Agar Doa Cepat Dikabulkan, Kenapa Manusia Seringkali Bernazar?

Mengucap janji atau nazar karena telah terkabul keinginannya, maka hukumnya wajib untuk ditunaikan. (dok)
13 April 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Untuk meraih sesuatu yang dikehendaki, seorang muslim dianjurkan untuk berdoa kepada Allah. Di sisi lain, untuk merayu Allah agar doa cepat dikabulkan, manusia seringkali juga bernazar ketika sesuatu yang diinginkan telah terwujud.

Nazar merupakan janji kepada diri sendiri yang harus ditepati karena dalam nazar, Allah menjadi saksi. Dalam kehidupan sehari-sehari misalnya ketika lulus ujian, kemudian bernazar berpuasa Senin dan Kamis selama tiga bulan. Maka, setelah apa yang diinginkan terkabul nazar itu wajib dilakukan.

Allah berfirman,“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S An-Nahl: 91)

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menjadi saksi setiap perjanjian-perjanjian yang dilakukan, termasuk nazar.

Ustazah Esti Ambar saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (11/4/2019), mengatakan nazar merupakan suatu hal yang tidak wajib. Namun ketika kalimat nazar sudah dilakukan, maka wajib hukumnya untuk menepati hal itu.

“Nazar lebih cenderung berjanji kepada diri sendiri dan kepada Allah sebagai saksi. Walaupun tidak ada orang yang tahu, namun Allah Maha Mengetahui. Kalau melanggar sama saja meremehkan Allah yang bersaksi atas perjanjian itu,” ujarnya.

Setiap perjanjian, nazar atau sumpah yang dilakukan boleh dilakukan selama tidak melanggar syariat Allah. Ketika sudah terjadi perjanjian itu maka wajib untuk membulatkan tekad memenuhi janji. Menurutnya, janji merupakan sebuah akad yang mengikat baik yang mengucap maupun yang menerima janji itu.

Dalam kisah Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah melarang manusia untuk bernazar sebab nazar tidak akan menolak sesuatu atau mengubah takdir. Dan itu dilakukan oleh orang yang bakhil dalam beramal. Namun, nazar yang dilakukan semata-mata ketaatan kepada Allah diperbolehkan. Rasulullah bersabda,“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah maka penuhilah nazar itu. Barang siapa yang bernazar untuk bermaksiat maka janganlah melakukan itu.” (H.R Bukhari)

Sebagai orang yang beriman tentunya akan mengingat dengan baik apa yang telah dijanjikan atau dinazarkan. Sehingga, orang beriman mengetahui betul dan telah menimbang secara matang apa yang diucapkan agar tidak terjerumus dalam golongan orang munafik.

Seringkali nazar diartikan sebagai suatu hal yang akan membuat doa-doanya terkabul. Sedangkan untuk mencapai suatu keinginan, manusia kerap meminta dukungan kepada Allah dengan doa yang baik. Untuk itu, kata dia, dalam berdoa sebaiknya harus fokus kepada Allah dan tidak memiliki jalan pikiran lain. Meskipun belum dikabulkan, jangan sampai merasa jenuh dalam berdoa sebab kehendak Allah sesuai waktunya diiringi dengan bekerja keras, berupaya, dan berikhtiar kepada Allah.