktu. Allah berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan salat dan menuruti hawa nafsunya, maka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam: 59)

Ia menambahkan, menurut Al Haadfidz Ibnu Katsir, terdapat tiga kategori seseorang yang lalai dalam salatnya. Pertama, seseorang yang sengaja menunda salat di awal waktu sehingga salat selalu di waktu akhir. Lalu, orang yang sengaja tidak menjalankan salat sesuai syariat yang telah dicontohkan Nabi Muhammad. Kemudian, orang yang tidak khusyu dalam salat atau tidak merenungi bacaan doa salat. Apabila masuk ke dalam salah satu dari tiga golongan manusia itu, azab yang menanti telah diriwayatkan Rasulullah.

Rasulullah bersabda, “Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring dan ada juga yang lain yang berdiri sambil membawa batu besar, tiba-tiba orang tersebut menjatuhkan batu besar tadi ke kepala laki-laki yang sedang berbaring dan memecahkan kepalanya sehingga berhamburanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal tersebut sampai kepalanya utuh kembali seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti pertama kali.” (H.R. Bukhari)

Dalam penjelasan hadis itu laki-laki tersebut merupakan orang yang mengambil Alquran namun menolaknya dan ia merupakan orang yang tidur untuk meninggalkan salat wajib.

Ia menambahkan salat merupakan sarana komunikasi kepada Allah sang Pencipta. Ketika seseorang dipanggil oleh pejabat atau pimpinan pasti akan dengan cepat menghadap dan memakai pakaian yang serba rapi. Maka sudah semestinya, ketika seseorang menghadap Allah harus pula disegerakan apa pun aktivitasnya. Menurutnya, dari takbiratul ihram dalam salat hingga salam, seluruh bacaannya merupakan doa kepada Allah. Inti dari salat berada saat duduk di antara dua sujud, arti bacaan untuk meluaskan rezeki, mendapat ampunan dari Allah, dan memohon kesehatan.

Ketika sedang berkomunikasi dengan Allah maka gerakan dalam melaksanakan salat harus tumaninah. Dengan tumaninah gerakan yang perlahan dan membaca doa salat jangan sampai tergesa-gesa, diibaratkan memberi waktu Allah untuk menjawab doa-doa seseorang.

“Terlepas akan dikabulkan langsung, besok, atau lusa Allah yang Maha Tahu. Allah tidak akan memberi sesuai keinginan namun kebutuhan. Kalau Allah menanganggap doa yang dipanjatkan belum saatnya dikabulkan itu ada doa yang tertunda, suatu saat pasti akan dikabulkan,” ujarnya.

Ia menegaskan seperti halnya doa, orang yang tidak salat merupakan sosok yang sombong kepada Allah. Seolah, seseorang yang tidak salat sudah tidak membutuhkan Allah. Menurutnya, Allah memiliki prioritas sendiri dalam menilai doa-doa yang dipanjatkan.