Sisipkan Permainan Agar Anak Tak Bosan Belajar

Anak-anak belajar mewarnai kain batik dalam acara Batik Week 2018 saat car free day (CFD) di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (22/7 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
10 April 2019 09:30 WIB Reni Lestari Lifestyle Share :

Solopos.com, JAKARTA - Bagi anak-anak, belajar bisa jadi merupakan momok memberatkan. Namun, hal tersebut bisa disiasati orang tua dengan memadukan unsur bermain pada proses belajar.

Tyna Kana Mirdad, Beauty and Parenting Influencer mengatakan, orang tua bisa menyisipkan pembelajaran di sela-sela permainan. Misalnya yang baru-baru ini sering dilakukannya adalah saat membuat mainan slime bersama dua anaknya, Alaia dan Aluna.

Proses pembuatan slime, lanjut Tyna, membutuhkan akurasi komposisi bahan-bahan yang tepat, yakni antara lem dan borax. Sehingga anak-anak bisa sekaligus belajar matematika.

"Jadi hal-hal kecil seperti itu yang nyangkut ke dia. Di mana pun saya bareng anak berusaha untuk ngulik, apa pun yang ada di sekitar kita, dimanfaatkan untuk belajar anak," kata Tyna.

Tyna membenarkan menjadi orang tua masa kini harus sangat kreatif, terutama dalam menciptakan media belajar bagi anak-anak. Tyna mengaku seringkali harus belajar sesuatu terlebih dahulu kemudian menyampaikan hal tersebut pada dua anaknya. Menurut Tyna terkadang orang tua perlu melakukan improvisasi dalam hal menyediakan media belajar bagi anak.

Namun demikian, dia pun mengaku sering buntuk untuk menemukan ide pembelajaran bagi anak-anaknya. Hal itu bisa disiasati dengan menggunakan barang-barang yang ada dan dikreasikan menjadi sesuatu yang bernilai pembelajaran. Dia juga mengatakan, di era teknologi saat ini, bukan hal yang sulit untuk berselancar di Internet dan mendapatkan ide bagi banyak hal, termasuk pembelajaran bagi anak. Selain itu, Vera menambahkan, dalam hal ini anak bisa dilibatkan.

"Jangan underestimate anak, karena ide itu bisa datang dari anak. Coba saja sesekali tanya mereka punya ide apa dan mau ngapain," ujarnya.

Melalui proses belajar, anak juga bisa dilatih sikap kemandiriannya. Misalkan ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR), orang tua sebaiknya bertanya kepada anak pukul berapa dia hendak menyelesaikan tiga tersebut. Hal itu dimaksudkan agar anak memiliki komitmen atas apa yang sudah diucapkannya.

Sumber : Bisnis.com