Gemar Berjanji? Awas, Jangan Sampai Masuk Golongan Orang Munafik

Janji yang terucap, harus dipenuhi. (dok)
14 April 2019 03:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Mengucap janji kepada sesama manusia merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, persoalan sekecil apa pun yang dilandasi dengan janji wajib hukumnya untuk ditepati.

Contoh yang kecil, dalam kehidupan sehari-hari orang tua kadang berjanji akan membelikan sesuatu agar anaknya yang rewel berhenti menangis atau berhasil melakukan suatu hal yang menyenangkannya. Meskipun janji itu dari orang tua kepada anak, namun Allah tetap menjadi saksi atas perjanjian itu.

Ustazah Pebri Ike Yulaikah, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Banjarsari, Solo, Kamis (11/4/2019), mengatakan ketika seseorang sudah berjanji baik mengucap maupun di dalam hati harus berusaha menepati janjinya. Berusaha menjadi sesuatu hal yang ditekankan. Jika sudah berusaha untuk menepati janji namun Allah mengubah skenarionya hingga membuat janji itu tidak ditepati, setidaknya kita sudah berusaha menepati janjinya. Menurutnya, ketika orang sudah berjanji namun tidak berusaha untuk menepati atau cenderung abai itu termasuk ciri-ciri orang munafik.

Rasulullah bersabda,“Ciri orang munafik ada tiga apabila ia berucap ia berdusta, jika membuat janji tidak ditepati, dan apabila dipercayai berkhianat.” (H.R Bukhari)

Dalam hadis itu disebutkan apabila berjanji tidak ditepati merupakan ciri-ciri orang munafik. Ustazah Pebri menambahkan hukuman bagi orang munafik ialah neraka yang paling dalam. “Ketika berucap apalagi mengucap janji harus menimbang apa yang diucapkan dahulu. Jangan sampai ketika merasa tidak mampu namun nekat untuk mengucap janji. Janji yang sudah terucap wajib ditepati. Hasilnya, janji yang terucap tidak ada niat untuk ditepati, jangan sampai masuk ke dalam golongan orang munafik, neraka hukumannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan ketika seorang guru menjanjikan kepada muridnya membelikan buku. Namun, di dalam batinnya guru itu tidak memiliki uang untuk menepati yang akhirnya diabaikan. Maka, ucapan janji kecil seperti itu harus diwaspadai. Berbeda ketika seorang guru tadi sudah memiliki niat untuk menepatinya namun di tengah jalan uang yang hendak digunakan tiba-tiba dibutuhkan. Hingga akhirnya menunda menepati janji itu, Allah sudah dapat menilai apakah seseorang itu tadi masuk ke dalam golongan munafik atau bukan.

Pada saat menjelang Pemilu seperti saat ini, banyak sekali janji yang terucap saat kampanye. Ketika sudah mendapat amanah untuk menjabat maka janji-janji yang sudah diucapkan saat kampanye wajib hukumnya untuk ditepati. Kalau tidak ada upaya untuk menepati maka masuk dalam golongan orang munafik karena tidak dapat menjaga amanah dan mengucap janji dusta.

Menurutnya, sebagai orang yang dijanjikan sesuatu jangan ragu untuk menagih janji yang sudah terucap. Hal itu merupakan wujud rasa sayang mengingatkan dan menyelamatkan seseorang yang sudah berjanji dari api neraka.

Allah berfirman,“Dan penuhilah janji, itu diminta pertanggungjawaban-Nya.” (Q.S Al-Isra:34)

Seringkali pula, kultur masyarakat Jawa yakni budaya ewuh pekewuh dibentengi dengan kalimat insya Allah. Makna kalimat itu menjadi bergeser yakni suatu kalimat untuk menyatakaan ketidakmampuan dengan halus. Ketika seseorang merasa tidak mampu memenuhi janjinya karena sungkan dengan yang dijanjikan maka mengucap insya Allah, padahal jelas-jelas ia merasa tidak mampu.

Menurut ustazah Pebri kalimat itu justru lebih mengikat karena membawa nama Allah. Kalimat insya Allah yang berati jika Allah menghendaki, bisa berarti akan meremehkan bantuan Allah yang sebenarnya telah menghendaki seseorang untuk menepati kalimat itu. Sedangkan kalimat insya Allah merupakan kalimat yang merupakan janji, hal itu karena seseorang tidak tahu apa yang ada di depan kita hendak menepati janjinya.